Biovillage: Wahana Rekreasi IPTEK Hayati Bagi Masyarakat Indonesia

deputi iph

(Bersama Kepala Deputi bidang IPH LIPI)

Biovillage merupakan salah satu program unggulan Kedeputian Ilmu Pengetahuan Hayati Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang dibangun sejak tahun 2015, dan merupakan etalase hasil penelitian yang berada di kawasan Cibinong Science Center Botanic Garden (CSC-BG), Kabupaten Bogor.

Untuk menggali informasi lebih lanjut mengenai program Biovillage, Tim Humas Pusat Penelitian Bioteknologi -LIPI berkesempatan mewawancara Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati - LIPI, Prof. Dr. Enny Sudarmonowati, berikut petikannya:

Apa itu Program Biovillage ?

Program biovillage yaitu program yang terintegrasi dan pendekatan yang multi disiplin dan hasilnya aplikatif serta zero waste disatu wilayah, dan sebagai salah satu upaya LIPI untuk mendekatkan hasil penelitian LIPI yang aplikatif yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dan bisa memberikan edukasi kepada masyarakat sekaligus wahana hiburan atau rekreasi bermuatan IPTEK hasil riset LIPI kepada masyarakat. Masyarakat pun dapat mendalami dan mempergunakan hasil-hasil teknologi, begitu juga industri kecil, menengah dan besar.

Model yang dikembangkan di Cibinong diharapkan konsepnya dapat diaplikasikan di kawasan lain juga sesuai namanya 'village', walaupun tidak dinamakan biovillage. LIPI menginginkan konsep ini diaplikasikan ditempat lain karena sangat bermanfaat bagi masyarakat, dimana teknologi dapat dijadikan solusi jitu pemecahan masalah terkait dunia pertanian, peternakan serta lingkungan secara terintegratif, dan masyarakat juga teredukasi sekaligus mengedukasi masyarakat bahwa masyarakat bisa berperan serta, berkecimpung langsung.. Intinya LIPI mengidamkan IPTEK dapat tersebar luas, sehingga tidak tercipta gap antara dunia penelitian dan hasil penelitian, dengan masyarakat

Sampai sejauh ini, menurut ibu bagaimana perkembangan (progress) Biovillage?

Dari segi teknis sudah lumayan, kendalanya pada koordinasi antar satker di dalam LIPI. Selain itu, adanya pemotongan anggaran sehingga kita terpaksa menghitung kembali atau merencanakan kembali disesuaikan dengan anggaran yang ada, namun secara umum sudah cukup bagus dan ini yang pertama di indonesia dan akan dijadikan contoh ditempat-tempat lain di Indonesia. Namun dibutuhkan sentuhan-sentuhan dan masukan - masukan, karena program biovillage harus menggunakan zero waste, perlu memanfaatkan sumber daya alam, seperti papan namanya harus lebih dekat dengan alam, plang - plangnya terbuat dari kayu, petunjuknya harus lebih informatif, masih perlu banyak penambahan.

Konsepnya telah nampak flownya yang integrated dan zero waste sudah kelihatan, walaupun masih perlu penguatan - penguatan dibeberapa sektor. Harusnya sudah ada gedung yang menjadi etalase untuk memajang produk - produk biovillage tetapi karena pemotongan anggaran maka belum bisa terealisasi. Selain itu program biovillage yang sudah berjalan dengan baik yaitu dengan belajar sambil rekreasi dengan melihat taman burung, oposum layang sangat bagus untuk dikenalkan ke publik. Dalam program biovillage yang sudah berjalan, apa yang perlu diperbaiki? Yang perlu diperbaiki yaitu koordinasi diantara pelaku yang terlibat di kegiatan biovillage, dari peneliti sampai bagaimana hasil penjualan produk - produk biovillage.

Perlu ada toko yang menjual produk biovillage atau kafe organik. Koordinasi lainnya perlu dilakukan karena kawasan ini masih berbatasan dengan masyarakat umum dan masih terbuka.

Harapan ke depan di tahun 2017 dan seterusnya?

Untuk eksternal, harapannya konsep ini akan diaplikasikan ditempat lain, oleh karena itu kami ingin bekerjasama dengan Kementerian Desa sehingga dibeberapa wilayah desa dengan dana kementerian desa supaya dananya dapat terpakai dengan baik, dan bisa juga dengan UKM atau koperasi untuk bekerjasama memanfaatkan hasilnya. Untuk internal, perlu memperkuat lagi dan jalur - jalurnya diperjelas lagi walaupun sudah ada zona - zona namun perlu membuat cerita yang membuat pengunjung tertarik.