Print

Bio Farma-LIPI Kembangkan Obat Ginjal Generasi Kedua

Selasa, 29 Desember 2015

BANDUNG - PT Bio Farma (Persero) bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonsia (LIPI) mengembangkan pembuatan erythropoetin (EPO) generasi kedua. Obat untuk penyakit ginjal, kemoterapi, dan anemia tersebut akan diluncurkan dalam beberapa tahun ke depan.

"Konsorsium ini merupakan kelanjutan dari konsorsium erythtropoetin yang merupakan bagian dari insentif riset dan sistem inovasi nasional. Produk ini nantinya akan berguna untuk pengobatan gagal ginjal, kemoterapi, dan juga anemia," kata Kepala LIPI Prof Dr Iskandar Zulkarnain di sela penyerahan research cell bank (RCB) kepada Bio Farma di Bandung, Senin (28/12).

Iskandar menyebutkan, pengembangan EPO tersebut merupakan bagian dari insentif riset sistem inobasi nasional (insinas) Kementerian Ristek dan Dikti dan telah berlangsung sejak 2012. Konsorsium EPO merupakan tindak lanjut dari konsorsium pada Forum Riset Vaksin Nasional (FRVN).

Kerja sama antara LIPI dengan Bio Farma itu ditandai dengan penyerahan RCB EPO dari P2 Bioteknologi LIPI kepada Bio Farma yang nantinya akan mengembangkannya jadi produk.

Hingga tahapan sekarang, proyek tersebut telah mendapatkan izin dari Balai POM. Karena itu, selanjutnya, Bio Farma akan mellakukan karakterisasi dan pengembangan berikutnya pada RCB, sehingga siap diproduksi.

"Riset EPO ini telah berlangsung selama sepuluh tahun, butuh waktu empat tahun hingga ke uji klinis. Ini sebuah sejarah tersendiri bagi riset di Indonesia," tambah Iskandar Zulkarnain.

Sementara itu, Direktur Utama PT Bio Farma Iskandar menyatakan akan melanjutkan penelitian yang dilakukan oleh LIPI Biotek Cibinong itu, terutama untuk tahap karakterisasi dari RCB dan uji lainnya.

"Bio Farma akan meneruskan apa yang sudah LIPI kerjakan, terutama untuk tahapan karakterisasi lanjutan agar done dapat memenuhi aspek regulasi," katanya.

Selanjutnya, pihaknya akan masuk pada fase pengembangan baik nonkinikal maupun clinical development. "Mudah-mudahan dalam beberapa tahun mendatang sudah siap untuk dijadikan produk yang dapat membantu terapi pasien cuci carah, kemoterapi, dan anemia," kata Iskandar.

Sementara itu, peneliti P2 Bioteknologi LIPI Dr Adi Santoso, menyebutkan, EPO generasi kedua darbepoetin alfa memiliki beberapa keunggulan, antara lain waktu paruh yang lebih lama dari erythropoetin generasi pertama.Menurut dia, darbepoetin berfungsi untuk menstimulasi erythropoesis atau pembentukan sel darah merah dan digunakan untuk pengobatan anemia berat yang disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kemoterapi.

"Pada penderita gagal ginjal, sel-sel yang menghasilkan erythropoetin tidak menghasilkan EPO dalam jumlah yang banyak. Sedangkan pada kemoterapi, zat yang digunakan akan menghalangi pematangan sel-sel darah merah yang baru," kata" Adi, yang jebolan perguruan tinggi di Amerika Serikat.

Ia menyebutkan, EPO generasi kedua yang akan diproduksi memiliki keunggulan dengan lima elemen. Sedangkan EPO generasi pertama hanya ada tiga elemen saja.

Sementara itu, peneliti ahli pengembangan produk Bio Farma Dr Neni Nurainy menyatakan, waktu paruh yang diperlukan, sehingga kadar obat yang masuk dalam tubuh mencapai setengah dari jumlah yang diberikan.

Keunggulan dari darbepoetin pada gugus gula yang lebih banyak dibandingkan EPO generasi pertama, sehingga memiliki karekter waktu paruh dalam darah yang lebih lama. "Dengan demikian, frekuensi pemberian yang diberikan kepada pasien dapat ditekan, dari dua kali dalam seminggu menjadi cukup sekali dalam seminggu," kata Neni. (ant)

» Sumber : Investor Daily Indonesia, edisi 29 Desember 2015. Hal: 28

» Info lanjut : Adi Santoso

 

Print

Darbepoetin Berpotensi Jadi Terapi Gagal Ginjal

Rabu, 30 Desember 2015
BANDUNG, KOMPAS - Darbepoetin generasi II eritropoetin, temuan peneliti di Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, akan diproduksi PT Biofarma. Penggunaan darbepoetin berpotensi meningkatkan harapan hidup pasien gagal ginjal.

Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Bambang Sunarko memaparkan, agar darbepoetin diproduksi pihaknya mengembangkan gen darbepoetin sintetik bersumber dari Bank Sel Riset (RCB). Penyerahan RCB kepada Biofarma dilakukan di Bandung, Jawa Barat, Senin (28/12). Acara tersebut dihadiri Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain.

"Gen yang dikembangkan berasal dari gen mamalia yang punya kemiripan dengan gen di tubuh manusia yang berfungsi produksi eritropoetin," kata Bambang.

Nama sel atau gen mamalia ialah CHO DG44. Gen EPO itu diperoleh secara sintetik yang dipesan pada perusahaan DNA 2.0. Secara alamiah, tubuh manusia memproduksi protein tersebut Namun, yang dikembangkan LIPI ialah produksi EPO dalam sel DG44. "RCB yang diserahkan ke Biofarma ialah sel DG44 yang mengandung protein EPO manusia," kata peneliti Pustlit Bioteknologi UPI, Ning Herawati.

Direktur Utama Biofarma Iskandar mengatakan, sebelum diproduksi akan dilakukan karakterisasi gen RCB dan pengujian. "Biofarma meneruskan karakterisasi RCB yang sebelumnya dilakukan LIPI berskala laboratorium. Karakterisasi lanjutan butuh 6 bulan," ujarnya.

Karakterisasi lanjutan bertujuan meningkatkan kestabilan RCB yang memproduksi darbepoetin sehingga berkinerja konstan saat diproduksi massal di pabrik. Setelah produksi stabil, skala ditingkatkan. Itu butuh 3 tahun.

Sebelum dilempar ke pasar, uji klinis akan dilakukan setahun demi menjamin keamanan produk. Setelah 4 tahun percobaan, baru bisa produksi komersial darbepoetin. yakni Darbepoetin alfa.

Ahli Utama Pengembangan Produk Biofarma, Neni Nurainy. menjelaskan, darbepoetin punya gugus gula lebih banyak daripada EPO generasi pertama. Jadi frekuensi pemberian ke pasien sekali seminggu. "Pada obat EPO generasi sebelumnya, dosis 2 kali seminggu. Darbepoetin 2 kali lebih efektif," ujarnya.

Darbepoetin dan obat EPO terdahulu berfungsi menstimulasi pembentukan sel darah merah di tubuh. Itu untuk mengobati anemia berat yang kerap dialami pasien gagal ginjal dan yang dikemoterapi Pada pasien itu, jumlah eritropoetin tak diproduksi ginjal tak cukup.

Menurut Bambang, riset EPO dilakukan sejak 2005. melibatkan Konsorsium EPO, bagian dari Forum Riset Vaksin Nasional Konsorsium antara lain terdiri dari peneliti di Puslit Bioteknologi LIPI, Universitas Gadjah Mada, dan Biofarma Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Enny Sudarmonowati menilai kerja sama penelitian lembaga riset dan industri penting untuk hi-lirisasi inovasi (YUN/CHE)

» Sumber : Kompas, edisi 30 Desember 2015. Hal: 14

Print

LIPI Gandeng Biofarma Kembangkan Obat Anemia

Rabu, 30 Desember 2015

BANDUNG - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan Biofarma mengembangkan erythropoietin (EPO) generasi kedua sebagai obat anemia bagi pasien gagal ginjal. Generasi kedua ini diklaim memiliki waktu paruh yang relatif lebih lama sehingga lebih efektif dan jauh lebih hemat.

Tahapan pengembangan EPO generasi ke dua menjadi obat ditandai dengan penyerahan research cell bank (RCB) dari LIPI ke Biofarma di Bandung, Senin (28/12). Perusahaan farmasi milik pemerintah ini. nantinya yang akan mengembangkan cell bank untuk EPO generasi ke dua ini menjadi obat.

"Biofarma akan meneruskan penelitian yang dilakukan oleh LIPI, mudah mudahan dalam beberapa tahun mendatang sudah siap dijadikan produk," kata Iskandar, Direktur Utama Biofarma di Bandung, kemarin.

Menurutnya masih ada sejumlah riset lanjutan yang akan di lakukan oleh bio farma seperti uji karakterisasi, pengujian klinis dan pra klinis hingga cell bank ini bisa menjadi obat komersial. "Paling tidak dalam tiga empat tahun kedepan semoga sudah bisa di pasarkan," tambah Iskandar.

Bagi Biofarma sendiri pengembangan EPO generasi ke dua ini merupakan proyek pertama, pasalnya selama ini perusahaan farmasi milik negara ini lebih cenderung mengembangkan vaksin. "Kita masih memerlukan sekitar 60-an miliar lagi untuk mengembangkan cell bank ini menjadi obat" tambah Iskandar.

Selama ini, kebutuhan akan obat berbasis EPO ini mencapai 200 ribu dosis per tahunnya. Indonesia mengimpor obat tersebut dari Amerika, Korea dan China. nik/E-3

» Sumber : Koran Jakarta, edisi 30 Desember 2015. Hal: 4

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI