Print

Curcumin Analog Pentagamavunon-1 (PGV-1) Sensitizes Widr Cells to 5-Fluorouracil through Inhibition of NF-κB Activation

 Edy Meiyanto, Endah Puji Septisetyani, Yonika Arum Larasati, Masashi Kawaichi

 Asian Pacific Journal of Cancer Prevention, Vol 19, Issue 1, January 2018: 49-56

curcuminCell cycle regulation and the NF-κB pathway in cancer cells are important in mediating resistance to 5-Fluorouracil (5-FU). Pentagamavunon-1 (PGV-1), a curcumin analog, is known to exhibit stronger growth inhibitory effects than curcumin itself in several cancer cells. In this study, we evaluated the potency of PGV-1 in combination with 5-FU in WiDr colon cancer cells. In MTT assays, PGV-1 did not only exhibit stronger growth inhibitory effects than both 5-FU and curcumin but also enhanced the cytotoxicity of 5-FU. Flow cytometry demonstrated that single treatments with PGV-1 and 5-FU resulted in different effects on cell cycle profiles. PGV-1 induced G2/M arrest while 5-FU caused S-phase arrest at low concentration (1 μM) and G1-phase arrest at high concentration (100 μM). Interestingly, the combination of 5-FU and PGV-1 enhanced cell accumulation in S-phase. Although a single treatment with either 5-FU or PGV-1 increased cyclin D1 at the protein level, the combination treatment resulted in significant suppression. In addition, PGV-1 inhibited activation of NF-κB and suppressed the expression of cyclooxygenase-2, an NF-κB downstream protein. In conclusion, PGV-1 increased the cytotoxic effect of 5-FU on WiDr cells through inhibition of NF-κB activation.

Keywords: Cell cycle, 5−fluorouracil, NF, κB, PGV−1, WiDr cells

Katalog : http://perpus.biotek.lipi.go.id/index.php?p=fstream&fid=3298&bid=15766

Disusun oleh: Ludya AB / Pustakawan

Print

Alk Positif Sebagai Penunjuk Pengobatan Terapi Target Pada Pasien Kanker Paru

AsepPemeriksaan mengenai perubahan karakteristik susunan gen(mutasi) pada sampel sel kanker pasien kanker paru telah masuk ke dalam panduan diagnosis pasien sebelum menjalani terapi pengobatan. Hal ini dilakukan agar pasien memperoleh jenis pengobatan yang tepat, sehingga dapat meningkatkan angka tahan hidup pasien. Jenis pengobatan berbasis terapi target dengan memanfaatkan informasi perubahan susunan gen secara spesifik /personalized medicine telah terbukti dapat meningkatkan angka tahan hidup pasien. Alur pemeriksaan, jenis penanda gen spesifik serta tindakan pengobatan yang akan diambil telah masuk dalam NCCN (National Comprehensive Cancer Network) guidelines pemeriksaan kanker paru. Guidelines ini diperbaharui secara berkala sesuai dengan perkembangan teknologi diagnosa serta pengobatan pasien, sehingga dapat digunakan sebagai pedoman setiap dokter/ klinisi kanker paru. Dalam guidelines tersebut disebutkan beberapa gen penanda yang menjadi target pemeriksaan pada pasien kanker paru yaitu mutasi gen EGFR (Ephidermal Growth Factor Receptor), ALK(Anaplastic Lymphoma Kinase) positif, ROS1(ROS Proto-oncogene 1) positif dan PDL-1 (Programmed death-ligand1) (Ettinger et al. 2017).

ALK positif masuk ke dalam guidelines pemeriksaan pasien kanker paru sejak tahun 2011, tujuh tahun setelah FDA menyetujui pengobatan menggunakan Gefitinib dan atau Erlotinib pada pasien yang positif mengalami mutasi gen EGFR. Selama kurun waktu tersebut NCCN guidelines Kanker Paru NSCLC (Non-Small Cell Lung Cancer) menjadikan identifikasi mutasi EGFR sebagai satu-satunya pemeriksaan genetik untuk pengobatan setelah pemeriksaan histologi. Dalam perkembangannya pemahaman mengenai adanya gen yang mengendalikan sel kanker paru sebagai target untuk pengobatan memunculkan penemuan penanda baru yang disebut ALK positif (Riely et al. 2011).

Print

Upaya Penyembuhan Penyakit Degeneratif Dengan Kultur Mesenchymal Stem Cell

VitaStem sel adalah sel yang terdapat dalam tubuh dan memiliki beberapa karakteristik yaitu belum berdiferensiasi, mampu memperbanyak diri (self renewal), dapat berdiferensiasi menjadi lebih dari satu jenis sel (multipoten/pluripoten), dan belum memiliki fungsi khusus. Stem sel dapat dikembangkan dengan kultur jaringan untuk memperoleh jaringan secara cepat dan identik dengan aslinya. Berdasarkan sumbernya, stem sel dapat digolongkan menjadi stem sel embrionik dan stem sel dewasa. Stem sel embrionik terdapat pada Inner Cell Mass (ICM) embrio tahap blastosis. Stem cell embrio merupakan sel yang belum berdiferensiasi yang terdapat pada jaringan. Sel tersebut bersifat multipoten dan mempunyai kemampuan Self Renewal (Krause, 2002). Self Renewal merupakan kemampuan sel memperbarui diri sendiri sehingga tidak akan pernah habis meskipun terus membelah.

Stem sel dewasa dapat ditemukan pada sumsum tulang, otak, darah tepi, gastrointestinal, folikel rambut, hati, pankreas, jantung, kornea, retina, lemak, dan otot skeletal (Prentice, 2003). Sel tersebut berfungsi dalam memelihara dan memperbaiki kerusakan jaringan secara in vivo. Jika dibandingkan dengan stem sel embrionik, kemampuan berdiferensiasi stem sel dewasa lebih terbatas karena hanya mampu berdiferensiasi menjadi beberapa jenis sel saja serta hanya ditemukan dalam jumlah yang sedikit.Mesenchymal Stem Cells (MSCs) merupakan stem sel dewasa yang mempunyai morfologi seperti fibroblas (fibroblast-like) dan kemampuan diferensiasi MSCs menjadi beberapa jenis sel jaringan ikat sehingga menjadikan sel tersebut sebagai kandidat sumber sel dalam pengobatan regenerasi jaringan (Trzaska et al., 2008). Terapi sel merupakan pengobatan dengan menggunakan sel dari tubuhnya sendiri, sehingga diharapkan dapat mengobati beberapa penyakit seperti Parkinson, diabetes, dan penyakit jantung (Burke dan Tosh, 2005). (Vita Sindiya, Syubbanul Wathon)

Baca artikel lengkap

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI