Print

Sudah Perlukah Indonesia Mengembangkan Biorefineri Bagi Energi Alternatif ?

lub4

Pewarta: Laily Rahmawaty .
Bogor (Antara Megapolitan) - Biorefineri untuk mengubah biomasa menjadi bahan bakar hayati (biofuel) dan produk kimia lainnya saat ini sedang dalam tahap pembahasan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Badan Kerja Sama Internasional Jepang atau JICA bagi energi alternatif.Pembahasan itu dilakukan kedua pihak dalam simposium internasional yang berlangsung di Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Enny Sudarmonowati mengatakan urgensi biorefineri bagi produksi energi alternatif Indonesia sebagai pengingat karena penelitian terkait pemanfaatan biomasa non-pati sudah cukup banyak dikembangkan para peneliti di Tanah Air.

"Sayangnya pengembangan itu masih bersifat parsial sehingga implementasinya belum terlaksana secara baik," kata Enny. Ia mengatakan dalam pengembangan Biorefineri untuk mengubah biomasa menjadi bahan bakar hayati (biofuel) dan produk kimia lainnya, ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan. "Pertama, perlu pengembangan teknologi "pretreatment" biomasa untuk menghilangkan bagian yang tidak diperlukan," katanya. Yang kedua lanjutnya, perlu pengembangan teknologi produksi biokatalis/enzim yang efisien, karena biokatalis merupakan produk impor sehingga harganya tinggi. Dan yang ketiga, perlu pengembangan teknologi fermentasi atau reaksi yang terpadu agar proses menjadi lebih efisien.

Print

LIPI Kembangkan Super Mikroba Penghasil Biofuel

lab

Oleh: Ari Supriyanti Rikin / FER | Rabu, 27 September 2017 | 21:10 WIB

Bogor - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan super mikroba dengan rekayasa genetika guna menghasilkan energi alternatif. Potensi mikroba lokal Indonesia sendiri dinilai sangat besar untuk dijadikan pendukung teknologi proses (biorefeneri).  Manajer Proyek Biorefeneri yang juga peneliti Pusat Bioteknologi LIPI, Yopi mengatakan, dengan rekayasa genetika bisa menyeleksi 1 sampai 2 dari sekitar 2.000 mikroba lokal. Mikroba hasil seleksi itu dari kelompok Aktinomisetes dipastikan mampu memproduksi enzim yang bagus.  Dalam proses biorefeneri, biomassa membutuhkan mikroba untuk menguraikannya. Super mikroba digunakan menghasilkan enzim yang nanti dipakai untuk menghasilkan biofuel atau turunan lainnya.  "Brasil sukses membuat bioetanol dari pati dengan fermentasi mikroba.

Print

2 Tahun Lagi, Indonesia Bisa Produksi Biorefineri

deputi-bidang-ilmu-pengetahuan-hayati-lipi-enny-sudarmonowati-tengah-foto-mesyajpnnjpnn.com, BOGOR - Indonesia diprediksi bisa memproduksi bahan bakar dari biomasa nonpati atau biorefineri dalam dua tahun mendatang.

"Potensi pengembangan biorefineri di Indonesia sangat besar. Memang untuk memproduksi biorefineri butuh dana besar karena yang mahal adalah enzimnya. LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dengan teknologi itu mencoba membuat enzim yang bisa menghasilkan mikroba-mikroba untuk produksi kosmetika, bioetano, dan lainnya," kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Enny Sudarmonowati, Rabu (27/9).

Print

LIPI Kembangkan Biorefineri sebagai Energi Alternatif

lipiJakarta, HanTer – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama Badan Kerja Sama Internasional Jepang (ICA) menggelar International Symposium on Innovative Bioproduction Indonesia (ISIBio) ke-IV di Bogor, Jawa Barat, Rabu (27/9/2017).

Kegiatan tersebut bertujuan untuk membahas urgensi biorefineri bagi produksi energi alternatif di Indonesia. Di mana, dalam pemanfaatan sumber daya hayati untuk pemanfaatan berkelanjutan, biorefineri merupakan salah satu teknologi kunci yang mampu menggantikan posisi energi minyak berbasis fosil kedepan.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Enny Sudarmonowati menjelaskan, terdapat tiga hal penting dalam pengembangan teknologi bioproses (biorefineri) untuk mengubah biomasa menjadi biofuel dan produk kimia lainnya.

Pertama, kata dia, perlu pengembangan teknologi pre-treatment biomasa untuk menghilangkan bagian yang tidak diperlukan. Kedua, perlu pengembangan teknologi produksi biokatalis atau enzim yang efisien, karena biokatalis merupakan produk impor sehingga harganya sangat tinggi. Dan Ketiga, perlu pengembangan teknologi fermentasi atau reaksi yang terpadu agar proses menjadi lebih efisien.

"Jika kita dapat memadukan ketiga teknologi tersebut dengan tepat, dengan komposisi sumber daya lokal yang digunakan, maka diprediksi akan menghasilkan proses yang lebih efisien sekaligus menurunkan biaya produksi. Sehingga, produksi energi alternatif bisa berbiaya murah dan terjangkau digunakan oleh masyarakat," kata Enny di IPB International Convention Center, Bogor, Rabu (27/9/2017).

Print

Keren! LIPI Kembangkan Super Mikroba Sebagai Energi Alternatif

Agregasi Antara, Jurnalis · Kamis, 28 September 2017 - 07:40 WIB

keren-lipi-kembangkan-super-mikroba-sebagai-energi-alternatif-p8UwGy1cZ7

BOGOR - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Puslit Bioteknologi tengah mengembangkan Super Mikroba yang dapat menghasilkan berbagai macam produk turunan salah satunya Biorefineri sebagai energi alternatif penghasil bioetanol dan biokatalis.

"Target kami bulan ketiga tahun depan (Maret 2018) Super Mikroba ini diluncurkan," kata Dr Yopi Sunarya selaku manajer proyek Biorefineri di sela-sela Simposium Internasional ISIBio 2017 di Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (27/9/2017).

Super Mikroba dikembangkan oleh LIPI bekerja sama dengan Badan Kerja Sama Internasional Jepang atau JICA yang sudah berjalan selama empat tahun.

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI