Kegiatan Riset

Bioremediasi Tanah Tercemar Profenofos Secara Ex Situ Dengan Cara Pengomposan

Pelaksana : M. Ahkam Subroto, Nur Indrayani, Fauzy Rachman dan Bustanussalam

Abstrak

Pestisida secara signifikan mampu meningkatkan produksi pertanian meskipun di sisi lain mengakibatkan terganggunya rantai makanan hewan dan manusia. Teknik bioremidiasi dengan cara pengomposan adalah teknik dengan mencampur bahan utama pengomposan dengan tanah tercemar, dimana saat kompos matang akan terjadi degradasi polutan oleh mikroorganisme yang aktif di dalam campuran kompos tersebut. Pengomposan merupakan teknik bioremidiasi yang relatif masih baru sehingga penelitian mengenai hal tersebut masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan laju penurunan konsentrasi profenofos selama proses pengomposan tanah tercemar profenofos dengan sisa-sisa hasil pertanian (serbuk gergaji, daun wortel, kotoran sapi). Campuran bahan-bahan tersebut dibedakan berdasarkan rasio C/N 40, 35, dan 30. Pengomposan dengan rasio C/N 30 mampu mendegradasi profenofos lebih cepat selama 28 hari dibandingkan dengan campuran yang lain (98% dari konsentrasi awal). Bioremediasi dapat meningkatkan produksi tanaman dibandingkan dengan tanah yang belum dibioremediasi. Beberapa bakteri berhasil diisolasi dari campuran kompos. Tiga jenis bakteri mampu tumbuh pada media NA yang mengandung profenofos 1500 ppm. Kemampuan bakteri-bakteri tersebut dalam mendegradasi profenofos diuji dengan menumbuhkannya pada media MSPY. Kemampuan mendegradasi ditunjukkan dengan terbentuknya zona jernih di sekitar koloni bakteri tersebut.


Peningkatan Ekspresi Heterologus Dan Produksi Human-Erythropoietin Rekombinan

Peningkatan Ekspresi Heterologus Dan Produksi Human-Erythropoietin Rekombinan Pada Yeast Pichia Pastoris Melalui Perubahan Codon-Usage Gen Hepo
 
Pelaksana : Asrul Muhamad Fuad, Adi Santoso, Yuliawati, Dian Fitria, Sri Kartika Wijaya, Ratih Asmana Ningrum, Neng Herawati dan Aminah

Abstrak

Erythropoietin (EPO) adalah hormon yang mengatur proses erythropoiesis, yaitu proses pembentukan sel darah merah (erythrocytes) pada mamalia termasuk manusia. Human-EPO merupakan glikoprotein, terdiri atas 165 asam amino dan 4 sisi glikosilasi dengan bobot molekul berkisar 34.4 kDa. EPO diketahui diproduksi pada beberapa jaringan tubuh terutama ginjal dan hati. Sejak pertama kali diklon (Jacobs et al., 1985, Lin et al., 1985), gen epo telah diekspresikan pada berbagai jenis sel inang seperti sel mamalia (CHO, BHK, COS), serangga (Spodoptera frugiperda), tanaman (Nicotiana tabacum, Arabidopsis thaliana), manusia (NB dan HepG2) dan yeast (Saccharomyces cerevisiae). EPO komersial (Epogen) diproduksi pada sel CHO telah dipasarkan sejak tahun 1989 oleh AMGEN untuk obat anemia. Protein terapeutik rekombinan umumnya diproduksi menggunakan sel mamalia karena berbagai alasan seperti proses pasca-translasi dan bebas toksin. Namun produksi protein rekombinan pada sel mamalia memiliki keterbatasan seperti rendemen produksi rendah, biaya produksi tinggi dan teknologi yang relatif mahal. Karena itu sel inang alternatif sangat diperlukan untuk produksi protein terapeutik. Yeast merupakan salah satu alternatif untuk hal tersebut. Tingkat produksi protein rekombinan pada Pichia pastoris dilaporkan sangat beragam tergantung pada beberapa faktor seperti sifat dan asal protein target, perbedaan kodon, sistem dan konstruksi vektor ekspresi dan efisiensi sekresi protein ekstrasel. Jenis kodon asam amino merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan laju ekspresi protein heterolog. Perbedaan kodon dan kandungan GC dapat mengakibatkan suatu protein rekombinan tidak dapat terekspresi pada P. pastoris seperti gen Cyt2AaI dan EBA-175. Diketahui adanya perbedaan kodon preferensi dan kandungan GC antara gen epo dengan gen genomik P. pastoris. Pada penelitian ini dilakukan konstruksi suatu gen epo-sintetik (eposyn) yang mengandung kodon preferensi P. pastoris. Gen sintetik ini dibuat menggunakan metode recursive-PCR. Optimasi kodon gen eposyn diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi protein EPO-rekombinan pada P. pastoris.


Pemanfaatan Koleksi Rhizobacteria

Pemanfaatan Koleksi Rhizobacteria Untuk Mengatasi Serangan Nematoda Sista Kuning (Nsk) Globodera Rostochiensis Pada Tanaman Kentang (Solanum Tuberosum L.)

Pelaksana : Titik K.Prana, Purwanto, Ine Sulastrini, Sri Olyndriana Dewi, Dwi Wulandari dan Wida Tristanti

Abstrak

Penelitian tahun ini merupakan lanjutan dari penelitian tahun lalu, yang tujuannya adalah untuk mendapatkan jenis Rhizobacteria yang efektif untuk mengendalikan nematode sista kuning (NSK), Globodera rostochiensis yang menyerang tanaman kentang (Solanum tuberosum). Penelitian dilakukan di rumah kaca Balai Pengkajian Teknologi Pertanian BPTP) Lembang, Bandung, yang terletak pada ketinggian 1250 dpl. Waktu pengujian dimulai dari bulan Juli sampai bulan November 2006.Pengujian dilakukan dengan 3 kelompok perlakuan, yaitu perlakuan dengan perendaman dalam lipopolisakarida (LPS), perendaman dengan sel hidup (CHD) dan perlakuan dengan perendaman dalam sel mati (CMT) dengan memakai 3 isolat koleksi dan satu isolate referens dengan 3 ulangan.. Sebagai kontrol digunakan Furadan 3 G + Nematoda (K+) dengan dosis 2 gr/tanaman. Kontrol negativ (K-), yaitu tanpa nematoda dan tanpa perlakuan serta kontrol KN, yaitu tanaman yang diinokulasi nematode, tetapi tanpa perlakuan. Penanaman kentang dilakukan dalam polybag yang diisi dengan 4 kg media steril. Media tanam terdiri dari campuran pupuk kandang kuda dan tanah dengan perbandingan 1 : 1. Varietas kentang yang digunakan adalah Granola dengan benih G-nol (hasil dari kultur jaringan). Benih ditanam 1 umbi/polybag, dengan berat umbi antara 1,5-1,8 g. Perlakuan dilakukan dengan cara merendam umbi kentang selama 15 menit sebelum penanaman dan disiramkan setelah tanaman berumur 22 hari. Inokulasi NSK dilakukan setelah tanaman berumur 29 hari, dengan dosis 30 sista/kg media tanam. Pemupukan NPK dilakukan 3 kali, yaitu pada saat 3 hari sebelum tanam dengan dosis 4 g/pot, kemudian 2,5 g/tanaman pada saat tanaman berumur 14 dan 25 hari. Pengamatan dilakukan terhadap jumlah sista dalam tanah serta jumlah nematoda yang menempel pada akar tanaman pada umur 55 hari serta pada saat panen. Dari hasil pengamatan fase petumbuhan tanaman sampai saat panen, tidak tampak perbedaan yang nyata dalam hal fisik dan kemampuan membentuk umbi diantara perlakuan dan kontrol. Namun pengamatan terhadap jumlah nematoda yang menempel pada akar setelah panen menunjukkan bahwa ketiga nomor isolat yang diuji dapat menekan jumlah nematoda yang menempel pada akar tanaman, sehingga dengan demikian ketiga isolat tsb.memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai biokontrol dalam mengatasi serangan NSK. Ketiga isolat tersebut diduga memiliki sistim penghambatan yang berbeda.


Konstruksi Rekombinan Cyanobacteria Pembawa Gen Cry Penyandi Protein δ

Konstruksi Rekombinan Cyanobacteria Pembawa Gen Cry Penyandi Protein δ -Endotoksin Untuk Pengendalian Populasi Aedes Aegypti Vektor Penyakit Demam Berdarah : Penetapan Efektivitas Mosquitosida Protein δ -Endotoksin Dan Isolasi Gen-Gen Penyandinya Dari Isolat-Isolat Terseleksi

Pelaksana : Eddy Jusuf

Abstrak

Kegiatan tahun 2006 difokuskan untuk mengidentifikasi toksisitas protein δ-endotoksin dari galur dan isolat bakteri Bacillus thuringiensis khusus terhadap jentik nyamuk Aedes aegypti serta menetapkan tipe gen penyandinya. Kegiatan meliputi isolasi meliputi isolasi plasmid berbobot 75 megadalton yang membawa gen cry penyandi protein kristal toksik, pemurnian protein tersebut untuk diuji sifat kimia dan toksisitasnya terhadap jentik nyamuk, dan identifikasi tipe gen cry atau gen cyt yang dimiliki galur dan isolat bakteri tersebut. Plasmid hasil isolasi yang berdasarkan uji dengan PCR menggunakan berbagai primer spesifik menunjukkan adanya gen dimaksud difragmentasi menggunakan beberapa macam endonuklease restriksi dan fragmen pembawa sekuen nukleotida salah satu gen cry atau gen cyt diklon pada plasmid vektor untuk transformasi pada galur E. coli. Pekerjaan efektif baru dimulai bulan September baru melaksanakan pemurnian protein δ-endotoksin, isolasi plasmid dan identifikasi gen gen cry dan gen cyt terkendala kekurangan bahan biochemical dan bahan aus serta kurang berfungsinya secara optimal beberapa alat seperti Thermocycler untuk PCR.


Produksi ß -Glukan Dari Saccharomyces Sp Untuk Diformulasi Sebagai Antioksidan

Produksi ß -Glukan Dari Saccharomyces Sp Untuk Diformulasi Sebagai Antioksidan

Pelaksana : Kusmiati dan Ni Wayan Sri Agustini

Abstrak

Produksi ß glukan dari Saccharomyces sp dilakukan untuk formulasi sediaan yang berfungsi sebagai bahan aktif yang bersifat antioksidan. Percobaan menggunakan Saccharomyces karena aman untuk digunakan dalam makanan maupun obat-obatan yang dikonsumsi manusia. Potensi Saccharomyces sebagai penghasil ß glukan telah dievaluasi dan untuk meningkatkan produksinya telah dilakukan berbagai penelitian yang mencakup pengaruh faktor fisik seperti cahaya, pH, aerasi, temperatur dan faktor nutrisi (komposisi media) untuk memperoleh produksi yang tinggi. Peningkatan kemampuan galur yang menghasilkan ß glukan juga telah dilakukan melalui proses mutagenesis. Teknik ekstraksi  ß glukan pada yeast sudah dikuasai pada penelitian yang lalu. Kegiatan tahun ini menguji secara in vitro ekstrak ß glukan yang diperoleh terhadap sel darah merah yang mengalami oksidatif untuk melihat potensi senyawa ini sebagai antioksidan. Analisis kandungan malonildialdehid, aktivitas superoxide dismutase, glutation tereduksi dan katalase dalam sel darah merah merupakan parameter oksidatif.


Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI