Print

Jokowi Bertekad Wujudkan Swasembada Daging Sapi

 
Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Pemilik PT Karya Anugerah Rumpin (KAR) Karnadi Winaga (kiri) mengunjugi tempat pembiakan dan penggemukan sapi PT KAR di Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, 21 Juni 2016. Di lokasi tersebut telah berhasil dilakukan pembibitan sapi lokal unggul yang berkualitas sebagai sebuah program jangka panjang menuju swasembada daging. Antara/Widodo S. Jusuf

Jokowi Bertekad Wujudkan Swasembada Daging Sapi

Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Pemilik PT Karya Anugerah Rumpin (KAR) Karnadi Winaga (kiri) mengunjugi tempat pembiakan dan penggemukan sapi PT KAR di Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, 21 Juni 2016. Di lokasi tersebut telah berhasil dilakukan pembibitan sapi lokal unggul yang berkualitas sebagai sebuah program jangka panjang menuju swasembada daging. Antara/Widodo S. Jusuf

Bogor - Swasembada pangan yang menjadi cita-cita Presiden Joko Widodo (Jokowi) terus diupayakan secara sungguh-sungguh. Presiden Jokowi berjanji akan melakukan berbagai terobosan untuk menjadikan Indonesia mandiri di bidang pangan, khususnya daging sapi.

Saat melakukan kunjungan kerja ke Jawa Barat, Presiden Jokowi menyempatkan diri untuk meninjau peternakan sapi PT Karya Anugerah Rumpin di Jalan Raya Cibodas No. 99, Desa Cibodas, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (21/6).

Di lokasi itu, Presiden Jokowi juga meninjau proses pembibitan sapi potong yang berkualitas. Pembibitan tersebut merupakan program jangka panjang yang diharapkan dapat mengantarkan Indonesia menuju swasembada daging.

"Yang kita lihat di sini adalah proses di hulu pembibitan sapi potong dalam sebuah program jangka panjang yang kita harapkan nantinya kita betul-betul dapat melakukan swasembada daging sapi," kata Presiden Jokowi.

Presiden kemudian menuturkan bahwa program tersebut diperkirakan akan dapat diselesaikan dalam jangka waktu hingga 10 tahun ke depan. Hal tersebut dimaksudkan untuk menyeleksi sapi-sapi yang berkualitas.

"Dari hitung-hitungan yang kita lakukan, itu akan selesai antara 9 sampai 10 tahun karena kita harus menyeleksi untuk mendapatkan sapi-sapi yang mempunyai performa yang bisa dipakai untuk menghasilkan sperma yang nantinya dibagi-bagikan baik kepada industri maupun kepada petani," katanya.

Presiden juga menekankan kunci dari keberhasilan program tersebut ialah konsistensi yang dilakukan secara terus menerus agar memperoleh hasil yang diinginkan serta mengeluarkan semua potensi yang ada.

Presiden Jokowi mengatakan, saat ini teknologi pembibitan sapi di Indonesia sudah berada pada jalurnya.

"Semuanya sudah berada pada rel yang benar. Hanya sekali lagi, ini perlu konsistensi, jangan berhenti. Kita tidak mungkin lagi membagi-bagi sapi ke petani tanpa sebuah persiapan manajemen pengawasan dan manajemen pendampingan," ujar Presiden.

Namun demikian, Presiden mengingatkan bahwa untuk mencapai swasembada daging sapi merupakan proses yang panjang. Oleh karenanya, untuk sementara ini impor masih diperlukan dalam rangka memenuhi kebutuhan daging sapi bagi masyarakat.

"Ya sementara sebelum swasembada mau tidak mau untuk konsumsi sebagian impor dahulu, karena kalau kita tidak impor justru induk-induk sapi betina yang baik akan disembelih karena harga daging yang tinggi. Ini yang berbahaya dan harus dihindari," ujar Presiden.

Harga Daging Sapi Ideal
Lebih lanjut, Presiden menyebut bahwa harga daging sapi ideal yang seharusnya berlaku di Indonesia ialah sebesar Rp 80.000 per kg.

"Saya sampaikan bolak-balik kalau negara lain harga daging itu bisa Rp 55-60.0000 per kilogram. Ini bukan cerita, saya dapat invoicenya langsung. Ya mestinya kita di sini juga mengarahkannya ke sana sehingga saya menyampaikan Rp 80.000. Itu sudah dikalkulasi," ungkapnya.

Presiden menyatakan akan terus mengejar target realisasi harga daging sapi ideal tersebut. Menurutnya, saat ini pemerintah bersama swasta sudah melaksanakan operasi pasar untuk merealisasikan keinginan itu.

"Ya harus dikejar terus dan saya kira sekarang ini ada 10 perusahaan BUMN dan swasta yang bergerak di pasar menjual dengan harga Rp. 70-80.000," tutupnya.

Sebelumnya, dalam berbagai kesempatan, Presiden menegaskan keinginan untuk mewujudkan harga daging dan bahan-bahan pokok yang terjangkau sehingga masyarakat kecil bisa menikmati daging terutama pada saat Lebaran.

Pada kesempatan itu, Presiden Jokowi menyaksikan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Kementan dan Kemenristek Dikti tentang Riset, Pengembangan dan Implementasi Inovasi Bidang Pertanian yang dilakukan antara Menteri Pertanian Amran Sulaiman dan Menristek Dikti M Nasir.

Setelah meninjau kawasan pembibitan sapi ini, Presiden Jokowi menyaksikan penyerahan sembako Ramadhan di Kantor Desa Cibodas.

Novy Lumanauw/FMB

Sumber : http://www.beritasatu.com/ekonomi/371011-jokowi-bertekad-wujudkan-swasembada-daging-sapi.html

Print

Anak Sapi Jokowi Nanti Bernama "Tondon"

 
KOMPAS.com/Fabian J Kuwado Seekor sapi betina asal Sumba Ongol dipersiapkan untuk Jokowi. Sapi itu bernomor 002098.
 
 

BOGOR, KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo menyaksikan proses inseminasi buatan lima ekor sapi di feedloter milik PT KAR di Desa Rabak, Kecamatan Rumpin, Bogor, Jawa Barat, Selasa (21/6/2016).

Seekor sapi betina asal Sumba Ongol dipersiapkan untuk Jokowi. Sapi itu bernomor 002098. Jokowi pun menyaksikan seorang teknisi menyuntikkan sel sperma sapi jantan ke dalam saluran reproduksi sapi tersebut. "Pak Presiden kan diminta memilih nama anak sapi yang akan lahir dari sapi betina ini. Pak Presiden minta namanya 'Tondon'" ujar salah satu teknisi, Sri Maulidini.

Tondon, kata Dini, akan lahir sekitar sembilan bulan yang akan datang.

Adapun, nama calon anak sapi dari empat ekor sapi lainnya masing-masing diserahkan ke Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri BUMN Rini Soemarno, dan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. Proses inseminasi buatan itu cukup cepat, tak sampai satu menit. Teknisi mempersiapkan saluran reproduksi sapi betina dan memosisikan suntikan agar mudah dijangkau. Para menteri tinggal menyuntikkan sperma itu kepada sapi betina.

Dini menjelaskan, sel sperma sudah terlebih dahulu dipisahkan antara jantan dan betina di laboratorium.

"Jadi, kami tinggal milih, anak sapinya nanti itu mau jantan atau betina," ujar dia.

Kebanyakan, sel sperma yang disuntikkan adalah sel jantan. Sebab, sapi jantan memang dipersiapkan untuk dipotong dan dikonsumsi.  Selain menyaksikan inseminasi buatan dan meninjau feedloter, Presiden sekaligus menyaksikan penandatanganan MoU antara Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi dengan perusahaan penggemukan sapi itu.

Penulis : Fabian Januarius Kuwado
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2016/06/21/13404911/anak.sapi.jokowi.nanti.bernama.tondon.

Print

Ulang Tahun, Jokowi Kunjungi Ternak Sapi di Rumpin

1466495661873-640x449
 

Rumpin – bogoronline.com – Presiden Indonesia Joko Widodo, meninjau peternakan sapi PT Karya Anugerah Rumpin (PT KAR) di Kampung Paranje, Desa Rabak, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor.

Dalam kunjungan tersebut, Presiden didampingi Menristekdikti, Mohamad Nasir dan Mentan, Andi Amran Sulaiman serta Menteri BUMN, Rini Soemarno. Peninjauan tersebut dalam rangka kesiapan stok daging sapi dalam menghadapi lebaran Idul Fitri 1437 H.

Sementara itu Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir ketika mengunjungi industri peternakan sapi yakni PT Karya Anugerah Rumpin (PT KAR) di Bogor, Jawa Barat mengatakan,  kunjungan ini dalam rangka melihat implementasi hasil riset dan teknologi pada sektor peternakan.

“Kunjungan saya ini dimaksudkan untuk melihat dari dekat kerja sama Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan industri, yaitu PT Karya Anugerah Rumpin, dalam sektor peternakan,” ujar M Nasir menjelaskan kepada awak media.

Hasil pantauan media ini, Jokowi disambut pemilik feedloter kemudian meninjau sapi-sapi yang digemukkan. Salah satu pemilik, Hernadi, mengantarkan Jokowi melihat satu per satu sapi yang berada di kandangnya. “Ini sapi lokal, Pak. Awalnya beratnya hanya 200 kilogram. Sekarang sudah 400 kilogram,” papar Hernadi menunjuk salah seekor sapi.

Selain itu, Hernadi juga menunjukkan seekor sapi lokal yang dipersiapkan untuk pasar menengah ke atas. “Ini sapi lokal, tapi kualitasnya sama dengan wagyu. Ini nanti untuk steak,” lanjut Hernadi menjelaskan sapi lainnya. (die/BBN)

Sumber : http://bogoronline.com/2016/06/ulang-tahun-jokowi-kunjungi-ternak-sapi-di-rumpin/

Print

Career: Mengintip Profesi Peneliti

8 Jun 2016


Foto: 123RF


Tak dipungkiri, masalah klasik seperti  kurangnya dukungan dana, infrastruktur, hingga penghargaan masih menjadi kendala peneliti-peneliti di Indonesia. Tapi,  Dr. Prihartini Widiyanti, drg, M.Kes. (40), Dr. Ratih Asmananingrum (35), dan Olivia Mayasari Tandrasasmita M.Sc. (31), yang memilih menjadi peneliti di dalam negeri, mengaku optimistis. Bekal ilmu pengetahuan, pengalaman, dan prestasi terbaik membuat ketiganya yakin bahwa dunia penelitian Indonesia bisa bersaing di kancah internasional.   

 

Tidak Terikat
Dr. Prihartini Widiyanti, drg, M.Kes (40), Peneliti & Dosen Senior Universitas Airlangga (UNAIR), Surabaya, Finalis Kompetisi Wanita Karier Femina 2016
 
Walau berprofesi sebagai dokter gigi umum, waktu saya lebih banyak dihabiskan sebagai peneliti di Institut of Tropical Disease (ITD) dan menjadi dosen di Program Studi Teknobiomedik, Departemen Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Universitas Airlangga (UNAIR).
           
Berdiri tahun 1992, ITD berada di bawah Fakultas Kedokteran (FK) UNAIR. ITD diketuai oleh chariman dan semua fakultas di UNAIR boleh bergabung menjadi peneliti di sini. Karena sifatnya terbuka, tiap peneliti bebas untuk menciptakan pohon penelitian sendiri. Kami juga bisa terlibat dengan projek di instansi berbeda.
 
Saat ini saya tengah menekuni penelitian di dua cabang ilmu, yaitu penyakit tropik dan biomaterial. Dicabang penyakit tropic saya meneliti derajat keparahan stadium HIV melalui tumbuhnya jamur di rongga mulut. Hingga saat ini, secara in vitro (perocobaan lab) obat yang kami teliti terbukti mampu menonaktifkan virus. Namun, obat ini perlu naik ke tahap in vivo, yakni menggunakan medium hewan untuk percobaan.
 
Di sinilah kendalanya. Karena obat ini tidak bisa dicoba ke golongan tikus atau kelinci --obat HIV harus dicobakan ke golongan primata-- saya dan tim di ITD masih menunggu proses untuk bisa naik ke tahap in vito. Tiap penelitian memang butuh proses yang panjang. Mengingat  obat akan digunakan manusia, maka  tahap ujinya harus berlapis. Mulai dari tahap awal in vitro, in vivo, pre-clinical, clinical phase, hingga tahap commercial.
 
Namun, bukan berarti semua penelitian yang sudah lolos tahap akhir, commercial, dapat langsung bermanfaat, karena tak jarang kami juga menemukan kendala dalam proses produksi. Contohnya, salah satu produk penelitian berupa lampu halogen sudah lolos semua tahap, tapi sebenarnya lampu tersebut sudah ditawarkan ke BUMN, namun hingga kini belum diproduksi.

 

Menjadi Garda Depan
Dr. Ratih Asmananingrum (35), Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Pemenang Penghargaan L’oreal –UNESCO For Women in Science National 2013
Ketika lulus seleksi peneliti di Lembaga Penelitian Indonesia (LIPI) tahun 2005, saya merasa keputusan menjadi peneliti profesional sudah tepat. Jenjang karier di LIPI cukup jelas, mulai dari peneliti pertama, peneliti muda, peneliti madya, peneliti utama, hingga profesor riset. Saat ini saya adalah peneliti muda yang sedang mengajukan kenaikan karier ke tingkat madya.  
           
Anggapan bahwa profesi peneliti itu membosankan, menurut saya kurang tepat. Profesi ini justru sangat dinamis. Begitu pula soal penghargaan, dibandingkan 10 tahun lalu, rasanya kini kesejahteraan peneliti Indonesia sudah jauh lebih baik. Baik dalam hal pendapatan maupun dukungan dana penelitian. Di LIPI, misalnya, seorang peneliti akan mendapat tunjangan jabatan fungsional dan tunjangan kinerja.
           
Selain itu, lembaga swasta juga mulai aktif mendukung dana penelitian. Meski belum bisa menyamai kesejahteraan peneliti di luar negeri, rasanya hal ini menjadi angin segar yang mendorong kemajuan dunia penelitian di Indonesia.
 
Memang, ketika melakukan penelitian  kita bisa saja menemukan kesulitan atau keterbatasan. Soal ketersediaan alat, misalnya. Di LIPI, alat-alat penelitian cukup memadai hanya di tahap awal. Ketika penelitian harus mencapai tahap akhir, alat-alatnya kurang mendukung. Makanya, penelitian tahap akhir biasanya diselesaikan dengan cara bekerja sama dengan instansi lain yang memiliki alat-alat lebih lengkap. Kendala ini harus dihadapi dengan pikiran terbuka.
 
Saat ini, saya sedang meneliti obat kanker dan hepatitis berbasis protein rekombinan, yaitu interferon alpha 21. Produk penelitian ini diharapkan dapat meringankan beban pasien, mengingat lamanya terapi hepatitis bisa mencapai 48 minggu. (edit oleh Ahmad S.S.)

 

Perlu Idealisme dan Komitmen
Olivia Mayasari Tandrasasmita M. Sc. (31), Associate Principal Scientist Manager  PT Dexa Medica, Finalis Kompetisi Wanita Karier Femina 2016
Sejak duduk di bangku sekolah dasar, saya tak pernah merasa kesulitan bermain dengan angka dan rumus. Makin sulit soal mata pelajaran sains, saya justru  makin tertantang memecahkan jawabannya. Hingga akhirnya saya menemukan keasyikan saat berkutat membedah rumus dan terlibat dalam proses penelitian di laboratorium.
 
Di tahun terakhir masa kuliah di S-1 Jurusan Bioteknologi, Fakultas Teknobiologi, Universitas Atmajaya, saya sudah diterima bekerja di Dexa Medica sebagai scientist. Tugas saya saat itu sebagai scientist assistant.  Kini, setelah 10 tahun bekerja di Dexa Medica, saya dipercaya menjadi Associate Principal Scientist Manager.
 
Sebagai peneliti, tugas saya adalah mencari tahu mekanisme kerja dan fungsi suatu obat. Secara tidak langsung kita dituntut untuk selalu ingin tahu dan punya hasrat tinggi dalam melakukan riset. Saya orangnya cukup idealis dan tak mau pindah jalur. Perusahaan tempat saya bekerja ini punya komitmen penuh untuk melakukan riset sejak awal.
 
Berbeda dengan peneliti independen, yang biasanya harus mengajukan proposal lebih dulu untuk mendapatkan dana penelitian. Tak dipungkiri, menjadi peneliti di perusahaan, research fund bukanlah kendala karena semuanya didukung oleh manajemen.
 
Namun, tingkat turn over yang tinggi dapat memengaruhi proses penelitian. Apalagi, suatu proyek penelitian biasanya memakan waktu selama 1 hingga 3 tahun, jadi butuh tim yang solid. Untuk itu, perlu komitmen tinggi untuk bertahan di perusahaan.
 
Sebagai peneliti, ada kebanggaan tersendiri ketika penelitian kita bisa dirasakan langsung manfaatnya oleh orang lain. Seperti ketika hasil penelitian saya, inlacin (obat diabetes) diluncurkan di pasaran. Waktu lima tahun saya habiskan untuk meneliti obat ini, terbayar ketika obat tersebut dijadikan rekomendasi utama para dokter spesialis kandungan untuk terapi pasien dengan polycytic ovary syndrome. (f)
 
 

Rizka Azizah

Sumber : http://www.femina.co.id/Career/mengintip-profesi-peneliti

Print

Penggunaan Hasil Riset untuk Pertanian Minim

Penggunaan Hasil Riset untuk Pertanian Minim
Foto : ANTARA FOTO/Dedhez Anggara
A   A   A   Pengaturan Font

 JAKARTA – Hasil riset teknologi dari para peneliti belum digunakan secara maksimal untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian. Sebab, hasil inovasi teknologi tersebut tidak sampai ke petani. 

Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti), Muhammad Dimyati mengatakan, karena hasil inovasi teknologi tersebut tidak sampai ke petani, akibatnya produktivitas pertanian menjadi rendah. “Hal itu karena teknologi itu kurang dimanfaatkan. Itu sangat disayangkan,” ungkapnya dalam acara bertajuk “Membumikam Hasil Riset Strategis untuk Kesejahteraan Petani” di Jakarta, Rabu (1/6).

Dia menjelaskan banyak teknologi yang dihasilkan dari hasil riset tetapi ada faktor tertentu yang menghambat produk riset sektor pertanian untuk menembus pasar yang selanjutnya dipakai petani. Menurut dia, pihaknya tengah mendalami faktor penghambat itu untuk dicarikan solusinya.

Adapun acara bertajuk “Membumikam Hasil Riset Strategis untuk Kesejahteraan Petani” tersebut merupakan kesepakatan antara beberapa peneliti dari dua kementerian dan tiga lembaga untuk mempercepat pemanfaatan hasil riset di sektor pertanian.

Dalam acara itu, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian (Kementan) menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan sejumlah lembaga riset lainnya seperti Kemenristek Dikti, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Pusat Penelitian Bioteknologi, dan Badan Teknologi Nuklir Indonesia (BATAN).

Melalui MOU tersebut, setiap lembaga menunjukan komitmennya untuk mempercepat terwujudnya kedaulatan pangan sesuai potensi yang dimiliki masing-masing lembaga untuk meningkatkan kesejahteraan petani. 

“Diharapkan integrasi antarpeneliti dan pemerintah terus diperkuat agar persoalan dapat diatasi, sehingga swasembada pangan bisa terwujud,” ungkap Kepala Balitbang Kementan Muhammad Syakir.

Lebih Terarah

Lebih lanjut Syakir menyampaikan kerja sama tersebut begitu penting karena pengembangan inovasi di sektor pangan menjadi lebih terarah dengan penemuan dan pengaplikasian sejumlah hasil riset lembaga peneliti yang ada.

Presiden Joko Widodo, terangnya, selalu mengatakan sektor pertanian saat ini harus berbasis teknologi. Sebab, model pertanian berbasis teknologi membuat Indonesia mampu bersaing dengan negara lain yang selama ini mengandalkan sektor pertanian. 

“Melalui kerja sama ini berbagai potensi akan kita gali untuk mempecepat terwujudnya swasembada pangan,” pungkasnya. ers/E-10

Sumber : http://www.koran-jakarta.com/penggunaan-hasil-riset-untuk-pertanian-minim/

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI