Biotek

Mengenal Potensi Mikroalga Merah Termoasidofilik (Cyanidiales) Sebagai Sumber Pigmen

Cibinong, Humas LIPI.Saat ini, Mikroalga banyak dilirik karena keunggulannya sebagai sumber bahan baku baru dan terbarukan yang dapat dimanfaatkan untuk biofuel, farmasi dan nutrisi. Mikroalga disebut biota produktif, cepat tumbuh dan pembudidayaan mikroalga hanya memerlukan air, cahaya dan karbon dioksida. Dalam skala besar bahkan proses penangkapan atau pemanfaatan karbon dioksida di udara disinyalir secara signifikan dapat mengurangi efek rumah kaca. Penggunakan mikroalga sebagai bahan baku tidak bersaing dengan peruntukkannya sebagai bahan pangan seperti halnya umbi atau tanaman lain yang digunakan sebagai bahan baku biofuel. Selain itu mikroalga berperan penting dalam siklus oksigen di atmosfer dan sebagai produsen pertama pada rantai makanan di ekosistem perairan.

Mengenal Termoasidofilik (Cyanidiales)

Salah satu jenis mikroalga adalah mikroalga merah termoasidofilik. Termoasidofilik merupakan gabungan istilah antara termofilik dan acidofilik, dimana termoasidofilik ini merupakan mikroorganisme yang dapat tumbuh pada kondisi temperatur yang cukup tinggi dan pH yang rendah atau asam. “Termoasidofilik banyak ditemukan pada sumber air panas, sopatarik lingkungan, lingkungan dengan aktifitas geoternal dan kadang ditemukan pada sisa-sisa tambang yg memiliki pH asam. Mayoritas termoasidofilik ini adalah dari golongan arkea ataupun bakteri,” ungkap Dr. Delicia Yunita Rahman, M. Si, salah seorang peneliti pada Kelompok Penelitian Rekayasa Bioproses di Pusat Penelitan Bioteknologi LIPI pada acara Knowledge Sharing Seminar dengan topik “Mengenal Potensi Mikroalga Merah Termoasidofilik (Cyanidiales) Sebagai Sumber Pigmen,” (28/7).

Deliciamenjelaskan,termosidofilik atau “Cyanidiales adalah salah satu ordo mikroalga yang unik dari divisi Rhodophyta dan kelas Cyanidiophiceae yang merupakan uniselular mikroalga merah. “Cyanidiales umumnya ditemukan di lingkungan perairan yang memiliki temperatur dan tingkat keasaman yang tinggi dengan kisaran pH 0,5-3, suhu tinggi hingga 56°C, namun di beberapa lokasi bisa sampai 70°C. dan seringkali berasosiasi dengan aktivitas geoternal,”rinci Delicia.

Dirinya menerangkan pula ordo Cyanidiales terrbagi menjadi tiga genus yaitu, pertamaGenus Cyanidium dimana genus inihanya memiliki satu spesies yaitu Cyanidium caldarium, bentuknya bulat, ukurannya tidak besar sekitar 2-5 µm, tumbuh secara autotrof dan kebanyakan menggunakan ammonium dan nitrat sebagai sumber nitrogennya. Genus kedua adalah Genus Cyanidioschyzon, hanya memiliki satu spesies yaitu Cyanidioschyzon merolae bentuknya oval seperti kapsul dengan ukuran yang paling kecil dari spesies Cyanidiales lainnya sekitar 1.5-3.5 µm, hanya tumbuh di autotrop dan yang paling tidaktoleran terhadap garam. Sedangkan genus ketiga yakni Genus Galdieria memiliki paling banyak spesies dibanding genus lainnya yaitu ada Galdieria shulpuraria, Galdieria maxima, Galdieria partita Galdieria daedala, dan Galdieria phlegrea.

“Untuk “Galdieria shulpuraria yang berbentuk spherikal, memiliki ukuran lebih besar 3-11 µm apalagi jika ditemukan dalam heterotrop, Galdieria shulpuraria merupakan satu-satunya genus yg dapat tumbuh secara autotrop,miksotrop dan heterotrop,” terangDelicia.“Galdieria shulpuraria sudah banyak dipakai oleh peneliti-peneliti lainnya dan diketahui dapat menggunakan sekitar 27 jenis gula dan polyols sebagai sumber karbonnya, dan mungkin akan lebih banyak lagi karena penelitiannya masih terus berjalan,” imbuhnya.

“Secara global distribusi genus dan spesies Cyanidiales tersebar luas, disepanjang ring of fire terutama di temukan di daerah volkanik,” ungkapnya. Delicia juga menyontohkan daerah ditemukannya genus Cyanidiales salah satunya yg paling terkenal yaitu “Galdieria shulpuraria dari yellowstone.Di Indonesia Galdieria sulfuraria ditemukan dari Gunung Lawu dan di Puslit Bioteknologi LIPI juga pernah melakukan isolasi mikroalga merah ini yang berasal dari kawah rengganis Jawa Barat

Hubungan Cyanidiales dengan fotopigment,

Delicia menyebutkan mikroalga banyak mengandung fotopigment dimana salah satu klafisikasi mikroalga yaitu dengan fotopigment yg dimiliki, dengan adanya sumber makronutrien dan mikronutrien, cahaya matahari dan CO2 dapat menghasilkan klorofil, karotenoit, astaxanthin, dan fikosianin. “Fikosianin merupakan salah satu bagian dari fikobilisom, yang merupakan supramolekul kompleks yang terletak di membran terluar dari thylakoid membran fungsinya sebagai light-harvesting yang menangkap energi dan mentrasfernya ke core photosintesis,”tutur Delicia.

Dirinya menyebutkan ada 3 fikobilisom yaitu allofikosianin, fikosianin, dan fikoerithrin. Dari ketiga fikobilisom, fikosianin adalah yang paling dikenal dan digunakan secara komersil. “Fikosianin terdiri dari dua komponen yaitu kromofor dan protein. Kromofor inilah yang memberikan khas warna biru pada fikosianin. Fikosianin sendiri merupakan fikobiliprotein yang ditemukan dalam berbagai cyanobacteria dan beberapa rhodophyta seperti pada genus-genus dari ordo Cyanidiales ini,” terangnya.

“Yang mendasari penelitian ini yaitu segala sesuatu yg kita gunakan, kita minum, kita makan sedikit banyak pasti ada tambahan pewarna, untuk meningkatkan daya tarik dan ketertarikan untuk menerima makanan ini, oleh karena itu fikosianin sebagai alternatif pewarna biru yang dapat digunakan sebagai pewarna makanan, minuman, kosmetik dan sebagai fluorescent markers pada diagnostik biokimia, banyak juga digunakan sebagai antioksidan dan anti inflamatori,” tutup Delicia.(wt, ed sl)

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI