Penangkaran 500 Babon Sapi Unggul di Engrekang

Jawapos.com- Harga jual daging sapi Rp 120 ribu lebih, dinilai Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) terlalu mahal. Pemicunya stok daging bertumpu sapi impor. Untuk mengatasinya mereka mulai penangkaran sapi unggul di enam provinsi. Dimulai dari Kabupaten Engrekang, Sulawesi Selatan.

Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti Jumain Appe menuturkan, jika stok daging didapat dari sapi dalam negeri, harganya bisa ditekan menjadi sekitar Rp 60 ribu sampai Rp 65 ribu per kg. Menurutnya impor sapi menimbuklan konsekuensi biaya angkut dan komisi broker. ’’Impor daging sapi memang menggiurkan,’’ katanya di Jakarta.

Namun Jumain mengatakan ketahanan pangan di sektor daging sapi harus segera dibangun. Salah satunya Kemenristekdikti menginisiasi penangkaran sapi unggul. Sapi ini merupakan hasil kerjasama riset antara Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan PT Karya Anugrah Rumpin (KAR). Lokasi penangkaran sapi unggulan ini akan disebar di Sulawesi Selatan, NTB, NTT, Lampung, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

’’Pembukaan penangkaran perdana ada di Enrekang, Sulawesi Selatan. Akan diresmikan 23 Februari ini,’’ jelasnya. Untuk lokasi pertama ini, pengelolanya adalah Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar. Jumain mengatakan sebagai perguruan tinggi negeri badan hukum (PTN BH), Unhas diberi izin untuk mendirikan badan usaha.

Sebagai permulaan akan ditangkarkan 500 ekor babon atau sapi betina kualitas unggul. Kemudian sapi betina ini akan di-inseminasi buatan (kawin suntik) dengan sperma hasil riset PT KAR dan LIPI. Pada tahap awal ini, diupayakan kelahiran perdana adalah sapi betina semua. Menurut Jumain, stok sapi betina saat ini masih minim.

Jumain menjelaskan sperma sapi dari PT KAR sangat bagus. Menurutnya untuk sapi berumur 2 tahun bisa memiliki bobot hingga 500 kg. Sedangkan untuk sapi yang berukuran 3 tahun bobotnya bisa sampai 800 kg sampai 1 ton. Dia berharap proses penangkaran ini berjalan dengan baik, sehingga bisa menutup kran impor sapi dari Australia dan negara lainnya.

Peneliti senior LIPI Syahruddin Said mengatakan mereka tidak membuat rekayasa genetika untuk menghasilkan sapi unggul itu. ’’Yang kita lakukan adalah perbaikan genetik ternak melalui seleksi terarah,’’ jelasnya. Cara ini diawali dengan deteksi sifat unggul sapi, kemudian dijadikan proses seleksi.

’’Hasil kelahiran pertama adalah sapi turunan Belgian Blue. Potensi bobot badanya 1,5 ton pada umur 1,5 tahun,’’ jelasnya. Syahruddin menuturkan LIPI sebagai lembaga riset memiliki komitmen untuk menciptakan swasembada pangan, khususnya sapi di republik ini. (wan)

» Sumber : Jawapos.com, 17 Februari 2016

Genetically engineered rice with high levels of iron and zinc is developed

Inez Slamet-Loedin, IRRI senior scientist, is a member of the six-nation team doing this important research. (Photo: William Sta Clara, IRRI)A transdisciplinary group of scientists has succeeded in increasing iron (Fe) and zinc (Zn) levels in rice through biofortification—a breakthrough in the global fight against micronutrient deficiency or “hidden hunger.” Their research was recently published in Nature‘s Scientific Reports.

According to the World Health Organization, Fe deficiency is the most pervasive form of malnutrition and a leading cause of anemia in women and children. Zn deficiency causes stunting and has serious consequences for health, particularly during childhood.

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI