Biotek

Penemuan dan Pengembangan Enzim Asli dari Bioresources Indonesia untuk Industri Makanan

Cibinong, Humas LIPI. Aplikasi enzim pada kehidupan manusia sangat luar biasa. Kebutuhan enzim di pangsa pasar dunia diaplikasikan untuk berbagai industri yang meliputi tiga industri utama yaitu pangan, pakan dan teknis. Aplikasi enzim pada industripangan lebih dari 158 enzim,diantaranya untuk produksi pangan fungsional sebagai prebiotik, gula yang rendah kalori. Padaindustri pakan terdapat lebih dari 64 enzim yang bisa diaplikasikan untuk pakan sapi, unggas dan babi. Sedangkan di industri teknis terdapat lebih dari 57 enzim yang aplikasikan ke industri farmasi, tekstil, detergent, pulp paper dan biofuel. “Ketiga industri tersebut membuat market enzim semakin meningkat tiap tahunnya,” ungkap Dr. Eng. Nanik Rahmani salah seorang peneliti pada kelompok penelitian Rekayasa Bioproses, Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI pada acara Knowledge Sharing Seminar dengan Topik “Discovery and Development of Indigenous Enzymes from Indonesian Bioresources for Food Industry: Strategy Towards an Independency of Industrial Enzyme in Indonesia”. (14/7)

Dirinya menyampaikan konsumen utama enzim untuk industri adalah Amerika, Eropa Barat dan Asia Pacifik termasuk Indonesia. “Akan tetapi hampir 99% kebutuhan enzim untuk industri di Indonesia masih impor baik dari China, India, Jepang dan sebagian Eropa, ini dikarenakan Indonesia belum bisa mandiri untuk memproduksi enzim sendiri,” tutur Nanik.

 

Nanik mengungkapkan  bahwa  kekayaan megabiodiversitas baik berupa mikroba maupun biomasa yang berlimpah dan potensial untuk dimanfaatkan sebagai sumber enzim maupun sumber karbon untuk produksi enzim itu sendiri dengan kebaruan yang unik, spesifik untuk diaplikasikan pada industri tertentu, diantaranya industri pangan. “Penemuan enzim yang unik dengan karaktersitik spesifik yang sesuai dengan kebutuhan pasar industri tertentu menyediakan nilai yang berharga di bidang bioteknologi, khususnya biorefineri,” jelasnya penuh optimis.

 

Lebih lanjut Nanik menerangkan bahwa satu kandidat mikroba (strain Kitasatospora sp.) penghasil enzim xilanase dari sekitar 700 Actinomycetes Indigenous Indonesia mampu memproduksi dua tipe enzim dengan sifat katalitik yang berbeda dan mampu memproduksi baik xilosa dan xilooligosakarida (XOS) atau hanya XOS saja. “Kedua gen penyandi xilanase (GH family 10 dan GF family11) dari Kitasatospora sp. tersebut berhasil diisolasi dan diekspresikan dengan tingkat katalitik yang tinggi sehingga mampu menghidrolisis xilan dari sugarcane bagase dan tiga substrat xilan komersial (xilan beechwood, xilan oat, xilan birchwood) menghasilkan xilosa dan xilooligosakarida secara simultan,” rinci Nanik.


Pada akhir paparan Nanik mengungkapkan telah diperoleh strategi baru dengan biaya murah dan tingkat produksi yang tinggi secara simultan baik untuk produksi xilose dan XOS dari raw biomasa lignoselulosa. Kedua produk tersebut merupakan bahan baku untuk produksi prebiotik, bioethanol, xilitol, asam suksinat, dan bahan kimia lainnya. “Dengan penemuan ini membuka peluang untuk mengembangkan produksi enzim hidrolase khususnya xilanase dengan aktivitas tinggi dan mempunyai karakteristik spesifik dari mikroba Indiginos Indonesia untuk berbagai aplikasi di berbagai industri, khususnya industri pangan tutup Nanik,” tutup Nanik. (wt ed. sl)

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI