Print

LIPI Offers Bio-refinery to Support Bio-energy Use

LIPI Offers Bio-refinery to Support Bio-energy Use(Foto : Istimewa)

Thursday, 11 October, 2018 | 08:56 WIB

TEMPO.CO- The Indonesian Institute of Sciences (LIPI ) is offering bio-refinery technology to support the government`s policy on the use of biofuels for transportation facilities.

"We need to provide solutions in the development of biomass through bio-refinery technology, so that it can immediately become an alternative energy source," Deputy of Life Sciences at LIPI Prof. Enny Sudarmonowati stated at the 5th ISIBio international symposium held on Wednesday.

Sudarmonowati remarked that extensive research on the use of non-starch biomass had been conducted by Indonesian researchers, but the development has not been optimal.

According to Sudarmonowati, the development of bio-refinery technology to convert biomass into biofuel and other chemical products requires biomass pretreatment technology to produce enzyme products as catalyst or biocatalyst components.

Print

Riset Terbaru LIPI, Pemanfaatan Biomassa dari Kelapa Sawit dan Tebu untuk Bioethanol

isibio2018Limbah sawit (Foto : Istimewa)

Trubus.id- Guna mewujudkan produksi energi alternatif dari biomassa yang lebih murah dan efisien, ilmuwan dari lembaga ilmu penelitian Indonesia (LIPI) telah bekerja sama dalam konsorsium untuk melaksanakan riset biorefineri secara terpadu. Yang tergabung dalam konsorsium LIPI ialah Pusat Penelitian Bioteknologi, Pusat Penelitian Biologi, Pusat Penelitian Biomaterial dan Pusat Penelitian Kimia.

"Konsorsium ini mendapat dukungan dari program JST-JICA SATREPS Project," kata Yopi, peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI yang juga manajer proyek biorefineri, saat ditemui Trubus.id di Bogor, Rabu (10/10).

Saat ini, riset yang sedang dikerjakan ialah pengembangan biorefineri terpadu dengan dasar pemanfaatan biomassa dari industri kelapa sawit dan tebu untuk produksi bioethanol serta bioplastik dari mikroba lokal.

Print

Teknologi Fermentasi Jadi Solusi Pakan Sapi

sni pakanPengungsi Gunung Agung memberi pakan sapi di salah satu lahan milik warga di Kabupaten Klungkung, Bali, 28 September 2017. ( Foto: Antara / Wira Suryantala )

Ari Supriyanti Rikin / FERSenin, 13 Agustus 2018 | 16:24 WIB

Bogor - Indonesia belum sepenuhnya mampu mencapai swasembada daging sapi. Pakan yang belum berkualitas sulit mendorong pasokan sapi yang bisa dikonsumsi. Padahal dengan teknologi fermentasi pakan dan penambahan nutrisi, peternak tidak lagi paceklik pakan saat musim kemarau tiba.

Secara tradisional, pakan ternak sapi misalnya hanya mengandalkan hijauan (rumput). Namun saat musim kemarau kering melanda, miskin rumput. Sebaliknya saat musim hujan, sumber melimpah namun kadang tidak optimal dimanfaatkan.

Koordinator Pusat Unggulan Iptek Bioteknologi Peternakan Sapi Potong dan Sapi Perah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Yantyali Widyastuti mengatakan, pakan memiliki pengaruh besar terhadap kualitas sapi.

"Pakan sapi saat ini harus ramah lingkungan. Sebelumnya banyak yang menggunakan bahan kimia, kini tidak boleh lagi, karena akan berpengaruh pada kesehatan manusia yang mengkonsumsinya," katanya di sela-sela Workshop Evaluasi Kualitas Pakan dan Ekologi Rumen untuk meningkatkan Produktivitas Sapi Potong dan Sapi Perah di Cibinong Science Center-Botanical Garden, Bogor, Senin (13/8).

Print

LIPI: Evaluasi kualitas pakan tingkatkan produktivitas sapi

Senin, 12 Agustus 2018 16:41 WIB

pakanIlustrasi - Peternakan sapi. (Humas IPB/Wahyu Darsono dan Tim)

Hal ini dilakukan agar pakan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan ternak sapi.

Bogor (Antaranews Megapolitan) - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mendorong dilakukan evaluasi terhadap kualitas pakan untuk meningkatkan produktivitas sapi perah maupun potong guna mewujudkan swasembada daging dan susu.

"Hal ini dilakukan agar pakan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan ternak sapi," kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Pusat Bioteknologi LIPI Syamsidah Rahmawati pada kegiatan workshop bertajuk "Evaluasi Kualitas Pakan dan Ekologi Rumen untuk Meningkatkan Produktivitas Sapi Potong dan Sapi Perah" di Cibinong Science Center, Bogor, Jawa Barat, Senin.

Menurut Syamsidah, penggunaan pakan berkualitas dan suplemen pakan yang tepat fungsi dan teruji unggul di dalam rumen sangat diperlukan untuk meningkatkan produktivitas ternak sapi potong dan sapi perah di Indonesia.

Kadar nutrisi dan kualitas pakan, lanjutnya, penting untuk, diketahui dan diuji terlebih dahulu sebelum diberikan kepada ternak sapi.

Print

LIPI Dorong Peningkatan Kualitas Sapi Lewat Evaluasi Kualitas Pakan

13 Aug 2018

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berupaya membantu pemerintah mewujudkan swasembada daging dan susu dengan riset untuk mengembangkan jenis sapi unggul, baik potong maupun perah lewat pakan berkualitas serta menciptakan lingkungan yang sesuai untuk perkembangan ternak sapi. Khusus untuk pakan, lembaga riset ini melalui Pusat Penelitian Bioteknologi mendorong evaluasi kualitas pangan untuk meningkatkan produktivitas sapi. Menjawab kebutuhan evaluasi pakan tersebut, LIPI pun menyelenggarakan Workshop Evaluasi Kualitas Pakan dan Ekologi Rumen untuk Meningkatkan Produktivitas Sapi Potong dan Sapi Perah pada Senin, 13 Agustus 2018 di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Bogor, 13 Agustus 2018Penggunaan pakan berkualitas dan suplemen pakan yang tepat fungsi dan teruji unggul di dalam rumen sangat diperlukan untuk meningkatkan produktivitas ternak sapi potong dan sapi perah di Indonesia. Kadar nutrisi dan kualitas dari pakan penting untuk diketahui dan diuji terlebih dahulu sebelum diberikan pada ternak sapi. “Hal ini dilakukan agar pakan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan ternak sapi untuk dapat berproduksi secara optimal baik untuk produksi daging ataupun susu,” kata Plt. Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Syamsidah Rahmawati.
 
Sayangnya, kata Syamsidah, selama ini pengujian kualitas pakan dilakukan dengan menggunakan analisa standar laboratorium yang terkadang melalui prosedur yang rumit dan memerlukan waktu yang lama, serta memerlukan bahan kimia lain dalam analisanya. Hal ini memungkinkan timbulnya pencemaran lingkungan sebagai akibat dari penggunaan bahan kimia selama proses pengukuran dan pengujian. “Inilah yang perlu dievaluasi,” tekannya.

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI