Alk Positif Sebagai Penunjuk Pengobatan Terapi Target Pada Pasien Kanker Paru

AsepPemeriksaan mengenai perubahan karakteristik susunan gen(mutasi) pada sampel sel kanker pasien kanker paru telah masuk ke dalam panduan diagnosis pasien sebelum menjalani terapi pengobatan. Hal ini dilakukan agar pasien memperoleh jenis pengobatan yang tepat, sehingga dapat meningkatkan angka tahan hidup pasien. Jenis pengobatan berbasis terapi target dengan memanfaatkan informasi perubahan susunan gen secara spesifik /personalized medicine telah terbukti dapat meningkatkan angka tahan hidup pasien. Alur pemeriksaan, jenis penanda gen spesifik serta tindakan pengobatan yang akan diambil telah masuk dalam NCCN (National Comprehensive Cancer Network) guidelines pemeriksaan kanker paru. Guidelines ini diperbaharui secara berkala sesuai dengan perkembangan teknologi diagnosa serta pengobatan pasien, sehingga dapat digunakan sebagai pedoman setiap dokter/ klinisi kanker paru. Dalam guidelines tersebut disebutkan beberapa gen penanda yang menjadi target pemeriksaan pada pasien kanker paru yaitu mutasi gen EGFR (Ephidermal Growth Factor Receptor), ALK(Anaplastic Lymphoma Kinase) positif, ROS1(ROS Proto-oncogene 1) positif dan PDL-1 (Programmed death-ligand1) (Ettinger et al. 2017).

ALK positif masuk ke dalam guidelines pemeriksaan pasien kanker paru sejak tahun 2011, tujuh tahun setelah FDA menyetujui pengobatan menggunakan Gefitinib dan atau Erlotinib pada pasien yang positif mengalami mutasi gen EGFR. Selama kurun waktu tersebut NCCN guidelines Kanker Paru NSCLC (Non-Small Cell Lung Cancer) menjadikan identifikasi mutasi EGFR sebagai satu-satunya pemeriksaan genetik untuk pengobatan setelah pemeriksaan histologi. Dalam perkembangannya pemahaman mengenai adanya gen yang mengendalikan sel kanker paru sebagai target untuk pengobatan memunculkan penemuan penanda baru yang disebut ALK positif (Riely et al. 2011).

Upaya Penyembuhan Penyakit Degeneratif Dengan Kultur Mesenchymal Stem Cell

VitaStem sel adalah sel yang terdapat dalam tubuh dan memiliki beberapa karakteristik yaitu belum berdiferensiasi, mampu memperbanyak diri (self renewal), dapat berdiferensiasi menjadi lebih dari satu jenis sel (multipoten/pluripoten), dan belum memiliki fungsi khusus. Stem sel dapat dikembangkan dengan kultur jaringan untuk memperoleh jaringan secara cepat dan identik dengan aslinya. Berdasarkan sumbernya, stem sel dapat digolongkan menjadi stem sel embrionik dan stem sel dewasa. Stem sel embrionik terdapat pada Inner Cell Mass (ICM) embrio tahap blastosis. Stem cell embrio merupakan sel yang belum berdiferensiasi yang terdapat pada jaringan. Sel tersebut bersifat multipoten dan mempunyai kemampuan Self Renewal (Krause, 2002). Self Renewal merupakan kemampuan sel memperbarui diri sendiri sehingga tidak akan pernah habis meskipun terus membelah.

Stem sel dewasa dapat ditemukan pada sumsum tulang, otak, darah tepi, gastrointestinal, folikel rambut, hati, pankreas, jantung, kornea, retina, lemak, dan otot skeletal (Prentice, 2003). Sel tersebut berfungsi dalam memelihara dan memperbaiki kerusakan jaringan secara in vivo. Jika dibandingkan dengan stem sel embrionik, kemampuan berdiferensiasi stem sel dewasa lebih terbatas karena hanya mampu berdiferensiasi menjadi beberapa jenis sel saja serta hanya ditemukan dalam jumlah yang sedikit.Mesenchymal Stem Cells (MSCs) merupakan stem sel dewasa yang mempunyai morfologi seperti fibroblas (fibroblast-like) dan kemampuan diferensiasi MSCs menjadi beberapa jenis sel jaringan ikat sehingga menjadikan sel tersebut sebagai kandidat sumber sel dalam pengobatan regenerasi jaringan (Trzaska et al., 2008). Terapi sel merupakan pengobatan dengan menggunakan sel dari tubuhnya sendiri, sehingga diharapkan dapat mengobati beberapa penyakit seperti Parkinson, diabetes, dan penyakit jantung (Burke dan Tosh, 2005). (Vita Sindiya, Syubbanul Wathon)

Baca artikel lengkap

Harapan Baru Kemajuan Terapi Klinis Menggunakan Sel Epitel Pigmen Retina Di Masa Depan

VitaRetina merupakan bagian mata yang mengandung reseptor penerima rangsangan cahaya. Diantara retina dan koroid terdapatsebuah monolayer seluler yang disebut selRetinal Pigmen Epithelium (RPE) yang terletak di permukaan dalam bulbus.Fungsi RPE penting untuk menjaga kesehatan dan integritas retina luar, fotoreseptor, dan choriocapillaris pada mata normal (Stanzelet al., 2014). Sel RPE yang normal berperan penting pada retina. Fungsi tersebut antara lain sebagai pengangkutan nutrisi seperti glukosa atau vitamin A dari darah ke fotoreseptor, menjaga integritas struktur retina dengan cara mengfagosit sel-sel fotoresptor yang rusak akibat radikal bebas, photo-oxidative, dan energi cahaya. Proses fagositosis ini bertujuan untuk memperbarui sel-sel fotoreseptor yang rusak (Songet al.,2015). Sel RPE juga berperandalam regulasi ion dan keseimbangan cairan, serta menjaga imunitas mata (Davis et al., 2017). Hilang atau rusaknya epitel pigmen retina (RPE) merupakan bagian penting dari proses perkembangan penyakit pada beberapa kelainan retina, sepertiAge-Related Macular Degeneration(AMD), dan Stargardt Macular Dystrophy (SMD) (Schwartz et al., 2014).

Makula atau macula lutea merupakan bagian neurosensori yang terletak di bagian posterior retina yang kaya akan pigmen xantofil dan sel- sel fotoreseptor, khususnya sel kerucut. Oksigenisasi karetenoid, lutein dan zeaxantin, berakumulasi di bagian tengah dari makula yang menyababkan makula berwarna kuning. Karatenoid memiliki kemampuan untuk menyaring gelombang cahaya sehingga dapat melindungi mata dari kerusakan akibat cahaya yang masuk (Septadina, 2015).

AMD adalah penyakit degeneratif yang menjadi penyebab utama kerusakan penglihatan di negara maju pada umur <55 tahun, dengan bentuk AMD kering untuk 85% hingga 90% kasus.Bentuk kering atau non-eksudatif AMDsaat ini masih belum bisa diobati secara maksimal. Stargardt Macular Dystrophy (SMD) adalah bentuk paling umum dari degenerasi makula pada remaja yang berusia < 18 tahun. Hal ini disebabkan oleh produksi protein rim (protein sinaptik yang penting untuk melepaskan neurotransmiter normal)yang dikodekan oleh gen ABCA4 telah rusak dan menyebabkan akumulasi di-retinoid-pyridinium ethanolamine (A2E) dalam RPE (Wanget al., 2003). Dampak lainnya yaitu hilangnya sel RPE, dan kematian fotoreseptor (Kruczeket al., 2017). Degenerasi makula juga berkaitan dengan atrofi, faktor genetik dan lingkungan yang mempengaruhi pasien terhadap tekanan dan oksidasi. Hal ini pada akhirnya dapat membahayakan epitel pigmen retina. SMD juga dapat disebabkan degenerasi epitel pigmen retina yang biasanya diinduksi oleh segmen luar fotoreseptor yang diubah secara genetik.

fundus

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI