Print

Teknologi Fermentasi Jadi Solusi Pakan Sapi

sni pakanPengungsi Gunung Agung memberi pakan sapi di salah satu lahan milik warga di Kabupaten Klungkung, Bali, 28 September 2017. ( Foto: Antara / Wira Suryantala )

Ari Supriyanti Rikin / FERSenin, 13 Agustus 2018 | 16:24 WIB

Bogor - Indonesia belum sepenuhnya mampu mencapai swasembada daging sapi. Pakan yang belum berkualitas sulit mendorong pasokan sapi yang bisa dikonsumsi. Padahal dengan teknologi fermentasi pakan dan penambahan nutrisi, peternak tidak lagi paceklik pakan saat musim kemarau tiba.

Secara tradisional, pakan ternak sapi misalnya hanya mengandalkan hijauan (rumput). Namun saat musim kemarau kering melanda, miskin rumput. Sebaliknya saat musim hujan, sumber melimpah namun kadang tidak optimal dimanfaatkan.

Koordinator Pusat Unggulan Iptek Bioteknologi Peternakan Sapi Potong dan Sapi Perah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Yantyali Widyastuti mengatakan, pakan memiliki pengaruh besar terhadap kualitas sapi.

"Pakan sapi saat ini harus ramah lingkungan. Sebelumnya banyak yang menggunakan bahan kimia, kini tidak boleh lagi, karena akan berpengaruh pada kesehatan manusia yang mengkonsumsinya," katanya di sela-sela Workshop Evaluasi Kualitas Pakan dan Ekologi Rumen untuk meningkatkan Produktivitas Sapi Potong dan Sapi Perah di Cibinong Science Center-Botanical Garden, Bogor, Senin (13/8).

Pakan sapi yang mengandung bahan kimia bisa mengancam kesehatan manusia yang mengkonsumsi daging sapi. Bahkan, kata Yantyali, bisa menyebabkan kanker. Dulu praktik menambahkan bahan kimia tertentu dilakukan peternak untuk meningkatkan bobot sapi. Sejak tahun 2009, penambahan bahan kimia tertentu sudah dilarang. Hanya saja masih ada praktik itu di lapangan.

Dalam teknologi pakan yang digagas LIPI, sumber lokal hijauan seperti rumput dan pohon jagung dipakai dan ditambahkan nutrisi sebagai konsentratnya seperti mineral, probiotik dan enzim. Dengan teknologi pakan ini, kelak saat musim kemarau, peternak tidak perlu khawatir kekurangan pakan sebab punya lumbung pakan dari pakan hasil fermentasi itu.

"Hijauan itu kita buat silase, ditambah probiotik menjadi konsentrat. Dari hasil riset dan pengembangan kita, sudah bisa menghasilkan 8 ton per jam. Rencananya sudah ada perusahaan yang tertarik mengkomersialkan pakan konsentrat ini di Jawa Barat," paparnya.

Dari riset yang sudah dilakukan LIPI, Kepala Laboratorium Mikrobiologi Terapan ini pun mengungkapkan, LIPI juga fokus pada fermentasi rumen untuk sapi potong. Di sini diteliti sejauh mana nutrisi dari fermentasi pakan itu bisa optimal di pencernaan sapi menjadi sumber energi sapi sehingga nantinya bisa menaikan berat badan.

Dalam komposisi ideal, untuk sapi perah, komposisi pakannya 60 persen hingga 70 persen hijauan dan 30 persen konsentrat. Sedangkan untuk sapi potong, 60 persen hingga 80 persennya konsentrat dan 20 persen hingga 40 persen hijauan.

Peningkatan produktivitas sapi potong maupun sapi perah saat ini memang menjadi tuntutan utama. Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian (Kemtan), hingga tahun 2018, Indonesia baru dapat memenuhi kebutuhan daging sapi sebesar 70 persen dan sisanya masih impor.

Sementara itu, kebutuhan susu nasional tercatat berkisar 4,5 juta ton, namun produksi susu lokal baru mencukupi sebanyak 19 persen atau sekitar 864.600 ton. Hal ini mengakibatkan adanya impor susu dalam jumlah yang sangat besar yakni 3,65 juta ton atau sekitar 81 persen dari total konsumsi.

Sumber: Suara Pembaruan

SUMBER : http://www.beritasatu.com/nasional/505296-teknologi-fermentasi-jadi-solusi-pakan-sapi.html

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI