Biotek

BIOTEKNOLOGI : Mempercepat Sengon Tumbuh 2 Kali Lipat


Jumat, 20 Agustus 2010

Pada dasarnya, transformasi genetika yang diterapkan Enny Sudarmonowati, periset pada Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, tidak hanya melulu pada sengon yang bisa dipercepat pertumbuhannya sampai hampir dua kali lipat.

Bioteknologi, dalam hal ini transformasi genetika (transgenik), memungkinkan upaya mempercepat pertumbuhan semua jenis tanaman produksi kehutanan yang biasanya mencapai puluhan tahun,” kata Enny, Kamis (19/8) di Jakarta.

Puspita Lisdiyanti : Mendapat Dukungan Penuh Suami

Di Jepang ia banyak menemukan jenis mikroba dan dinamakan dengan nama Indonesia.

Selesai kuliah di Tokyo University of Agriculture and Technology pada 1992, Puspita kembali ke Indonesia dan langsung bekerja di LIPI sebagai peneliti.

Sampai di Indonesia, ia sempat bingung karena infrastruktur penelitiannya masih minim. Kenyataan itu sempat membuat ia sedih. Untung kesedihan itu tak berlangsung lama. LIPI langsung menyediakan tempat penelitian yang bagus buat Puspita.

TEKNOLOGI MIKROBIOLOGI : Aktinomisetes untuk Antibiotik

Sejumput tanah dan serasah dari 13 lokasi kebun raya di sejumlah provinsi di Indonesia ditelisik para ahli mikrobiologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Alhasil, salah satu bioprospeksi diperoleh berupa bakteri aktinomisetes lokal yang bisa memperbarui kualitas obat antibiotik.

Setahu saya, produksi antibiotik kita masih dari lisensi negara-negara lain. Kita perlu mengembangkan produksi antibiotik dengan aktinomisetes lokal,” ungkap Kepala Bidang Biologi Sel dan Jaringan pada Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Puspita Lisdiyanti.

Di bidang farmasi, tidak mustahil dijumpai antibiotik yang sudah tidak manjur lagi bagi pasien tertentu. Antibiotik tidak lagi bekerja dengan efektif karena kuman yang seharusnya dilumpuhkan ternyata memiliki resistensi atau ketahanan terhadap obat tersebut.

Mengembangkan Plasma Nutfah Talas

Oleh Dewi Mardiani

Kandungan nutrisi talas lebih unggul dari beras.

Bogor, selain disebut kota hujan, juga sering dijuluki kota talas. Beberapa daerah lain yang terkenal dengan talasnya, yaitu Sumedang, Malang (Jawa Timur), Mentawai (Sumatra Barat), dan Papua. Jenisnya pun beragam. Ada yang dikonsumsi sebagai sumber karbohidrat, ada pula untuk pelengkap sayur, juga untuk obat herbal.

 

Talas (Colocasia esculenta (L) Schott) menjadi salah satu bahan makanan pokok bagi masyarakat Indonesia, khususnya di beberapa daerah, seperti Jawa Barat dan Papua. Namun, talas memang belum menggantikan beras sebagai bahan makanan pokok utama walaupun kandungan nutrisinya lebih unggul dari beras.

Mengapa Harus Dilestarikan?

Kerusakan habitat, alih fungsi lahan pertanian menjadi perkebunan, serta penerapan teknologi pertanian modern menjadi monokultur membuat tanaman talas kian tersingkir. Padahal, tanaman ini menjadi salah satu sumber makanan pokok di beberapa wilayah Indonesia serta tergolong tanaman asli Indonesia.

 

Berdasarkan penelitian biokimia ekstensif, talas di Indonesia bagian barat (Paparan Sunda) beda dengan talas yang tumbuh di Papua. Tanaman ini bisa tumbuh di lahan kering dan lahan basah, tergantung sifat genotif kultivar yang dibudidayakan. Secara umum, dikenal beberapa jenis talas, seperti bogor, sutra, bentul, mentega, burkok, padang/sayur, kaliurang, berod, enau, jahe, kudo, dan lain-lain.

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI