Klaster Teknik Budidaya

Klaster teknik budidaya merupakan salah satu klaster kegiatan dari Program Prioritas IPH LIPI Biovillage, yang terdiri dari lima kegiatan yaitu pengembangan model pertanian padi menuju pertanian organik, pengelolaan terpadu budidaya dan pasca panen ubi kayu untuk penyediaan bahan pangan bernutrisi unggul, model pengembangan teknologi budidaya jamur pangan berbasis limbah agroindustri, pengembangan domestikasi Oposum Layang (Petaurusbreviceps) guna pemanfaatan berkelanjutan, dan pengelolaan ternak sapi penelitian terintegrasi penyediaan pakan rumput. Kegiatan ini terpusat di Puslit Biologi dan Puslit Bioteknologi-LIPI yang berlokasi di Kawasan CSC-BG,Cibinong.

Model pertanian padi yang akan dikembangkan adalah model pertanian menuju pertanian organik dengan memadukan sistem budidaya tanaman padi yang memanfaatkan pupuk organik hayati LIPI, kompos maupun kotoran ternak ruminansia yang ada di lingkungan CSC-BG. Selain bertujuan untuk menciptakan pertanian padi organik, kegiatan ini juga akan membentuk percontohan perbenihan padi yang bersertifikat. Varietas padi yang digunakan dalam kegiatan ini adalah tiga varietas padi gogo yang telah dilepas LIPI, yaitu Inpago LIPI Go1, Go2 dan Go4 dengan keunggulan produktivitas tinggi, tahan penyakit blasras utama, toleran aluminium dan berumur genjah.

Konsep pengelolaan pertanian ubi kayu terpadu yang diterapkan pada kegiatan Biovillage adalah dimulai dari budidaya sampai pengelolaan pascapanen yang saling terintegrasi. Budidaya ubi kayu menggunakan bibit-bibit unggul yang telah terseleksi dari koleksi ubi kayu PuslitBioteknologi-LIPI, seperti ubi kayu unggul dengan beta karoten yang lebih baik dan berdaya hasil tinggi. Pengolahan pascapanen berorientasi pada pengolahan tepung ubi kayu termodifikasi (Mocaf=modified cassava flour) kaya beta karoten. Tepung MOCAF ini diolah dengan cara yang sama seperti pengolahan tepung ubi kayu biasa,namun di tengah proses dilakukan fermentasi dengan bantuan mikroba tertentu sehingga mampu mengubah karakteristik tepung menjadi lebih mirip dengan terigu.Selain itu, proses preservasi beta karoten juga dilakukan untuk mempertahankan kadar nutrisi tersebut sampai produk tepung tersebut jadi. Dengan model pengelolaan terpadu tersebut diharapkan kedepannya nilai ekonomi ubi kayu mampu ditingkatkan sebagai salah satu primadona bahan pangan bernutrisi tinggi selain padi.

Kegiatan pengembangan jamur pangan dilakukan untuk membudidayakan jamur pangan jenis jamur tiram putih (Pleurotusostreatus), jamur tiram merah (Pleurotusflabellatus), jamur tiram coklat (Pleurotussayorcaju), jamur tiram biru (Pleurotuscolombinus), dan jamur tiram kuning (Pleurotuscitrinopilateus). Pengembangan budidaya komoditas ini dirasa perlu karena masih rendahnya produktivitas jamur pangan. Selainitu, daya simpan jamur pangan segar sangat pendek sehingga mempengaruhi nilai ekonomis jamur. Oleh karena itu, kegiatan ini juga mencakup pengembangan produk olahan jamur pangan menjadi beberapa produk pangan olahan seperti kripik jamur, snack jamur, nugget jamur, bakso jamur dan produk olahan lainnya.

Kegiatan pengembang biakan Oposum layang merupakan usaha konservasi baik secara ex situ maupun in situ. Oposum layang sangat berpotensi untuk dibudidayakan sebagai hewan peliharaan yang memiliki nilai jual dan diminati pembeli yang ditemukan hampir di semua pasar satwa/pasarburung di berbagai daerah di Indonesia dan sebagai komoditi ekspor. Hingga saat ini masyarakat masih melakukan penangkapan langsung dari alam dalam jumlah besar, yang berakibat terus menurunnya populasi Oposum layang di habitat aslinya. Pemeliharaan hewan di penangkaran merupakan salah satu sistem pelestarian secara ex situ, dalam hal ini perlu diupayakan habitat yang mendekati habitat aslinya yang meliputi lingkungan untuk tempat tinggal, berlindung, istirahat, dan tersedia pakan yang sesuai dengan kebutuhan.

Namun, informasi tentang aspek biologi dan ekologi, serta kebutuhan pakan/nutrisi, perilaku, reproduksi Oposum layang Indonesia belum banyak, sehingga dengan kegiatan ini diharapkan dapat diperoleh model domestikasi hewan ini. Adanya penangkaran Oposum layang, khususnya di daerah sebaran opossum laying yang tinggi tingkat perburuannya, dapat memberikan harapan dalam upaya domestikasi dan usaha pengembangan yang berperan sebagai penghasil indukan opossum layang yang berkualitas. Dengan demikian pemanenan opossum layang untuk tujuan komersial dilakukan dari hasil penangkaran mulai generasi F2 dan tidak lagi menangkap langsung dari alam.

Kegiatan pengelolaan ternak sapi terpadu berfokus pada pemeliharaan ternak sapi penelitian Puslit Bioteknologi-LIPI dan penyediaan pakan hijauan, khususnya pakan rumput di CSC-BG yang memiliki lahan kosong yang cukup luas. Kegiatan ini untuk mendukung kegiatan peternakan sapi terpadu yang telah ada di Puslit Bioteknologi-LIPI. Pemeliharaan ternak dilakukan secara rutin setiap hari dimulai dengan memandikan ternak, membersihkan kandang tempat ternak berada, serta memelihara kesehatan ternak baik kesehatan secara umum maupun kesehatan reproduksinya. Pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh dan pemotongan kuku akan dilakukan secara rutin. Exercise bagi sapi pejantan harus secara rutin dilakukan untuk meningkatkan produksi semen pada saat penampungan. Pemberian pakan akan dilakukan dengan acuan standar kebutuhan pakan berupa pakan hijauan rumput dan konsentrat serta suplemen mineral. Pakan hijauan yang ditanam adalah rumput gajah sebagai sumber hijauan untuk ternak sapi penelitian. Pemberian pakan konsentrat pada tahun ini akan memanfaatkan produk dari kegiatan Biovillage yang lain yaitu unit Pengolahan Pakan Konsentrat Berbasis Bahan Baku Lokal. Pemberian vitamin dan pengobatan akan dilakukan secara rutin dan berkala, sehingga kondisi sapi penelitian selalu terpantau dengan baik dan siap digunakan untuk kegiatan penelitian.