Print

Ini Sebabnya Program Pembuntingan Sapi di RI Sering Gagal

Muhammad Idris - detikfinance
Rabu, 22/06/2016 08:12 WIB
 
Ini Sebabnya Program Pembuntingan Sapi di RI Sering Gagal Foto: Muhammad Idris

Bogor -Swasembada daging sapi, sudah lama diupayakan pemerintah-pemerintahan sebelumnya. Salah satunya yakni pembibitan (breeding) sapi lewat inseminasi buatan (IB). Saat era Presiden Soeharto, perbanyakan sapi di peternak rakyat pernah digalakkan dengan IB, namun kemudian jalan di tempat.

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Iskandar Zulkarnain, mengatakan perkara breeding tak hanya pada proses pembuntingan sapi saja. Yang lebih rumit justru saat menjaga indukan saat hamil, sampai anakan sapi menjadi dewasa.

"IB sudah lama ada di Indonesia, tapi tidak optimal. Karena prosesnya panjang agar dapat kualitas sapi yang bagus, kalau impor (bakalan) sapinya sudah bagus, tinggal digemukkan saja, feedloter kan sebenarnya hanya pedagang saja," kata Zulkarnain kepada detikFinance di peternakan PT Karya Anugerah Rumpin, Bogor, Selasa (21/6/2016).

"Kemudian jika dilakukan IB, harus cari indukan yang sehat, meski bibit unggul tapi sakit-sakitan tidak bisa, ada kriteria, nggak sembarangan. Yang paling penting, indukan juga harus dirawat, selama ini program IB, kebanyakan induk sapi tidak dirawat," tambahnya.

Perawatan induk dan anak inilah, jelas Iskandar, yang jadi tolak ukur keberhasilan usaha pembibitan. Sementara, peternak rakyat tanpa pendampingan sulit untuk melakukannya. Di sisi lain, bagi perusahaan swasta, proses tersebut memakan waktu lama da investasi besar.

"Perputaran uangnya lama, investasinya besar. Kalau peternak kecil kan tidak dirawat dengan baik sapi indukannya. Padahal dengan IB, kita bisa mendesain kualitas sapinya, bisa tentukan sapinya mau jantan apa betina. Tinggal mau rawat apa nggak?" tandas Iskandar.(ang/ang)

Sumber : http://finance.detik.com/read/2016/06/22/081249/3239042/4/ini-sebabnya-program-pembuntingan-sapi-di-ri-sering-gagal

Print

Presiden Jokowi Instruksikan Kementan Stop Bagi-Bagi Sapi ke Peternak

Presiden Tinjau Pembibitan Sapi Lokal Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi pemilik PT Karya Anugerah Rumpin (KAR) Karnadi Winaga (kiri) mengunjungi tempat pembiakan dan penggemukan sapi PT KAR di Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (21/6). Di lokasi tersebut telah berhasil dilakukan pembibitan sapi lokal unggul yang berkualitas sebagai sebuah program jangka panjang menuju swasembada daging. (antara foto/widodo s. jusuf)
MedanBisnis - Bogor. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menargetkan swasembada bisa dilakukan paling tidak pada 9 tahun mendatang. Alasan lamanya keberhasilan swasembada, karena sektor hulu atau pembibitan sapi belum dibenahi dengan baik.
Untuk mencapai swasembada, menurut Jokowi, perlu adanya perubahan program peternakan pemerintah, seperti menghentikan kebijakan bagi-bagi sapi yang selama ini rutin diberikan Kementerian Pertanian (Kementan). "Dan kita tidak mungkin lagi bagi-bagi sapi ke petani tanpa manajemen pengawasan dan pendampingan. Gagal kalau seperti itu diulang," jelas Jokowi di peternakan sapi milik PT Karya Anugerah Rumpin (KAR), Bogor, Selasa (21/6).

Program yang efektif untuk mencapai swasembada sapi, sambungnya, bisa dilakukan dengan kerja sama antara swasta dan peneliti seperti yang dilakukan KAR dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Rumpin ini.

Anakan sapi hasil pembibitan itulah yang kemudian dibagikan kepada peternak kecil, kemudian dilakukan pendampingan dan pengawasan secara ketat selama masa pemeliharaan.

"Ini menurut saya sudah bagus. Ada swastanya, ada peneliti LIPI. Di tempat lain, Mengatas, Sumatera Barat, dikerjakan total oleh Kementan. BUMN Berdikari juga akan sama dengan yang ini," jelas Jokowi. "Semuanya sudah berjalan pada rel yang betul. Hanya perlu konsisten terus, jangan berhenti. Kita harus pakai pola seperti ini. Jadi diberikan kepada petani, tapi ada yang mendampingi, paling penting di situ," tambahnya.

Pada kesempatan itu Presiden Jokowi mengatakan Indonesia masih perlu impor sebelum menuju swasembada daging. Tujuannya, selain untuk memenuhi permintaan, impor daging juga untuk mencegah sapi betina produktif dipotong untuk konsumsi. "Ini kan memang proses panjang, bukan instan. Kalau konsisten dan terus menerus saya kira bisa swasembada daging. Sebelum swasembada, mau tidak mau untuk konsumsi sementara sebagian impor," ujar Jokowi. "Karena kalau tidak impor justru induk-induk sapi betina yang baik disembelih. Ini bahaya, harus dihindari," tutur Jokowi.

Dia menambahkan, harga daging yang rendah di negara berkisar Rp 55.000-Rp 60.000/kilogram (kg) bukan sekadar cerita, melainkan informasi yang dia peroleh langsung dari lapangan. Oleh sebab itu, Jokowi meminta agar harga daging terus ditekan hingga di bawah Rp 80.000/kg.

"Harus dikejar terus dan saya kira sekarang ini ada BUMN, swasta, ada 10 yang bergerak di pasar. Pelan-pelan harganya akan ketarik turun. Nyatanya, swasta dan BUMN bisa jual dengan harga Rp 70.000-Rp 80.000/kg," tutur Jokowi.

Dia mengatakan dengan harga yang terjangkau, maka masyarakat lebih mudah untuk memenuhi kebutuhan daging, terutama saat hari raya seperti Ramadan dan Idul Fitri.

Kelemahan Peternak
Direktur Utama PT Karya Anugerah Rumpin (KAR) Karnadi Winaga mengatakan belum juga terwujudnya swasembada daging sapi disebabkan oleh masih minimnya perusahaan peternakan yang mau melakukan usaha pembibitan (breeding). Pembibitan lebih banyak dilakukan peternak secara tradisional. "Sebab lainnya, selama ini peternak rakyat tidak memiliki data-data genetik pada sapi yang dipeliharanya, sehingga membuat peternak kesulitan menghasilkan bibit sapi unggul," kata petinggi perusahaan penggemukan (feedloter) yang juga telah lama merintis bisnis breeding sapi di Indonesia.

Kondisi ketidaktahuan dan ketiadaan data tersebut, jelasnya, membuat banyak peternak lokal akhirnya mengawinkan sapinya dengan sapi yang masih sedarah. Dampaknya, kualitas anakan yang dihasilkan tidak optimal."Tidak ada data-data itu sebabkan sapi lokal akhirnya inbreeding atau kawin sedarah. Kalau kita karena tahu, kita bisa kawinkan dengan yang darahnya berbeda, artinya di situ kita tahu keunggulan-keunggulan yang kita mau kawinkan, jadi hasilnya makin baik," terangnya.

Kondisi tersebut, menurut Karnadi, seharusnya jadi perhatian pemerintah dalam memperbaiki kualitas sapi untuk tujuan swasembada."Makanya kita kerja sama dengan LIPI. Kita catat data genetiknya, kemudian mereka kembangkan dengan kawin persilangan. Tugas pemerintah ini," pungkasnya. (dtf/ant)

Sumber : http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2016/06/22/241563/kementan-stop-bagi-bagi-sapi-ke-peternak/#.V3Xn8_mqmwk

Print

Mampukah Indonesia swasembada daging sapi?

Print

Ke Rumpin, Jokowi Saksikan 'Pembuntingan' Sapi

Muhammad Idris - detikfinance
Selasa, 21/06/2016 12:48 WIB
 
Ke Rumpin, Jokowi Saksikan Pembuntingan Sapi
Foto: Muhammad Idris

Bogor -Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyambangi peternakan sapi milik PT Karya Anugerah Rumpin (KAR), Jl Raya Cibodas, Desa Cibodas, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Seperti kebiasaannya, Jokowi yang mengenakan kemeja putih lengan panjang ini datang ke tempat peternakan tersebut pada pukul 11.00 WIB. Di sini, mantan Walikota Solo ini ingin menyaksikan proses pembuntingan sapi lewat proses inseminasi buatan.

Ada 5 sapi yang disiapkan untuk dihamili dengan sperma dari sapi unggulan lokal tersebut, semuanya berasal dari sapi peranakan Ongol.

Proses pembuntingan kelima sapi sedianya akan disaksikan langsung oleh Jokowi, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menristek Dikti Muhammad Nasir, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, dan Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain.

Namun kemudian, Jokowi hanya memantau proses inseminasi buatan tersebut. Sesekali, dirinya hanya mendengarkan penjelasan proses pembuntingan sapi dari Direktur KAR, Karnadi Winaga.

Usai blusukan di kandang sapi, Jokowi langsung bergegas ke Cimanggis, Depok, untuk memantau progres pembangunan Tol Depok-Antasari.

Sebelum meninggalkan Rumpin, Jokowi sempat berhenti sejenak turun dari mobilnya, tak jauh dari peternakan untuk membagi-bagikan paket sembako kepada masyarakat sekitar.(feb/feb)

Sumber: http://finance.detik.com/read/2016/06/21/124838/3238355/4/ke-rumpin-jokowi-saksikan-pembuntingan-sapi

Print

Pemerintah Kembangkan Bibit Sapi Guna Capai Target Swasembada Sapi

Ternak sapi

(Berita Daerah – Jawa) Presiden Joko Widodo hari ini, Selasa (21/6), melakukan kunjungan kerja ke Bogor, Provinsi Jawa Barat dalam rangka meninjau program pembangunan jalan tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi). Seusai melakukan peninjauan Jokowi menyempatkan waktu untuk meninjau peternakan sapi milik PT Karya Anugerah Rumpin (KAR), yang berlokasi di Desa Cibodas, Kecamatan, Rumpin, Kabupaten Bogor.

Presiden menjelaskan, peternakan tersebut merupakan proses hulu pembibitan sapi potong yang merupakan bagian dari program jangka panjang, yang diharapkan nantinya betul-betul dapat swasembada daging sapi sendiri.

Menurut Jokowi dari hitung-hitungan yang dilakukan prosesnya akan selesai 9-10 tahun lagi, untuk itu sangat penting tahapan seleksi guna mendapatkan sapi-sapi yang bermutu dan memiliki performa yang baik dalam memproduksi sperma. Hasilnya dapat dibagi-bagikan, baik kepada industri maupun kepada petani.

Presiden Jokowi juga menambahkan bahwa, satu tahun kita membutuhkan kurang lebih 2-3 juta sperma beku yang terus menerus, sehingga  kalau itu sampai 6 tahun itu baru mencapai hulunya selesai swasembada. Akan Tetapi itu masih dihilirkan lagi, dan butuh 3-4 tahun sehingga 9-10 tahun itu akan bisa diselesaikan, ujar Jokowi.

Melihat potensi peternakan tersebut pemerintah yakin, jika hal tersebut dilakukan dengan baik dan konsisten, dan terus menerus, maka target 9-10 tersebut dapat tercapai.

Saat ini, lanjut Presiden, kita mempunyai 7 lokasi yang sudah ada, yang menurutnya sangat baik, dan melibatkan  swastanya, ada peneliti LIPI-nya (di bawah Dikti). Sementara tempat lain, seperti di Mangatas di Sumatera Barat dikerjakan total oleh Kementerian Pertanian. Ada juga nanti yang mulai dengan pola yang lain, BUMN, nanti Berdikari juga akan melakukan hal yang sama seperti ini. tetapi akan dikerjasamakan dengan Spanyol atau Brazil.

Terkait teknologi pembibitan sapi yang telah dimiliki Indonesia saat ini, Presiden Jokowi menegaskan, semuanya sudah berada pada area yang betul. Hanya diingatkan oleh Presiden bahwa hal ini perlu konsistensi terus, jangan berhenti. Pemerintah tidak mungkin lagi membagi-bagi sapi ke petani, tanpa sebuah persiapan manajemen pengawasan, manajemen pendampingan, hal tersebut sangat penting, ujar Jokowi.

Soal harga daging Presiden menilai bahwa jika negara lain harga daging itu bisa Rp 55.000-60.000 per kg, mestinya kita di sini juga mengarahnya kesana. Sehingga harga daging Rp 80.000 itu bukan tidak dikalkulasi. Dengan kalkulasi, itu pun juga masih pada posisi di tengah.

Presiden juga menyepatkan menyaksikan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Kementerian Pertanian dan Kementerian Ristek dan Dikti tentang Riset, Pengembangan, dan Implementasi Inovasi Bidang Pertanian yang ditandatangani oleh Menteri Pertanian Amran Sulaiman dan Menristek Dikti M. Nasir.

Panda/Journalist/BD
Editor : Agustinus Purba
image  : setkab

Sumber : http://beritadaerah.co.id/2016/06/21/pemerintah-kembangkan-bibit-sapi-guna-capai-target-swasembada-sapi/

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI