Biotek

Desain, Sintesis, dan Uji Aktivitas Biologi Analog Curcumin Baru sebagai Agen Anti-Kanker

Cibinong, Humas LIPI.Berdasarkan data WHO, penyakit kanker merupakan penyakit dengan kasus kematian tertinggi kedua di dunia, tercatat tahun 2018sekitar 9,6 juta kematian diakibatkan oleh penyakit kanker. Di Indonesia sendiri pada tahun 2018, jumlah kasus kanker tercatat 0,13% dan kematian akibat kanker mencapai 0,077 % dari total populasi penduduk.

Salah satu penyebab meningkatnya kanker ialah karena penyakit kanker merupakan penyakit yang dapat menyerang organ atau jaringan tubuh manapun ketika terdapat sel yang tumbuh tidak normal dan pertumbuhannya tidak dapat dikendalikan,ungkap Pekik Wiji Prasetyoningrum, M. Farm, Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI pada acara Knowledge Sharing Seminar dengan topik“Design, Synthesis, and Biological Evaluation of Novel Curcumin Analogs as Anti-Cancer Agents” (21/7).

Pekik yang juga salah seorang peneliti pada kelompok penelitian pengembangan produk biologi kesehatan di Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI menjelaskan,sel kanker juga dapat bermetastasis dari organ satu ke organ lainnya. Sel kanker yang bermetastasis cenderung lebih ganas dan dapat menyebabkan kematian,” jelasnya. “Selain tingkat keganasan dari kanker itu sendiri, faktor lainnya yang menyebabkan tingginya kasus kematian akibat kanker ialah tingginya efek samping dari pengobatan kanker (kemoterapi) yang tidak dibarengi oleh tingginya tingkat efikasi terapi,tambah Pekik.

Dirinya menyampaikan bahwapada umumnya obat-obatan kimia yang digunakan saat ini belum cukup selektif menghambat pertumbuhan sel kanker melainkan juga dapat menyerang sel normal yang berimbas terhadap penurunan kualitas hidup pasien yang justru memicu semakin parahnya penyakit yang diderita dan berujung kematian. “Perlu dilakukan berbagai usaha untuk menemukan obat kanker dengan efikasi yang tinggi dan efek samping yang rendah,” harap Pekik.

Pekik menerangkan,curcumin merupakan senyawa kimia yang memiliki aktivitas biologis yang cukup luas secara in vitro, salah satunya ialah mampu menekan pertumbuhan beberapa sel kanker, Namun secara in vivo, bioavailibilitas kurkumin masih cukup rendah, dikarenakan sifat kurkumin yang tidak stabil secara kimia, mudah dimetabolisme dan susah diabsorbsi.

Lebih lanjut Pekik menjelaskan,modifikasi struktur curcumin merupakan salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kekurangan kurkumin tanpa mengurangi aktivitas biologinya. “Pada penelitian ini dilakukan desain modifikasi struktur dan sintesis analog kurkumin monokarbonil asimetrik tersubstitusi basa Mannich. Hasil sintesis yang telah peroleh diuji aktivitas sitotoksisitasnya pada beberapa sel kanker seperti sel kanker serviks (HeLa), payudara (MCF-7) dan kolon (WiDr),” terang Pekik.

“Hasil pengujian menunjukkan bahwa aktivitas sitotoksisitas dari senyawa analog kurkumin tersebut tidak cukup baik pada sel HeLa dan MCF-7, sebaliknya pada sel WiDr senyawa analog kurkumin monokarbonil asimetrik tersubstitusi basa mannich metil piperazin, dietilamin dan morfolin menunjukan aktivitas yang cukup baik bahkan lebih baik dari kurkumin dan 5-fluorouracil. Sehingga dapat ditarik kesimpulan jika senyawa analog kurkumin monokarbonil asimetrik tersubstitusi basa Mannich memiliki potensi untuk dipelajari lebih lanjut sebagai obat anti kanker dan perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui bagaimana mekanisme molekular penghambatan pertumbuhan sel WiDr oleh senyawa-senyawa tersebut, tutup Pekik. (wt ed sl).

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI