Biotek

LIPI – PAPUA KAJI BERAS MERAUKE MENUJU INDIKASI GEOGRAFIS

Merauke, Humas LIPI. Kabupaten Merauke, Papua pernah ditetapkan sebagai Lumbung Beras Indonesia Timur, karena mengalami surplus beras, dengan keberhasilan pertanian ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merauke berencana untuk menindaklanjuti hasil dari nilai tambah surplus beras tersebut. sebagai langkah positif mendaftarkan komoditas berasnya, “Beras Merauke”, sebagai Indikasi Georgrafis (IG) ke Kementerian Hukum dan HAM RI.

Langkah selanjutnya Pemkab Merauke melalui Organisasi Perangkat Daerah (OPD)-nya, Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah dan Penelitian dan Pengembangan (BAPPEDALITBANG) dan melakukan kerja sama terkait kajian penelitian Beras Merauke dengan Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI. Adapun bertujuan Kerjasama ini untuk menghasilkan kajian awal mengenai Beras Merauke untuk melangkah  dalam rangka menuju pendaftaran IG.

Melalui beberapa tahapan  yang dilakukan dengan penandatanganan naskah  29 Juli 2019 yaitu proses pengambilan sample tanah, air, benih; analisis laboratorium; Forum Group Discussion (FGD), dengan mengundang, kelompok tani, gabungan kelompok tani, penangkar benih, pengusaha beras, dan dinas-dinas pemerintah kabupaten yang terkait, dan perwakilan DPRD setempat, untuk melihat tanggapan masyarakat terkait proses pendaftaran Indikasi Geografis Beras Merauke yang ternyata langsung disambut antusias oleh masyarakat.

Dibutuhkan usaha menjaga produk kearifan lokal agar tidak diklaim oleh negara tetangga dan adanya sinergitas dan koordinasi antara pihak masyarakat dan PemKab. Merauke terkait tata kelola beras dari hulu dan hilir. ungkap Gebze, John Gluba Gepze. sebagai tokoh masyarakat Merauke, ditambahkannya “Perlu ada kejujuran dan kontrol dari pemda dan Lembaga Pelindung Indikasi Geografis (LPIG) supaya pedagang tidak asal mengaku-ngaku beras Merauke saja,“. Dirinya mengharapkan, “Perlu ada distribusi peran antara LPIG, BUMD Kab. Merauke, dan Bulog sehingga petani tidak mengalami kebingungan terkait bisnis proses pertanian dari hulu ke hilir,” ucapnya pada acara  FGD Tahap II, di Merauke.

Setiap daerah tentunya mempunyai perbedaan karakter yang ada pada beras Merauke disebabkan tanah yang subur dan juga dapat ditanami varietas jenis apa saja, jelas Enung Sri Mulyaningsih, Peneliti Puslit Bioteknologi-LIPI selaku koordinator kerja sama Kajian IG, lanjut Enung  “Untuk tingkat pertanian, sampel benih yang diteliti adalah varietas Inpari 32, Mekongga dan Ciherang dengan membandingkan benih yang diambil dari Merauke dan benih sejenis yang diambil dari Jawa Barat, ” ungkap  Enung.
 Ditambahkan Enung, “Hasil penelitian benih-benih tersebut menimbulkan perbedaan karakter dikarenakan pengaruh dari iklim, suhu, air dan tanah Kab. Merauke sehingga berbeda dengan benih asalnya. Hal ini lah yang menjadi ciri khas dari Beras Merauke dan patut untuk didaftarkan menjadi Indikasi Geografis Merauke”  jelasnya.

Sebagai informasi kegiatan FGD ini diakhiri dengan penetapan varietas terpilih serta susunan organisasi Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG). Harapannya, Merauke dapat dikenal tak sekadar sebagai salah satu bait lirik lagu nasional tapi juga karena ikon Beras Merauke-nya, serta menjadi lumbung pangan di wilayah Timur Indonesia. (Cas/,Ang/ed KS

Enzyme Production from Cassava Peels by Aspergillus awamori Kt-11: The Making of Natural Sweetener from Several tubbers

The use of cassava (Manihot esculenta Crantz) peel for enzyme production has not been widely used. The purpose of this study was to produce complex amylase enzymes from cassava peel by A. awamori KT-11 and apply them in the manufacture of natural sweeteners. Enzyme production is carried out on red and white cassava peel. Media of cassava peel sterilized, inoculated with 1% A. awamori KT-11, incubated for 5 days, then dried at 50°C and mashed. Making sugar is done on cassava flour, sweet potato ( Ipomoea batatas L), taro (Colocasia esculenta) and cocoyam (Xanthosoma sagittifolium) with different concentrations of 10%, 15%, 20%, and 15% and 20% enzyme concentrations. The hydrolysis process is carried out for 3 days at 60°C. The enzyme activity in red cassava peel was 405,006 U/mL and white cassava peel was 321,239 U/ml. The sugar produced in cassava, taro, sweet potato, and Cocoyam was 101.38 mg/mL, 81.18 mg/mL, 55.929 mg/mL, and 42.874 mg/mL, respectively. The results of TLC showed that cassava and taro sugar contain maltose, lactose and glucose, sweet potatoes contained glucose and dextrin and Cocoyam containing fructose. The sweetness level of sugar from cassava, taro, sweet potato and Cocoyam is 14 brix, 12 brix, 9 brix and 9 brix, respectively. ( Ruth Melliawati and Farida Rahman )

casava

Sumber/Full text : http://jurnal.biotek.lipi.go.id/index.php/annales/article/view/369/pdf

(ahm)

Diversity And Antimicrobial Activity Of Lichens Associated Actinomycetes In Cibinong Science Centre (CSC) And Cibodas Botanical Garden (CBG) Indonesia

Bioprospecting has developed to all biological taxa including procaryotic. Actinomycetes become interesting procaryotic because of the ability to produce important secondary metabolite for human life. Actinomycetes are known as the largest antibiotic producer that has a broad range habitat. Some research has been done to find new antibiotic from the various habitat of actinomycetes. One of the interesting habitats of actinomycetes which never been explored in Indonesia is lichens... Lichens as the symbiotic structure of alga and fungi areknown as the ecological niche of various kinds of microorganisms including actinomycetes. Cibinong Science Centre (CSC) and Cibodas Botanical Garden (CBG) have various species of trees as the habitat of lichens. These areas are known as one of the research locations to explore the biodiversity of Indonesia. The aims of this research is to study the diversity and antimicrobial potency of actinomycetes isolated from 10 lichen samples with various type of thallus; crustose, fructose and foliose. Lichen samples were grown on the bark of 9 trees species in CSC and CBG. Isolation process used three agar media; HV, YIM6 and YIM711 with cycloheximide and nalidixic acid. Molecular identification based on 16S rRNA gene sequence. Antimicrobial activity was tested to 65 isolates by agar diffusion method to Bacillus subtilis BTCC B.612, Escherichia coli BTCC B.614, Candida albicans BTCC Y.33, Staphylococcus aureus BTCC B.611, Micrococcus luteus BTCC B.552. Isolation process retrieved 125 isolates with the highest number grow on HV agar medium. Based on the sample, the highest number of actinomycetes were isolated from crustose lichen attached on the bark of Averrhoea carambola. A total 69 isolates were identified as the genera Actinoplanes, Amycolatopsis, Angustibacter, Kribbella, Micromonospora, Mycobacterium, and Streptomyces. The screening process showed 24 isolates have antimicrobial activity, with the highest inhibitory activity against Micrococcus luteus BTCC B.552. ( Agustina Eko Susanti , Shanti Ratnakomala , Wibowo Mangunwardoyo ,and Puspita Lisdiyanti)

lichens

 

Sumber/full text : http://jurnal.biotek.lipi.go.id/index.php/annales/article/view/368/pdf_1

(ahm)

Metode Dried Blood Spot (DBS) Sebagai Solusi Sampling Darah Daerah Terpencil

sri swasthikawatiSri Swasthikawati (Puslit Bioteknologi LIPI)


Dalam penelitian dan pengujian klinis yang menggunakan sampel darah, pengambilan sampel darah melalui intravena (venipuncture) sejauh ini merupakan metode gold standard yang umum digunakan (Ostler et al., 2014). Namun demikian, teknik sampling tersebut hanya dapat dilakukan oleh tenaga medis terampil sehingga menjadi kendala jika dilakukan di daerah terpencil yang jauh dari fasilitas kesehatan. Sampel darah yang diperoleh melalui venipuncture, selain membutuhkan peralatan yang lebih banyak, seperti syringe, alcohol swab dan tabung vakutainer, juga memerlukan prosedur penyimpanan, transportasi maupun pengiriman yang spesifik. Untuk menjaga kestabilan molekul target dalam sampel, sampel darah harus disimpan di dalam suhu 4˚C selama maksimal atau suhu -20˚C dan -80˚C untuk penyimpanan yang lebih lama, termasuk selama proses transportasi atau pengiriman. Hal tersebut berdampak pada biaya yang diperlukan dalam proses sampling. Oleh karena itu, metode sampling Dried Blood Spot (DBS) diperkenalkan sebagai alternatif yang menawarkan solusi dari kelemahan metode sampling darah konvensional, venipuncture.

peralatan sampling metode dbs

 

Sumber/Full teks : http://terbitan.biotek.lipi.go.id/index.php/biotrends/article/download/254/216

(ahm)

Actinobacteria: Sumber Biokatalis Baru Yang Potensial

ali taufik faturahman

Alfi Taufik Fathurahman (Puslit Bioteknologi LIPI) 

Actinobacteria atau dikenal juga dengan aktinomisetes, merupakan kelompok bakteri gram positif yang memiliki kandungan nukleotida G-C (Guanine dan Cytosine) tinggi pada DNA genom (Chavan, 2013). Bakteri ini juga termasuk ke dalam jenis filamentous bacteria karena dapat membentuk spora dan miselium sehingga morfologinya mirip seperti cendawan berfilamen (Das dkk., 2008; bizuye dkk.,2013).

Gambar 1 menunjukkan salah satu contoh isolat Actinobacteria yang ditumbuhkan pada media padat ang mengandung pati dan kasein. Secara fisik bakteri ini terlihat kompak, membentuk kerucut ke permukaan media dan umumnya dilingkupi dengan miselium aerial, yakni kumpulan hifa yang tumbuh secara vertikal di atas substrat (Ranjani, Dhanasekaran, and Gopinath 2016).

actinobacteria

Sumber/full teks : http://terbitan.biotek.lipi.go.id/index.php/biotrends/article/download/257/219

(ahm)

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI