Kegiatan Riset

PENERAPAN TEKNOLOGI PUPUK BIO DALAM PENGEMBANGAN BUDIDAYA JAGUNG HYBRIDA (Zea mays) DI KELURAHAN NANGGEWER MEKAR KECAMATAN CIBINONG, KABUPATEN BOGOR : IPTEKDA 2009

jagung4Koordinator: Endi Rochandi

LATAR BELAKANG

Kawasan Cibinong Science Center (CSC) LIPI yang berada di Kelurahan Cibinong dan Nanggewer Mekar, Kecamatan Cibinong memiliki luas 189,6 hektar. Sejak zaman pemerintahan Presiden Pertama Soekarno, kawasan ini memang ditujukan untuk kawasan  ilmu pengetahuan. Namun dalam perkembangannya kemudian pemerintah cq. LIPI belum mempunyai dana yang cukup untuk membangun seluruh fasilitas ilmu pengetahuan yang akan dikembangkan di kawasan ini, sehingga banyak lahan-lahan kosong yang dimanfaatkan oleh para penduduk sekitar kawasan ini sebagai penggarap untuk bercocok tanam sampai saat ini.

Keberadaan CSC-LIPI ini juga tidak bisa lepas dari masyarakat sekitarnya. Sebagai pemanfaat lahan CSC-LIPI para penggarap ini tetap dihormati, dengan mendayagunakan lahan garapan tersebut sekaligus sebagai upaya meningkatkan pendapatan para penggarap itu sendiri. Program Iptekda ini dimaksudkan agar para penggarap tersebut ditingkatkan pemberdayaannya dengan diajak kerjasama dalam budidaya jagung hybrida, menggantikan budidaya singkong yang sudah turun temurun dilakukan oleh para penggarap di lahan CSC.

Salah satu upaya peningkatan produksi jagung adalah dengan menggunakan benih jagung unggul serta kombinasi aplikasi Bio P 2000 Z dengan kompos Biomix serta  pupuk lainnya sebagai pupuk tambahan. Penggunaan pupuk-pupuk tersebut di atas sudah terbukti dapat meningkatkan produksi sampai 50 % dari rata-rata produksi dengan menggunakan pupuk yang lazimnya dipakai para petani.

Pupuk Bio P 2000 Z merupakan pupuk organik hasil penelitian para peneliti Indonesia yang saat ini sudah kepada tahapan produksi masal. Percobaan penggunaan Bio P 2000 Z telah dilakukan di berbagai lokasi dan diperlakukan untuk berbagai jenis tanaman baik tanaman pangan, tanaman hortikultura maupun tanaman kehutanan. Uji coba di lapangan telah terbukti dapat meningkatkan kesuburan tanaman, kesuburan tanah dan hasil akhirnya adalah meningkatkan produksi. Dengan mempergunakan pupuk ini juga dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia lainnya. Kombinasi pemupukan dengan kompos menjadikan hasil yang diperoleh dapat meningkat secara signifikant.

 

PELAKSANAAN TEKNIS

Dalam pelaksanaan kegiatan ini dilakukan secara bertahap sebagai berikut :

    a. Sosialisasijagung

Sosialisasi kepada para petani penggarap dilaksanakan pada tanggal 22 April 2009, bertempat di Auditorium Puslit. Bioteknologi-LIPI di Cibinong, yang dihadiri oleh 14 petani penggarap dari  sekitar 33 orang yang diundang. Salah satu kesulitan dalam mengundang para petani penggarap adalah ketidakpedulian para petani terhadap program yang akan dilaksanakan. Dalam pertemuan ini disepakati dibentuk 2 (dua) kelompok petani penggarap yaitu Kelompok Tani "Usaha Jaya" (penggarap lahan Biotek), dengan anggota sekitar 22 orang, dengan Ketua Bapak Sabda, dan Kelompok Tani "Tani Makmur" beranggotakan 11 orang, dengan ketua Bapak Udin Sapen. Diharapkan kedua kelompok tani dapat berperan dalam pengembangan budidaya jagung, sehingga perlahan-lahan para petani penggarap dapat memilih komoditas tanamannya dengan yang lebih menguntungkan.

Walaupun sosialisasi ini sudah dilakukan beberapa kali baik melalui pertemuan maupun langsung di lapangan, belum semua petani penggarap mau bergabung dengan program budidaya jagung. Masih saja ada beberapa petani yang tetap menanami lahan garapannya dengan komoditas singkong., dengan alasan tanaman singkong tahan kekeringan, biaya murah (tidak dibebani modal kembali), pemeliharaan mudah. Apalagi dengan kejadian banyak pertanaman jagung yang mati karena kekeringan dan tidak bisa diselamatkan.

Untuk itu perlu dilakukan kerja keras dalam meyakinkan petani penggarap bahwa menanam jagung bisa lebih menguntungkan, dengan pembuktian pada para petani penggarap yang ikut program ini.

  1. b. Inventarisasi lahan

Menginventarisasi luasan lahan yang akan digunakan pada program Iptekda ini. Tercatat ada sekitar 87.300 m2 lahan yang diikutsertakan dalam program ini (daftar petani penggarap serta luasan lahan pada lampiran). Disamping itu ada sekitar 10.000 m2 lahan garapan Koperasi Pegawai Biologi-LIPI dan 15.000 m2 lahan di sekitar Pusbindiklat juga akan digunakan untuk budidaya jagung ini.

Pada pelaksanaan di lapangan tahap pertama hanya sekitar 3 hektar yang bisa digarap sedangkan yang berhasil ditanami hanya sekitar 2 hektar, karena lebih dari 1 hektar lahan yang sudah diolah tidak bisa ditanami karena kekeringan.

Pada pelaksanaan tahap II, ditargetkan sekitar 5 hektar lahan yang bisa ditanami. Ternyata dengan kondisi hujan yang belum normal dan masih banyak petani yang tidak mau bergabung dengan program ini, hanya bisa terlaksana sekitar 3 hektar saja. Sampai akhir Desember 2009, diharapkan sekitar total 4 hektar bisa digarap untuk pertanaman jagung.

  1. c. Pengolahan tanah

Pengolahan lahan mulai dilakukan pada awal bulan Mei 2009 pada lahan-lahan yang sudah selesai ditanami singkong. Target luas lahan yang akan digarap setiap bulan tidak tercapai karena masih banyak lahan yang masih ditanami singkong, sehingga penggarapan baru bisa dimulai setelah singkongnya dicabut. Pengolahan tanah sangat tergantung pada ketersediaan air tanah di lahan tersebut. karena musim kemarau sudah mulai melanda Cibinong, sejak pertengahan bulan Juni yl. ada lahan seluas 8000 m2 yang sudah mulai digarap, namun tidak bisa dilanjutkan karena ketiadaan air. Pada pelaksanaan tahap pertama, luas lahan yang sudah digarap baru sekitar 2,0 hektar.

Pada pelaksanaan tahap II (awal musim hujan) sudah mulai diolah pada awal bulan Agustus 2009. Pekerjaan pengolahan tanah dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan kondisi lahan yang sudah kosong dan tenaga kerja yang tersedia. Sampai laporan ini dibuat (13 November 2009) baru sekitar 30.400 m2 lahan yang sudah diolah, seperti pada tabel di bawah ini.

Setelah dilakukan pengolahan tanah, kemudian dibuat lubang tanam dengan jarak tanam sesuai dengan tujuan penanamannya. Di sekitar lubang tanam itu diberikan pupuk kandang yang sudah diproses menjadi biomix sebanyak 2-3 genggam (sekitar 0,25 kg) per lubang tanamnya.

  1. d. Penanaman

Penanaman jagung pada tahap pertama ini sebenarnya ditujukan untuk memproduksi jagung pipilan, namun karena kondisi iklim sehingga tidak memungkinkan untuk dilanjutkan. Banyak sekali tanaman yang mengalami kekeringan dan mati. Untuk itu pertanaman yang masih hidup akhirnya diperuntukkan sebagai hijauan makanan ternak (HMT).

Pada penanaman tahap dua, telah disediakan benih jagung hybrida dari berbagai sumber dalam jumlah yang cukup untuk menanami lahan seluas 5 hektar atau sebanyak lebih dari 200 kg. Untuk tujuan jagung pipilan disiapkan benih jagung hybrida dengan merk dagang “Pak Tani 2” sebanyak 30 kg. Sedang untuk tujuan HMT disediakan jagung hybrida F1 dari Pioner sebanyak 200 kg.

Untuk tujuan jagung pipilan, jarak tanam yang digunakan sekitar 30 x 70 cm, dengan biji yang ditanam setiap lubangnya maksimal 2 butir. Sedangkan untuk HMT memakai jarak tanam 30 x 60 cm, dengan 3-4 butir per lubangnya,

  1. e. Pemeliharaan tanaman

Pemeliharaan pertanaman jagung dilakukan berupa penyiangan dan pendangiran pada tanaman jagung yang sudah berumur 20 hari. Penyiangan maupun pendangiran dilakukan oleh para penggarap maupun tenaga kerja yang diupah untuk pekerjaan tersebut. Keterlambatan dalam penyiangan dan pendangiran dapat menyebabkan gulma yang tumbuh di sekitar tanaman akan membesar dan bertambah banyak, sehingga menyulitkan dalam pelaksanaannya. Disamping itu juga akan menyebabkan aplikasi pupuk bio juga bisa terlambat.

Disamping itu juga banyak para petani yang tidak bisa meninggalkan kebiasaan menanam singkong, sehingga di beberapa lahan penggarap, tanaman jagung masih dicampur dengan tanaman singkong. Sudah barang tentu pencapaian target pertumbuhan tanaman maupun produksi tidak akan tercapai.

  1. f. Aplikasi pupuk kimia maupun pupuk bio

Aplikasi pupuk baik pupuk kimia (UREA) dan pupuk Bio P dilakukan sesuai dengan umur tanaman, yaitu pada umur 10, 20 dan 30 hari setelah tanam. Pelaksanaan aplikasi pupuk di lapangan pada tahap pertama masih belum optimal karena di Cibinong sejak pertengahan bulan Juni sudah jarang sekali hujan, sehingga banyak pertanaman jagung yang kekeringan, karena sumber air untuk penyiraman tidak ada. Pemupukan dalam kondisi seperti ini jelas sangat tidak efektif, sehingga hasilnya kurang bagus.

Untuk penanaman tahap kedua, hal tersebut sangat diperhatikan, sehingga tidak ada keterlambatan dalam aplikasi pupuk tersebut.

Aplikasi pemupukan dilakukan sebagai berikut :

  1. Pupuk kompos Biomix. Pupuk kompos Biomix merupakan pupuk kandang yang diperkaya dengan jasad renik melalui fermentasi tertutup, agar pupuk kandang tersebut bisa menjadi kompos yang sudah terdegradasi oleh jasad renik. Inokulum yang dipakai merk Katalek, yang merupakan inokulum hasil karya Peneliti Mikrobiologi dari Puslit Biologi-LIPI. Untuk memperoleh pupuk Biomix yang sempurna dilakukan pembalikan sebanyak 4 kali. Dalam hal ini petani penggarap diajak untuk mengerjakan pembuatan pupuk kompos ini. Sayangnya banyak petani yang kurang responsip dengan pembuatan pupuk ini. Aplikasi pupuk Biomix ini dilakukan pada saat pembuatan lubang tanam, atau kalau terlambat bisa diberikan di sekitar benih jagung yang sudah mulai tumbuh. Pupuk yang digunakan sekitar 2 ton per hektarnya.
  2. Pupuk kimia (Urea, TSP dan KCL). Pupuk kimia diberikan sesaat sebelum dilakukan penyiangan dan pendangiran, sehingga pupuk bisa langsung terkubur di sekitar tanaman jagung. Dosis yang digunakan hanya 50 % dari dosis standar yang biasa dipakai yaitu sebanyak 150 kg/hektar Urea, sedangkan TSP dan KCL masing-masing : 50 kg/hektar. Pupuk kimia ini diberikan cukup sekali saja.
  3. Pupuk Bio P. Pupuk bio ini berupa cairan yang mengandung berbagai jenis jasad renik yang berguna sebagai perombak unsur hara tanah dan menstimulasi pengembangan jasad renik dalam tanah maupun tanaman yang sangat dibutuhkan oleh tanaman. Sebelum diaplikasikan di lapangan, pupuk bio ini harus melalui proses fermentasi yaitu mencairkannya dalam suatu drum plastik yang telah diisi air bersih. Bio P sebanyak 1 liter dilarutkan dalam  200 liter air,  dicampur dengan 1 kg Urea dan 1 kg gula pasir, kemudian diaduk sehingga homogen. Drum plastik tersebut ditutup dengan plastik, dibiarkan sekitar 2 x 24 jam agar terjadi fermentasi yang sempurna. Larutan akan mengeluarkan aroma seperti tape dan sudah dapat disemprotkan kepada tanaman, dengan memakai hand sprayer. Larutan sebanyak 200 liter ini cukup untuk menyemprot tanaman seluas 1 hektar. Penyemprotan pupuk Bio P ini dapat dilakukan berulang sampai 3 kali dengan selang antara 10 – 15 hari, namun apabila pertumbuhan tanaman menunjukkan perubahan yang sangat mencolok, penyemprotan pupuk bio cukup 2 kali, agar tanaman tidak roboh karena terlalu berat. Penggunaan pupuk bio ini dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia sampai 50 %.
  4. Penggunaan pupuk bio ini sebagai pembeda antara budidaya jagung dengan sistem konvensional dan dengan aplikasi pupuk bio.

  5. g. Panenan

jagung2Sehubungan dengan kondisi serta kendala-kendala di lapangan, target produksi pada tahap I bukan jagung pipilan tetapi biomasa jagung (seluruh bagian tanaman) untuk hijauan makan ternak.  Untuk itu akan dimulai panenan biomasa jagung pada akhir bulan Juli 2009, di areal seluas sekitar 1.500 m2 milik salah satu penggarap (Sdr. Andi) di lahan garapan Biotek.

Panenan biomasa jagung dari pertanaman tahap pertama yang masih bisa diselamatkan dapat dilaporkan seperti pada Tabel 2.

Produk HMT ini dijual ke peternakan  Biotek, dengan harga jual Rp. 150,- / kg. Dari produksi HMT tersebut hanya berhasil diperoleh pendapatan Rp. 3.545.550,- , dan ini jauh dari modal yang dikeluarkan untuk membiayai budidaya jagung HMT.

 

PELAKSANAAN USAHA DAN PERKEMBANGANNYA

Pelaksanaan usaha yang dikerjakan para penggarap adalah perbaikan cara budidaya jagung dengan pengenalan cara pembuatan pupuk kompos Biomix serta introduksi aplikasi pupuk bio di lapangan, sebagai upaya meningkatkan produksi biomasa jagung maupun jagung pipilannya. Di tingkat lanjutannya, para penggarap akan dilibatkan dalam kegiatan penanganan prosesing pencacahan biomasa jagung untuk pakan serta penanganan pasca panen dari jagung pipilan, dengan mempergunakan mesin-mesin yang sudah dibeli pada semester pertama. Disamping itu akan diperkenalkan pula cara penanganan administrasi keuangan yang baik, yang selama ini masih dilakukan oleh Koperasi Pegawai Biotek, sehingga diharapkan pada akhirnya para penggarap itu sendiri yang menangani usaha ini.

Tahapan-tahapan pengenalan teknologi kepada penggarap dilakukan sebagai berikut :

  1. Pengenalan dan praktek pembuatan pupuk kompos Biomix dengan mempergunakan bibit kompos/inokulum Katalek. Dengan cara ini petani diberi pengetahuan tentang proses pengomposan untuk memperbaiki mutu pupuk kandang, serta keuntungan lain mempergunakan kompos Biomix dibandingkan mempergunakan pupuk kandang dari limbah ayam.
  2. Pengenalan cara budidaya jagung yang baik dan benar, mulai dari pengolahan lahan, cara bertanam, penyiangan, pendangiran sampai cara pemupukan.
  3. Pengenalan dan pelaksanaan pembuatan larutan serta aplikasi pupuk bio “Bio P 2000 Z”  di lapangan.
  4. Melibatkan para petani penggarap dalam prosessing HMT maupun pasca panen jagung pipilan dengan mempergunakan mesin-mesin yang ada.

Seperti diuraikan sebelumnya bahwa pelaksanaan usaha budidaya pada semester I (tahap I) boleh dikatakan gagal, disebabkan berbagai kendala yang dihadapi baik kendala internal seperti   maupun eksternal. Sesuai dengan rekomendasi tim monitoring Iptekda, untuk selanjutnya dilakukan perubahan baik target capaian maupun sasarannya.

Dalam pelaksanaannya di lapangan, ternyata mengatasi kendala-kendala yang ada tidaklah mudah.  Kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program Iptekda ini adalah :

  1. Masih banyak petani penggarap yang masih enggan untuk bekerjasama dalam program budidaya jagung ini. Ini dapat dilihat pada pelaksanaan di lapangan dimana masih banyak para petani yang masih tetap menanam singkong, walaupun semua dana dan sarana produksi yang diperlukan untuk budidaya jagung telah tersedia. Sehingga target sampai semester I maupun II ini baik luasan lahan maupun pertumbuhan tanaman tidak tercapai. Disamping itu banyak petani yang tidak mau mengambil resiko kegagalan dalam menghadapi musim kemarau ini. Menanam singkong lebih kecil resikonya apabila ditanam pada musim kemarau  dibandingkan menamam jagung. Sehingga masih banyak petani yang enggan menanam jagung secara monokultur.
  2. Di Wilayah Cibinong, musim kemarau terjadi sejak pertengahan bulan Juni yang lalu, sehingga ada beberapa lahan yang semestinya sudah bisa diolah, terpaksa menunggu sampai awal musim hujan berikutnya. Ternyata pula musim hujan pada tahun 2009 ini terlambat datang, sehingga pengolahan tanah dan penanaman baru bisa dilakukan setelah musim hujan turun stabil, yaitu pada bulan Oktober 2009. Target panenan jagung baik untuk HMT maupun jagung pipilan pada bulan Desember 2009, baru dapat dilakukan mulai bulan Januari 2010.
  3. Faktor kondisi keamanan yang belum kondusif menyebabkan banyak petani penggarap yang tidak mau menanam jagung untuk tujuan jagung pipilan, sehingga untuk tahap pertama pertanaman jagung ditujukan untuk hijauan makan ternak. Untuk selanjutnya apabila budidaya jagung ini sudah dilakukan semua petani dalam satu areal yang terkonsentrasi pada satu areal yang luas, baru akan dilakukan budidaya jagung untuk jagung pipilan. Untuk penanaman tahap kedua, telah diproyeksikan pertanaman seluas 1 hektar untuk jagung pipilan. Untuk mengatasi faktor keamanan ini telah disediakan petugas yang akan memantau keamanan lingkungan di kawasan pertanaman jagung.

 

PENUTUP

Pada pelaksanaan program Iptekda ini masih terkendala faktor internal maupun eksternal, sehingga capaian target  tidak terpenuhi, sehingga harus dilakukan revisi kegiatan baik dari produk yang akan dihasilkan serta target capaiannya.

Untuk faktor internal, akan dilakukan pendekatan secara intensif kepada para petani penggarap, agar bisa melaksanakan program budidaya jagung ini dengan sepenuh hati, sehingga dapat meningkatkan produksi baik biomasa maupun jagung pipilannya. Sudah barang tentu, apabila produksinya dapat ditingkatkan serta secara ekonomi menguntungkan, para penggarap di kawasan CSC-LIPI akan beralih menjadi petani jagung yang dibanggakan.

Mengatasi faktor eksternal terutama kekurangan air pada musim kemarau, harus dilengkapi dengan sarana pompa air serta kelengkapannya. Untuk daerah yang jauh dari sumber air, diperlukan selang air sampai 200 m'. Untuk itu apabila memungkinkan pada musim kemarau yang akan datang  akan diupayakan meminjam sarana dinas yang ada, atau membeli baru dari hasil keuntungan budidaya jagung.

Hubungan kerjasama antara Koperasi Pegawai Biotek-LIPI dengan para Kelompok Tani yang terlibat telah dituangkan dalam suatu surat perjanjian kerjasama (SPK), sehingga hak dan kewajiban masing-masing pihak dapat dilaksanakan sesuai kesepakatan bersama. Namun demikian apabila usaha ini sudah berjalan dengan baik, perlu ada perbaikan atau penambahan klausul yang disesuaikan dengan perkembangan selanjutnya.

Apabila program ini dapat berjalan dengan baik dan dapat menjadi contoh, tidak menutup kemungkinan para petani penggarap yang selama ini tidak mau bekerja sama dalam pengembangan budidaya jagung dapat bergabung dengan petani penggarap yang sudah tergabung dalam kelompok tani yang ada.

Diharapkan dengan adanya kegiatan Iptekda bagi masyarakat sekitar kawasan Cibinong Science Center akan lebih mengharmoniskan hubungan yang sudah ada, yang pada akhirnya LIPI dapat tempat di hati masyarakat sebagai tempat mencari nafkah serta saling membutuhkan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan CSC.

 

jagung3

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI