Print

Kurangi Kegagalan Singkong di Pascapanen, LIPI Gandeng Swiss

 

JAKARTA – Tingkat produksi singkong di Indonesia terus meningkat tapi permasalahan masih terjadi pada masa pascapanen. Situasi yang menyebabkan menurunnya nilai ekonomi dari ubi kayu ini pun mendorong LIPI untuk menggandeng Eidgenössische Technische Hochschule (ETH) Zürich, Swiss.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH) Enny Sudarmonowati menerangkan,  singkong saat ini cukup menarik perhatian karena potensinya sebagai Modified Cassava Flour (Mocaf) atau modifikasi tepung singkong. “Mocaf dapat digunakan untuk menggantikan gandum serta sumber baku untuk biofuel, seperti bioetanol,” terangnya melalui keterangan pers, Rabu (20/7).

Meskipun sebelumnya singkong dikenal sebagai makanan cadangan pada saat kekeringan, bencana kelaparan dan perang, saat ini singkong telah muncul sebagai skala besar yang penting. Menurut dia, tingkat produksi singkong saat ini terus meningkat. Hal tersebut membuat Indonesia menempati urutan terbesar ketiga di dunia sebagai negara penghasil singkong setelah Nigeria dan Thailand.

Berdasarkan data statistik Food Asscociation Organization (FAO) 2013, diperkirakan Indonesia berpotensi lebih besar menjadi produsen Singkong dibandingkan Thailand. Namun permasalahan justru muncul, yakni tingginya kerusakan singkong pascapanen. “Ini sebagai akibatnya rendahnya daya tahan akar terhadap kerusakan setelah tanaman di cabut dari tanah,” katanya.

Menurut Enny, kerusakan fisiologis atau post-harvest physiological deterioration (PPD) ternyata terjadi di Nigeria sebelumnya. Sebanyak 40 persen singkong pascapanen Nigeria telah “hilang” akibat pembusukan PPD ini. Padahal negara tersebut, dia melanjutkan, merupakan salah satu negara penghasil singkong terbesar dunia.

Melihat permasalahan ini,  Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Bambang Sunarko mengatakan, LIPI dan Eidgenössische Technische Hochschule (ETH) Zürich pun melakukan kerja sama penelitian yang berjudul “Investigation of Natural Tolerance to Post harvest Physiological Deterioration and Development of Methods to Prolong Shelf-Life of Cassava Storage Roots”.

Tujuannya, untuk menemukan solusi guna menghambat pembusukan PPD pada singkong pascapanen. Sebab, permasalahan pascapanen ubi kayu ternyata cukup berpengaruh pada industri tapioka.

Republika

Sumber : http://www.kabarna.id/utama/kurangi-kegagalan-singkong-di-pascapanen-lipi-gandeng-swiss

Print

Singkong Harus Menjadi Komoditi Strategi Nasional

Reporter : ant | Editor : Iast | Jumat , 22 Juli 2016 - 00:40 WIB

Singkong Harus Menjadi Komoditi Strategi Nasional

Otonominews.com (Bpgor) - Ketua Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) Pusat, Suharyo Husein, mengatakan, singkong harus menjadi komoditi strategi nasional setara Pajale atau padi jagung dan kedelai.

"Harusnya menteri pertanian menjadikan singkong sebagai komiditi strategi nasional seperti Pajale," kata Huesin, dalam diskusi tentang Pengelolaan Pascapanen Ubi Kayu di Indonesia" yang diselenggarakan LIPI di Bogor, Jawa Barat, Kamis (21 Juli 2016).

Ia mengatakan, potensi singkong Indonesia sangat besar, hanya saja tidak mendapat dukungan kuat sehingga produksi masih rendah belum mampu mencukupi permintaan pasar.

Singkong merupakan tanaman pangan dan perdagangan. Sebagai tanaman perdagang, singkong menghasilkan starch, gaplek, tepung singkong, tepung mocaf, ethanol, gula cair, sorbitol, monosodium, glutamat, tepung aromatik dan pellet. "Singkong saat ini diperebutkan kegunananya terutama untuk pangan, industri, dan energi," katanya.

Secara nasional menurut data BPS (2003-2013) produksi, luas panen dan hasil singkong di Indonesia rata-rata pertumbuhan pertahun 2,66 persen. Pada 2013, produksi mencapai 23.936 ton, dengan pertumbuhan 5,55 persen, luas panen 1.0065,7 hektare, hasil kw/ha 224.

Ia mengatakan MSI memiliki visi Singkong sejahtera bersama. Karena singkong cukup potensial dikembangkan. Indonesia merupakan produsen singkong terbesar ketiga di dunia setelah Nigeria dan Thailand. "Setidaknya ada 12 produk berbasis singkong yang diperdagangkan saat ini," katanya.

Untuk meningkatkan produktivitas singkong, MSI mengembangkan model klaster industri agro singkong terpadu. Manfaat klaster dapat meningkatkan pendapatan petani Rp5 juta sampai Rp15 juta per bulan. Mensejahterakan keluarga petani dan pelaku agribisnis singkong lainnya.

"Singkong dapat membuka lapangan pekerjaan bagi buruh tani, pemuda pedesaan, menekan angka kemiskinan, menekan angka kriminalitas di pedesaan, memberikan keuntungan signifikan kepada investor," katanya.

Sementara itu, Peneliti dari Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember Achmad Subagio mengatakan singkong merupakan tanaman potensial di lahan marginal. Menurutnya, produksi singkong berdasarkan data BPS (2014) mencapai 24 juta ton per tahun. Nilai perdagangan bahan baku singkong mencapai Rp24 triliun per tahun.

Produk turunan singkong sangat beragam dan volume perdagangannya sangat besar, seperti tapioka mencapai 2,09 juta ton dengan nilai bisnis Rp10 triliun (2008), ekspor sorbitol mencapai 90.000 ton senilai USD 61 M, MSG, polywood dan lain-lain total Rp100 triliun. "Sayangnya pemerintah fokus pada Pajale, dan lahan basah (sawah) sehingga semua bantuan alat disalurkan kesana. Sementara lahan termaginalkan diabaikan," katanya.

Ia mengatakan, dari 188,2 juta hektar total daratan Indonesia, lahan sesuai pertanian 100,7 juta hektare, 24,5 juta hektar untuk lahan basah, 25,3 juta hektar sesuai untuk lahan kering tanaman semusim, dan 50,9 juta hektare untuk lahan kering tanaman tahunan. "Ada banyak lahan terlantar yang dapat dimanfaatkan untuk singkong seperti Sumbawa, lahan gambut juga potensial, lahan berpasir tepi pantai di Jember-Lumajang juga bisa,"

Sumber : http://otonominews.com/read/3311/Singkong-Harus-Menjadi-Komoditi-Strategi-Nasional

Print

LIPI Teliti Cara Menunda Kebusukan Singkong Pascapanen

Kamis, 21 Juli 2016 22:02 WIB

LIPI Teliti Cara Menunda Kebusukan Singkong Pascapanen
Singkong atau ubi kayu.. (Ist)
 
 Nigeria sebagai negara produsen singkong terbesar pertama di dunia mengalami kehilangan 40 persen singkong pascapanen karena pembusukan.
 
Bogor (Antara Megapolitan) - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tengah mengembangkan penelitian untuk menunda proses pembusukan ubi kayu atau singkong setelah dipanen, agar produksi lebih optimal sehingga mendorong kesejahteraan petani. 

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH) LIPI Enny Sudarmonowati dalam forum diskusi singkong di Cibinong Science Center, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis menyebutkan, tantangan utama produksi singkong adalah tingginya tingkat kebusukan tanaman umbi-umbian tersebut. 

"Nigeria sebagai negara produsen singkong terbesar pertama di dunia mengalami kehilangan 40 persen singkong pascapanen karena pembusukan," katanya. 

Ia mengatakan, belum banyak negara yang meneliti cara mencegah pembusukan pada singkong atau kerusakan pascapanen yang disebabkan oleh "post-harvest physiological" (PPD). Upaya yang dilakukan selama ini oleh masyarakat dilakukan dengan cara sederhana. 

"Seperti di Afrika, supaya tidak busuk, singkong yang mau dipanen dipotong dulu pucuknya," katanya. 

Metode sederhana mencegah kerusakan atau pembusukan pada singkong juga dilakukan petani lokal Indonesia, dengan cara memotong-motong singkong lalu merendamnya di dalam air, atau menyimpannya dalam lemari pendingin. Upaya tersebut dapat menunda pembusukan sekitar lima hari. 

Menurut Enny, pihaknya bekerjasama dengan ETH Zurich Swizerland untuk meneliti teknologi yang dapat mencegah kerusakan pada singkong pascapanen salah satunya menggunakan gen. 

Ia mengatakan, penelitian sebelumnya telah dilakukan dengan menyeleksi ratusan klon ubi kayu di tanah air. Dari ratusan klon tersebut terdapat sekitar enak jenis ubi yang unggul. 

"Upaya mencegah pembusukan atau kerusakan singkong pascapanen dilakukan dengan isolasi gen. Mengatur masa simpan singkong sampai 21 hari," katanya. 

Metode ini, lanjutnya, dengan cara mencari gen yang menghambat pembusukan, lalu memperbanyaknya dengan enzim. Terdapat beberapa jenis enzim yang digunakan, setidaknya ada lima jenis salah satunya gen yang berhubungan dengan skopoletin (warna biru pada singkong). 

"Melalui metode isolasi gen. Gen yang mempercepat pembusukan kita buang, dan enzim yang menghambat pembusukan kita perbanyak," katanya. 

Enny optimistis, teknologi menghambat proses kerusakan pada singkong dapat mendukung upaya ketahanan pangan. Mengingat singkong merupakan pangan mengandung karbon yang dapat menggantikan beras, gandum, terigu, maupun kedelai. 

Banyak riset (penelitian) yang telah dilakukan untuk meningkatkan produksi singkong, seperti menyeleksi ratusan jenis kelom singkong untuk mencari singkong unggul, melalui kultur jaringan, rekayasan genetika, molekular batang, maupun seleksi alam. 

"Dari ratusan kelom ini, ada lima jenis ubi yang digolongkan peka, medium dan paling tahan. Melalui proses alam, kita dapat menunda pembusukan singkong pascapanen selama 21 hari," katanya. 

Enny menambahkan, kerjasama penelitian yang dilakukan LIPI dan Swiss dapat menghasilkan teknologi yang dapat diaplikasikan secara sederhana kepada petani agar bisa diproduksi secara simultan. 

"Tujuan kerjasama ini untuk menemukan solusi guna menghambat pembusukan PPD pada singkong pascapanen," katanya.

Editor: Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Sumber : http://megapolitan.antaranews.com/berita/22951/lipi-teliti-cara-menunda-kebusukan-singkong-pascapanen

Print

LIPI-Swiss Kerja Sama Teliti Penanganan Singkong Pascapanen

Kamis, 21 Juli 2016 13:36 WIB

LIPI-Swiss Kerja Sama Teliti Penanganan Singkong Pascapanen
Ilustrasi,Ubi kayu (singkong). (Foto Antara/Dok)
 
 LIPI dan ETH Zurich bekerja sama mendeteksi PPD pada singkong, yang tujuannya untuk menemukan solusi menghambat PPD pada singkong pascapanen.
 
Bogor (Antara Megapolitan) - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggandeng Pemerintah Swiss melakukan kerja sama penelitian dalam penanganan masalah singkong atau ubi kayu pascapanen.

"Singkong merupakan sumber makanan dan sumber bahan baku industri bahkan energi potensial yang kita miliki, persoalan yang dihadapi adalah singkong mudah membusuk sehingga risiko kehilangan pascapanen cukup tinggi," kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH) LIPI Enny Sudarmonowati di sela diskusi tentang singkong di Cibinong Science Center Kabupaten Bogor Jawa Barat, Kamis. 

Ia mengatakan Pemerintah Swiss melalui ETH Zurich yakni perguruan tinggi berbasis teknologi ternama di Swiss tertarik untuk bekerja sama melakukan penelitian dalam rangka mengatasi masalah pascapanen singkong di Indonesia. 

Kerja sama mengenai singkong merupakan yang pertama kali. Swiss menawarkan teknologi (bioteknologi) yang dapat memutus percepatan pembusukan singkong sehingga memiliki daya tahan lebih lama dari biasanya. 

"Kerja sama LIPI dan Swiss sudah dimulai 2011, tapi khusus tentang singkong baru yang pertama kalinya," katanya. 

Menurut Enny, tingkat produksi singkong saat ini terus meningkat. Indonesia urutan terbesar ketiga di dunia penghasil singkong setelah Nigeria dan Thailand.

"Data statistik FAO 2013 Indonesia diperkirakan berpotensi lebih besar dari Thailand menjadi produsen singkong," katanya. 

Ia menyebutkan tingginya kerusakan singkong pascapanen merupakan akibat dari rendahnya daya tahan akar terhadap kerusakan setelah tanaman dicabut dari tanah.

Kerusakan fisiologi atau "post-harvest physiological deterioration (PPD) terjadi di Nigeria sebagai produsen singkong terbesar dunia. Sebanyak 40 persen singkong pascapanen Nigeria telah hilang akibat pembusukan PPD. 

"LIPI dan ETH Zurich bekerja sama mendeteksi PPD pada singkong, yang tujuannya untuk menemukan solusi menghambat PPD pada singkong pascapanen," katanya. 

Duta Besar Switzerland untuk Indonesia Yvonne Baumann mengatakan Indonesia negara produsen singkong besar di dunia. Pihaknya tertarik untuk bekerja sama agar permasalahan singkong pascapanen dapat diatasi.

"Swiss berperan mendorong ketahanan pangan dunia. Mewujudkan target SDGs. Kami tertarik membantu pengembangan singkong dapat mengatasi masalah kelaparan di dunia," katanya. 

Ia mengatakan banyak negara-negara miskin seperti Afrika mengalami kelaparan. Mereka termasuk negara yang mengkonsumsi singkong.

"Dengan mendorong perkembangan produksi singkong, serta teknologi pascapanen, kita dapat mewujudkan ketahanan pangan dunia," katanya. 

Yvonne menambahkan kerja sama penelitian dengan Indonesia diharapkan dapat dikembangkan, hasil penelitian dapat disebarluaskan ke negara luas sehingga ketahanan pangan dunia dapat terwujud.

LIPI mengadakan diskusi "Pengelolaan Pascapanen Ubi Kayu di Indonesia" menghadirkan sejumlah narasumber di antaraanya Ketua Umum Masyarakat Singkog Indonesia Pusat Suharyo Husen, Sholihin dari Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Malang, Ima M Zainuddin dari LIPI-ETH Zurich, Franky Djunaidy dari PT Indonesia Ethanol Industri, Lampung, Ahmad Subagio penemu Mocaf Universitas Jember dan Endang Y Purwani dari Balitbang Pascapanen Pertanian Bogor.

Editor: Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Sumber : http://megapolitan.antaranews.com/berita/22936/lipi-swiss-kerja-sama-teliti-penanganan-singkong-pascapanen

Print

LIPI Gandeng Negara Swiss Untuk Atasi Masalah Singkong dan Ubi Kayu

LIPI Gandeng Negara Swiss Untuk Atasi Masalah Singkong dan Ubi Kayu
Foto LIPI Gandeng Negara Swiss Untuk Atasi Masalah Singkong dan Ubi Kayu

bogor.Uri.co.id, CIBINONG – Rusaknya tamanaman ubi kayu atau singkong pasca panen membuat Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggandeng negara Swiss untuk mengatasi masalah tersebut.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hahayati, Enny Sudarmonowati menjelaskan, Indonesia berada diurutan ketiga dunia sebagai negara penghasil ubi kayu atau singkong.

Namun, meskipun tingkat produksi ubi kayu ini selalu mengalami peningkatan tetapi seringkali terjadi kegagalan pasca panen yang dilakukan oleh petani singkong di Indonesia.

“Singkong saat ini cukup menarik perhatian, sebab potensinya sebagai Modified Cassava Flour (Mocaf),” jelasnya saat menghadiri Fovus Group Discussion (FGD) di aula Bioteknologi LIPI di Cibinong pada Kamis (21/7/2016)

Lebih lanjut dia mengatakan, Mocaf atau modifikasi tepung singkong dapat digunakan untuk menggantikan gandum serta sumber baku untuk biofuel, seperti bioetanol.

“Kalau dulu orang menganggap singkong itu makanan cadangan saat kekeringan maupun untuk bencana kelaparan, tapi justru sekarang ini muncul sebagai skala besar yang penting dibandingkan bahan baku makanan yang lain,” ungkapnya.

Tak hanya itu, kata Enny, jika dilihat dari data statistik food association organization (FAO) 2013, diperkirakan Indonesia berpotensi lebih besar menjadi produsen singkong dibandingkan Thailand.

“Tapi masalahnya, terkadang muncul tingginya kerusakan singkong pasca panen setelah dicabut dari tanah,” tambahnya.

Kerusakan yang terjadi yakni kerusakan fisiologis atau post harvest physiological deterioration (PPD) seperti yang terjadi di negara Nigeria.

“Sebanyak 40 persen singkong pasca panen Nigeria telah hilang akibat pembusukan PPD ini, padahal negara tersebut salah satu negara penghasil singkong terbesar di dunia,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Bambang Sunarko menambahkan, pihaknya bekerjasama dengan Eidgenossische technische hochschule (ETH) Zurich melakukan kerjasama penelitian untuk menemukan solusi guna menghambat pembusukan PPD.

Penelitian yang melibatkan negara Swiss itu diberi nama Investigation of natural tolerance to post harvest physiological deterioration and development of methods to prolong shelf life of cassava storage roots.

“Permasalahan pasca panen ubi kayu ini ternyata cukup berpengaruh pada industri tapioka,” kata dia.

Sehinggan sangat diperlukan pengelolaan paska panen secara tepat untuk memperpanjang daya tahan ubi kayu atau singkong setelah dipanen.

“Apabila tidak segera diproses maka dapat mengalami penyusutan bobot dan pembusukan akibat mikroba,” tandasnya. (uri/agar/andebayang/HP)

Sumber : https://bogor.uri.co.id/read/5559/2016/07/lipi-gandeng-negara-swiss-untuk-atasi-masalah-singkong-dan-ubi-kayu

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI