Biotek

Print

Mengenal Aptamer Si Oligonukleotida Pintar Dalam Diagnostik Molekuler

bugiTeknologi deteksi molekuler berbasis sel atau protein (EnzymeLink Immunosorbent Assay,Western blotting, Flow cytometry, atau Rapid test kit) baik untuk tujuan riset maupun diagnostik komersial dewasa ini masih menggunakan antibodi sebagai agen biologi utamanya. Klaim bahwa protein jenis ini cukup tangguh dalam mengenali molekul sasarannya menjadi faktor utama popularnya antibodi untuk tujuan deteksi berbasis protein. Namun demikian, kelemahan antibody yaitu stabilitas yang rendah, disamping harga produk antibodi di market Indonesia masih cukup mahal. Selain itu, spektrum pengenalan target molekul yang sempit membuat aplikasi antibodi pada diagnostik menjadi terbatas yaitu hanya pada molekulmolekul protein yang bersifat imunogenik terhadap antibody yang menjadi targetnya. Kelemahan tersebut telah mendorong para periset untuk mengembangkan biomolekul berbasis asam nukelat sebagai agen pendeteksi biologis.

Aptamer merupakan oligonuleotida pendek utas tunggal dengan panjang 8 sampai 100 basa dan proses penelitian dan pengembangannya sudah dilakukan lebih dari dua dekade lalu. Isolasi aptamer pertama kali dilakukan oleh Tuerk and Gold pada tahun 1990. Mereka menemukan RNA rantai pendek yang memiliki afinitas tinggi terhadap Bacteriophage T4 DNA polymerase melalui teknik SELEX (Selective evolution of ligands by exponential enrichment). Pengembangan teknik ini dilakukan oleh dua penelitian independen yaitu Robertson dan Joyce serta Ellington dan Szostak pada tahun yang sama menggunakan pustaka utas tunggal acak random single strand DNA library) yang lebih heterogen dimana RNA aptamer yang dihasilkan mampu memotong utas ganda atau double strandDNA secara spesifik atau mengenali molekul kimia berukuran cukup kecil. Sampai saat ini, penelitian aptamer untuk aplikasi bioteknologi (pangan, pertanian, lingkungan dan kesehatan) cukup impresif, 7000 lebih artikel penelitian telah dipublikasikan di PubMed[1].

 

aptamer

Aptamer untuk aplikasi diagnostik baru berkembang sekitar 5 tahun terakhir ini dimana Cina menjadi negara di asia yang paling intensif dalam pengembangan aptamer untuk diagnostik disusul oleh Amerika serikat, Jepang dan Korea Selatan[2]. Fakta yang mengejutkan adalah bahwa hanya sedikit sekali kit diagnostik berbasis aptamer yang telah dipasarkan di dunia saat ini akibat dua faktor yaitu imbas dari komitmen investasi dengan nominal yang fantastis dari para pengusaha pada pengembangan antibodi monoklonal dan pengabaian oleh para pemuka kepentingan (peneliti, pengusaha, dan pemerintah) terkait performa aptamer yang sudah teruji in vitro maupun in vivo menggunakan kaedah metodologi yang benar[3]. (Bugi Ratno Budiarto)


Baca artikel lengkap