Biotek

Masteria Yunovilsa Putra, Menguak Potensi Biodiversitas Menjadi Obat Alami

Cibinong, Humas LIPI. Saat ditanya alasan apa yang mendorongnya ingin menjadi seorang peneliti? “Saya ingin berkontribusi nyata mendukung kemajuan iptek di Indonesia,” jawab Masteria Yunovilsa Putra mantap. Benar saja, kini hampir enam tahun pria kelahiran Padang tersebut telah menekuni karir sebagai peneliti di bidang Bioteknologi Kesehatan. Riset di bidang ini dipilihnya untuk mencari senyawa aktif dari biodiversitas laut yang berpotensi menjadi antikanker, antibakteri dan antivirus. Upaya akan tersebut terus dilakukan untuk menguak potensi senyawa aktif dalam bahan alami menjadi obat.

Kepiawaiannya sebagai peneliti, membuat doktor lulusan Universitas Marche Polytechic Italia ini didapuk menjadi Koordinator Penelitian Drug Discovery and Development pada Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI.  Kesibukannya semakin bertambah. Apalagi sejak LIPI dan Ristek-BRIN menjadi bagian dari Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. “Kebetulan saya menjadi Koordinator Kegiatan Uji Klinis Kandidat Immunomodulator dari Herbal untuk Penanganan Covid-19”, tuturnya. Kegiatan ini merupakan proyek kolaborasi dengan hampir 10 institusi untuk melakukan uji klinis terhadap kandidat immunomodulator yang berasal dari tanaman herbal. Jahe merah, cordyceps, sambiloto, meniran dan daun sembung akan diformulasikan menjadi immunomodulator bagi pasien covid-19 yang berstatus pneumonia ringan. “Obat herbal ini sifatnya mengobati dan meningkatan sistem imunitas tubuh untuk melawan infeksi virus. Salah satunya dengan minum vitamin, misalnya obat herbal. Namun tidak berlaku untuk pasien kronis yang membutuhkan ventilator,” ungkap pria kelahiran tahun 1984 tersebut.

“Sebenarnya ide ini muncul dari enam orang, akhirnya diapresiasi dan mendapat dukungan dari banyak pihak,” ungkap Masteria tersenyum. Obat herbal sebagai kandidat immunomodulator adalah tanaman alami yang tumbuh di Indonesia. Telah dikembangkan menjadi obat herbal dan teregistrasi di BPOM.  “Harapannya jika nanti tanaman herbal ini lulus uji klinis, ketersediaanya terjamin dan dapat mudah ditemukan di sekitar kita”, jelas pria yang pernah menempuh program postdoctoral di Universitas Florida Amerika dan Universitas Oldenburg Jerman tersebut. Selain itu, sebelum masuk ke tahap uji klinis, studi literatur terhadap tanaman herbal ini juga telah dilakukan, termasuk adanya kandungan senyawa aktif yang berfungsi sebagai antivirus dan antiinflamasi, seperti pada cordyceps.

Uji klinis immunomadulator ini akan dilakukan pada 90 pasien Covid-19 di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet. Terdapat dua produk yang akan di uji klinis, yaitu cordyceps militaris dan kombinasi herbal (rimpang jahe merah dan herbal lain). Kombinasi herbal ini sudah diformulasikan. Ada prototipe dan datanya serta memiliki izin edar dari BPOM. Konsumsi herbal akan dilakukan selama 14 hari. Selain itu diharapkan kedepan obat herbal ini tidak hanya untuk mengobati, namun dapat sebagai pencegahan untuk ODP dan PDP yang terindikasi covid-19.

Hingga saat ini hampir 33 publikasi telah dihasilkan. “Sebenarnya saya sudah tertarik dengan produk alami laut sejak menempuh pendidikan sarjana di Universitas Andalas Padang”, ungkap pria berambut ikal tersebut. Ketertarikannya menjadi keseriusan. Buktinya setelah lulus dengan predikat cumlaude pada tahun 2007, pria yang hobi menyelam tersebut berhasil memperoleh beasiswa untuk meneruskan pendidikan program master pada tahun 2007 dan lulus program doktor bidang Bioteknologi Laut pada Universitas Marche Polytechic.

Selepas menyelesaikan program doktor pada tahun 2012, Masteria memilih menjadi peneliti pada Pusat Penelitian Oseanografi untuk melanjutkan ketertarikannya meneliti bahan alami laut Indonesia yang beragam. “Indonesia adalah salah satu negara maritim terluas di dunia. Sumber daya hayati laut Indonesia sangat kaya, dan masih banyak yang belum di eksplor terutama dalam bidang farmasi untuk pencarian senyawa baru dari baik dari spons, karang lunak, tunicata, bakteri dan sumber daya hayati lain yang berpotensi sebagai obat”, ungkapnya.

Ia bercerita saat menempuh program master di Italia, spons yang hidup di laut Bunaken dipilihnya sebagai bahan thesis. Hasilnya ia berhasil menemukan zat anti malaria. Penelitian yang sama juga dilakukan ketika menempuh pendidikan doktor. “Waktu itu saya memutuskan untuk meneliti koral yang berada di Bunaken”, kenang Masteria. Ia berusaha meneliti beberapa senyawa aktif pada koral untuk mendapatkan senyawa glikolipid dengan gugus asitilen.”Biasanya glikolipid di alam itu gugusnya OH. Tapi saya berhasil menemukan gugus asetilen pada glikolipid,” paparnya antusias. Masteria menjelaskan bahwa senyawa tersebut dapat digunakan sebagai obat anti inflamatori. Obat tersebut dapat digunakan untuk menekan rasa sakit atau nyeri pada beberapa jenis penyakit.

Di sela- sela kesibukannya, pria ini juga menjadi pengajar di beberapa perguruan tinggi. Pria yang telah memiliki putra ini berharap nantinya dalam 10 - 20 tahun kedepan akan ada obat yang berasal dari organisme laut Indonesia. “Kondisi riset saat ini sudah banyak diapresiasi. Sarana dan prasarana riset terintegrasi dan dapat digunakan secara bersama-sama. Kolaborasi riset juga sangat dianjurkan untuk menghasilkan riset yang lebih beragam dan dapat dimanfaatkan oleh seluruh pihak,” tutupnya (sa).

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI