Darbepoetin Berpotensi Jadi Terapi Gagal Ginjal

Rabu, 30 Desember 2015
BANDUNG, KOMPAS - Darbepoetin generasi II eritropoetin, temuan peneliti di Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, akan diproduksi PT Biofarma. Penggunaan darbepoetin berpotensi meningkatkan harapan hidup pasien gagal ginjal.

Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Bambang Sunarko memaparkan, agar darbepoetin diproduksi pihaknya mengembangkan gen darbepoetin sintetik bersumber dari Bank Sel Riset (RCB). Penyerahan RCB kepada Biofarma dilakukan di Bandung, Jawa Barat, Senin (28/12). Acara tersebut dihadiri Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain.

"Gen yang dikembangkan berasal dari gen mamalia yang punya kemiripan dengan gen di tubuh manusia yang berfungsi produksi eritropoetin," kata Bambang.

Nama sel atau gen mamalia ialah CHO DG44. Gen EPO itu diperoleh secara sintetik yang dipesan pada perusahaan DNA 2.0. Secara alamiah, tubuh manusia memproduksi protein tersebut Namun, yang dikembangkan LIPI ialah produksi EPO dalam sel DG44. "RCB yang diserahkan ke Biofarma ialah sel DG44 yang mengandung protein EPO manusia," kata peneliti Pustlit Bioteknologi UPI, Ning Herawati.

Direktur Utama Biofarma Iskandar mengatakan, sebelum diproduksi akan dilakukan karakterisasi gen RCB dan pengujian. "Biofarma meneruskan karakterisasi RCB yang sebelumnya dilakukan LIPI berskala laboratorium. Karakterisasi lanjutan butuh 6 bulan," ujarnya.

Karakterisasi lanjutan bertujuan meningkatkan kestabilan RCB yang memproduksi darbepoetin sehingga berkinerja konstan saat diproduksi massal di pabrik. Setelah produksi stabil, skala ditingkatkan. Itu butuh 3 tahun.

Sebelum dilempar ke pasar, uji klinis akan dilakukan setahun demi menjamin keamanan produk. Setelah 4 tahun percobaan, baru bisa produksi komersial darbepoetin. yakni Darbepoetin alfa.

Ahli Utama Pengembangan Produk Biofarma, Neni Nurainy. menjelaskan, darbepoetin punya gugus gula lebih banyak daripada EPO generasi pertama. Jadi frekuensi pemberian ke pasien sekali seminggu. "Pada obat EPO generasi sebelumnya, dosis 2 kali seminggu. Darbepoetin 2 kali lebih efektif," ujarnya.

Darbepoetin dan obat EPO terdahulu berfungsi menstimulasi pembentukan sel darah merah di tubuh. Itu untuk mengobati anemia berat yang kerap dialami pasien gagal ginjal dan yang dikemoterapi Pada pasien itu, jumlah eritropoetin tak diproduksi ginjal tak cukup.

Menurut Bambang, riset EPO dilakukan sejak 2005. melibatkan Konsorsium EPO, bagian dari Forum Riset Vaksin Nasional Konsorsium antara lain terdiri dari peneliti di Puslit Bioteknologi LIPI, Universitas Gadjah Mada, dan Biofarma Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Enny Sudarmonowati menilai kerja sama penelitian lembaga riset dan industri penting untuk hi-lirisasi inovasi (YUN/CHE)

» Sumber : Kompas, edisi 30 Desember 2015. Hal: 14

LIPI Gandeng Biofarma Kembangkan Obat Anemia

Rabu, 30 Desember 2015

BANDUNG - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan Biofarma mengembangkan erythropoietin (EPO) generasi kedua sebagai obat anemia bagi pasien gagal ginjal. Generasi kedua ini diklaim memiliki waktu paruh yang relatif lebih lama sehingga lebih efektif dan jauh lebih hemat.

Tahapan pengembangan EPO generasi ke dua menjadi obat ditandai dengan penyerahan research cell bank (RCB) dari LIPI ke Biofarma di Bandung, Senin (28/12). Perusahaan farmasi milik pemerintah ini. nantinya yang akan mengembangkan cell bank untuk EPO generasi ke dua ini menjadi obat.

"Biofarma akan meneruskan penelitian yang dilakukan oleh LIPI, mudah mudahan dalam beberapa tahun mendatang sudah siap dijadikan produk," kata Iskandar, Direktur Utama Biofarma di Bandung, kemarin.

Menurutnya masih ada sejumlah riset lanjutan yang akan di lakukan oleh bio farma seperti uji karakterisasi, pengujian klinis dan pra klinis hingga cell bank ini bisa menjadi obat komersial. "Paling tidak dalam tiga empat tahun kedepan semoga sudah bisa di pasarkan," tambah Iskandar.

Bagi Biofarma sendiri pengembangan EPO generasi ke dua ini merupakan proyek pertama, pasalnya selama ini perusahaan farmasi milik negara ini lebih cenderung mengembangkan vaksin. "Kita masih memerlukan sekitar 60-an miliar lagi untuk mengembangkan cell bank ini menjadi obat" tambah Iskandar.

Selama ini, kebutuhan akan obat berbasis EPO ini mencapai 200 ribu dosis per tahunnya. Indonesia mengimpor obat tersebut dari Amerika, Korea dan China. nik/E-3

» Sumber : Koran Jakarta, edisi 30 Desember 2015. Hal: 4

Bio Farma Danai Riset Medis Rp 125 Miliar per Tahun

Bio Farma Danai Riset Medis Rp 125 Miliar per Tahun

Selasa, 29 Desember 2015 | 03:18 WIB

Research cell bank Erythropoeietin (EPO) generasi ke 2 yang diserahkan dari P2 Bioteknologi LIPI pada Bio Farma di Bandung, Jawa Barat, 28 Desember 2015. Vaksin yang dibuat dan dikembangkan oleh anak bangsa ini akan digunakan untuk terapi pasien cuci darah, kemoterapi, dan anemia. TEMPO/Prima Mulia

TEMPO.CO, Jakarta -PT Bio Farma menyiapkan alokasi dana Rp 125 miliar per tahun untuk riset bidang medis. Produsen vaksin milik pemerintah ini memulai riset ke bagian hulu di lokasi baru yakni Bogor, Jawa Barat.

Direktur Utama PT Bio Farma, Iskandar mengatakan, riset ini sebagai bagian dari upaya pemerintah mencapai kemandirian bahan baku obat. Kemandirian ini dibicarakan oleh Menteri Kesehatan ketika bertemu pengusaha farmasi beberapa waktulalu. "Pemerintah meminta ketersediaan bahan baku, atau (jika tidak) perusahaan asing sepenuhnya masuk," kata Iskandar, di kantornya Jalan Pasteur, Bandung, Jawa Barat, Senin, 28 Desember 2015.

Merdeka.com: Inovasi bioteknologi ini diharapkan bantu pasien kemoterapi

kemoMerdeka.com - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) saat ini memang tengah gencar melakukan kerjasama penelitian dengan pihak swasta maupun industri. Kali ini, kerja sama LIPI bersama Bio Farma akan mengembangkan penelitian terkait Erythropoietin.

Pengembangan Erythropoietin ini diklaim bisa membantu terapi pada pasien cuci darah, kemoterapi, dan anemia. Sebagai tahap awal peluncuran hasil temuan, LIPI menyerahkan Research Cell Bank (RCB) EPO kepada Bio Farma untuk dilakukan kajian lebih mendalam.

Kepala Pusat Penelitian (Puslit) Bioteknologi LIPI, Dr. Bambang Sunarko mengemukakan, riset terkait EPO tersebut sebenarnya sudah dilakukan di Puslit Bioteknologi LIPI sejak tahun 2005 silam.

Inovasi bioteknologi ini diharapkan bantu pasien kemoterapi

kemoMerdeka.com - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) saat ini memang tengah gencar melakukan kerjasama penelitian dengan pihak swasta maupun industri. Kali ini, kerja sama LIPI bersama Bio Farma akan mengembangkan penelitian terkait Erythropoietin.

Pengembangan Erythropoietin ini diklaim bisa membantu terapi pada pasien cuci darah, kemoterapi, dan anemia. Sebagai tahap awal peluncuran hasil temuan, LIPI menyerahkan Research Cell Bank (RCB) EPO kepada Bio Farma untuk dilakukan kajian lebih mendalam.

Kepala Pusat Penelitian (Puslit) Bioteknologi LIPI, Dr. Bambang Sunarko mengemukakan, riset terkait EPO tersebut sebenarnya sudah dilakukan di Puslit Bioteknologi LIPI sejak tahun 2005 silam.

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI