Budi Daya Jamur Pangan

jamur1Sebagai negara berkembang dengan jumlah penduduk hamper mencapai 260 juta, Indonesia harus dapat memenuhi kebutuhan pangan nasional dengan memanfaatkan sumber daya hayati yang dimilikinya. Jamur pangan atau edible mushroom merupakan salah satu sumber daya hayati yang telah menjadi komoditas pertanian dan akhir-akhir ini berkembang dengan pesat.

Selain dikenal dengan nilai gizinya yang tinggi, jamur pangan juga dapat digunakan sebagai bahan pangan fungsional, baik yang bersifat sebagai nutraceutical (jamur segar) maupun nutriceutical (bahan olahan/ekstrasi jamur). Selain itu jamur pangan juga mulai dikembangkan sebagai komoditas sayuran organik yang tidak menggunakan pupuk dan pestisida kimia sehingga sangat membantu menjaga kelestarian lingkungan. Limbah yang berasal dari media tanam jamur pangan dapat diolah dan dijadikan pupuk organik untuk menjaga kesuburan tanah. Dilihat dari cara memperoleh makanannya jamur dapat dibagi menjadi 3 golongan.

jamur2Pertama, jamur mikoriza. Jenis jamur ini melakukan simbiosis mutualisma atau hidup bersama saling menguntungkan dengan akar tumbuhan. Jamur memperoleh makanannya dari tumbuhan inangnya, tetapi tumbuhan inang tersebut juga diuntungkan dengan kehadiran jamur mikoriza ini. Miselium yang hidup disekitar perakaran tanaman membantu penyerapan nutrien yang ada didalam tanah oleh akar tumbuhan. Salah satu jenis jamur yang dapat dimakan dari jamur mikroriza ini adalah matsutake (Tricholoma matsutake). Di Jepang jamur ini biasanya di panen di daerah hutan pinus pada musim gugur dan harganya sangat mahal. Sampai saat ini para peneliti jamur di negara matahari terbit tersebut belum berhasil membudidayakannya.

Kedua, jamur yang bersifat parasit. Jamur pangan jenis ini memperoleh nutrisi untuk hidupnya dari mahluk hidup lain, biasanya menempel pada tumbuhan yang masih hidup.Yang termasuk jenis jamur ini adalah jamur Armillaria yang banyak ditemukan di hutan di kawasan Michigan, Amerika Serikat. Selain itu jamur Ganoderma lebih dikenal dengan Ling Zhi dan sering dipakai untuk bahan baku obat traditional adalah parasit pada tanaman kelapa sawit.

Ketiga, jamur yang bersifat saprofit. Jamur pangan jenis ini memperoleh nutrisi untuk hidupnya dari sisa-sisa mahluk hidup yang telah mati. Hampir semua jenis jamur pangan yang dibudidayakan seperti jamur tiram (Pleurotus), jamur kuping (Auricularia), jamur shiitake (Lentinus) dengan media tanam serbuk gergaji dan jamur merang (Vovariella), jamur kancing (Agaricus) dengan media tanam jerami padi adalah termasuk jenis jamur yang bersifat saprofit. Secara alami jamur jenis ini merupakan mahluk perombak yang menjaga keseimbangan senyawa organik (bahan yang berasal dari mahluk hidup) yang ada di muka bumi. Dengan enzim yang dihasilkan, senyawa dengan struktur yang lebih komplek dapat dirombak menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dicerna dan diserap oleh jamur ini sebagai bahan makanannya.

Budidaya jamur pangan mempunyai sejarah yang cukup panjang. Di Cina jamur shiitake yang nama ilmiahnya Lentinus edodes sudah dibudidayakan sejak 1000 tahun yang lalu. Menurut catatan, budidaya shiitake ditulis oleh Wu Sang Kuang di zaman Dinasti Song (960-1127) meskipun demikian orang di daratan China sudah memakan jamur ini sejak tahun 199. Di Indonesia, beberapa petani di pantai utara pulau Jawa sudah mulai membudidayakan jamur merang pada awal tahun 1970an sedangkan budi daya jamur kayu yang menggunakan serbuk gergaji sebagai media tanam baru mulai dilakukan pada awal tahun 1980an.

Budidaya jamur pangan biasanya dilakukan dengan menggunakan limbah pertanian sebagai media tanam. Limbah pertanian dipilih sebagai bahan alternatif untuk media tanam jamur karena mengandung lignoselulosa, selulosa, dan hemiselulosa yang sangat diperlukan oleh jamur untuk pertumbuhannya. Beberapa jenis jamur pangan bisa dibudidayakan dengan menggunakan limbah jerami padi, limbah kopi, tanaman enceng gondok,serbuk gergaji dan limbah pertanian lainnya.

Berdasarkan media tanam yang digunakan, di Indonesia dikenal dua jenis jamur pangan yang dibudidayakan.Pertama, Jamur merang, yang menggunakan jerami padi sebagiai media tanam, meliputi jamur merang (Volvariella sp) dan jamur kancing (Agaricus sp). Kedua, jamur kayu, yang menggunakan serbuk gergaji sebagai media tanam, meliputi jamur tiram (Pleurotus sp), jamur kuping (Auricularia sp), jamur shitake (Lentinus sp). Jenis jamur tiram yang dibudidayakan adalah: Jenis jamur tiram yang banyak dibudidayakan antara lain adalah sebagai berikut: tiram putih (P.ostreatus var. florida), tiram abu-abu (P. sajor caju), tiram coklat (P. cystidiosus), tiram merah muda (P. flabelatus), tiram hitam (P. sapidus), dan tiram kuning (P. citrinopileatus). (Iwan Saskiawan)