Biotek

Menguak Potensi Padi Gogo dan Ubi Kayu Unggul Hasil Riset LIPI

Selama empat tahun terakhir Index Ketahanan Pangan Indonesia terus membaik. Tahun 2018 Indonesia berada di peringkat 65 dari 113 negara dari aspek ketersediaan, keterjangkauan, kualitas dan keamanan pangan menurut Global Food Security Index 2018. Perkembangan positif ini menunjukkan keseriusan pemerintah untuk terus memperbaiki kualitas pangan nasional.

Pangan Indonesia identik dengan beras. Selain beras, hasil pangan lain pengganti beras yang sangat familiar di masyarakat adalah ubi kayu. Memperingati Hari Tani Indonesia pada Selasa (24/9), LIPI mengenalkan hasil risetnya yaitu padi gogo varietas unggul dan ubi kayu kaya beta karoten sebagai upaya untuk mewujudkan ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani di Indonesia.

LIPI, melalui Pusat Penelitian Bioteknologi berkomitmen untuk terus menghasilkan riset unggulan. Diantaranya melalui pagi gogo dan ubi kayu Carvita. "Kedua varietas  bibit unggul  tersebut dihasilkan LIPI untuk menjawab persoalan pangan dan petani di Indonesia" ujar Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi, Puspita Lisdiyanti pada kegiatan media visit di Cibinong.

LIPI telah mengembangkan varietas unggul Inpago Go1, Inpago Go2, dan Inpago LIPI Go.4. "Ketiga jenis padi  tersebut dirancang agar tahan kekeringan dan adaptif, termasuk pada lahan berkadar alumunium tinggi, serta tanah masam dengan pH 3.2," jelas Enung Sri Mulyaningsih Peneliti Bioteknologi Pangan LIPI. Bahkan saat ini LIPI sedang mengembangkan varietas unggul lainnya yaitu jenis Padi Toleran Alumunium.

Dirinya menjelaskan padi gogo dapat ditanam dilahan marginal (kering dan gambut). Hasil panennya pun melimpah. Dalam kurung waktu 110-113 sejak ditanam, Inpago LIPI Go1 dapat menghasilkan 8.81ton/ha dan Inpago LIPIGo2. 8,15 ton/ha. Tak hanya itu di lahan kritis bekas karet pun, varietas ini mampu menghasilkan 4.5 ton gabah kering panen. Panen ini 3 kali lipat dari panen sebelumnya yang hanya 1.5 ton.  Uji coba penanaman pagi gogo telah berhasil dibeberapa lokasi yaitu Kalimantan Selatan, Lampung, Jawa Barat, NTB, dan Sulawesi Tenggara.

Sebagai negara yang menduduki posisi keempat negara penghasil ubi kayu di dunia dengan produksi rata-rata 20-21 juta ton pertahun, tentu  menjadi potensi tersendiri bagi Indonesia. Untuk riset singkong LIPI telah menghasilkan beberapa varietas unggul ubi kayu yang kaya akan beta karoten, protein, mineral, dan bebas gluten.  “Mayoritas ubi kayu yang dihasilkan petani Indonesia adalah jenis ubi kayu putih dengan kandungan beta-katoten yang rendah”, ujar Ahmad Fathoni, Peneliti Bioteknologi Pangan LIPI. Padahal semakin tinggi nilai beta-karoten dalam ubi kayu maka nilai nutrisinya pun meningkat.  Selain itu, ubi kayu jenis ini memiliki kandungan pati yang aman dikonsumsi bagi penderita diabetes.

Dirinya menjelaskan, setiap ubi kayu memiliki karakter yang berbeda dan berbeda pula potensi pemanfaatannya. Saat ini singkong varietas unggul yang dihasilkan antara lain Carvita 25, Revita RV1, Iding dan Adira.  “Selain menghasilkan ubi kayu varietas unggul, kami juga telah mengembangkan teknologi proses pengolahan ubi kayu menjadi tepung mocaf”, ujar Fathoni. Produk mocaf yang dihasilkan dari varietas unggul LIPI memiliki kualitas yang lebih baik dari sebagain mocaf yang beredar di pasaran.

Saat ini LIPI telah melakukan alih teknologi ke beberapa UKM binaan di Subang dan Boyolali. Bahkan beberapa UKM di daerah kewalahan memenuhi kebutuhan tepung mocaf yang begitu tinggi untuk diolah menjadi mie. “Stok ubi kayu terbatas, sehingga UKM kesulitan memenuhi permintaan yang cukup tinggi”, ujar Fathoni.

Prospek pengolahan ubi kayu menjadi mocaf sangat menjanjikan. Tepung mocaf mampu menjadi bahan pangan berkualitas dan diharapkan mampu mengurangi ketergantungan masyarakat Indoensia akan tepung terigu. Kondisi ini otomatis menjadi harapan baru untuk meningkatkan kesejahteraan petani, pengolah, dan pelaku industri untuk lebih mengoptimalkan pemanfaatan ubi kayu menjadi pangan berkualitas.(sa/edt:est)

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI