Biotek

Print

FRIABLE EMBRYOGENIC CALLUS (FEC) SEBAGAI MATERIAL PERBAIKAN SIFAT UNGGUL UBI KAYU

hanifitrianiUbi kayu (Manihot esculenta Crantz) atau yang sering disebut dengan singkong atau ketela pohon sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia. Ubi kayu atau singkong sering diklaim sebagai makanan kedua setelah nasi sebagai makanan yang kaya akan kandungan karbohidrat. Ubi kayu merupakan salah satu tanaman umbi-umbian yang mengandung sumber karbohidrat utama masyarakat Indonesia ke tiga setelah padi dan jagung, serta sebagai bahan baku aneka industri yang terus berkembang. Pada beberapa tempat tanaman ini dapat diolah dan akhirnya menjadi makanan pokok dalam kesehariannya yang kita kenal dengan tiwul.Umbinya mengandung air sekitar 60%, pati 25-35%, serta protein, mineral, serat, kalsium, dan fosfat. Awal mulanya tanaman ini dari Brazil, Amerika Selatan dan telah menyebar ke Asia pada awal abad ke-17 dibawa oleh penjelajah Spanyol dari Mexico ke Philipina. Selanjutnya, menyebar ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Tanaman ini pada mulanya diperkenalkan oleh para penguasa kolonial sebagai tanaman cadangan bila kelaparan.

Print

BIOSIMILAR :TREND OBAT MASA KINI

nengherawatiPengertian Biosimilar menurut badan kesehatan dunia (WHO) adalah istilah yang dipakai untuk obat biologis yang memiliki karakteristik yang mirip dengan obat biologis yang sudah disetujui (originator) atau dapat dibuat ketika masa paten obat originatornya sudah habis, namun tidak identik. Kemiripan tersebut meliputi regulasi, proses produksi, kualitas, keamanan, kemurnian dan potensi atau kemanjurannya (Kumar & Singh, 2014; ww.gelifesciences.com). Biosimilar dapat berupa rekombinan protein terapetik,hormon dan antibodi. Obat biologis adalah zat aktif yang terbuat atau diperoleh dari sel-sel hidup melalui proses biologi sebagai contoh adalah insulin dapat diproduksi oleh mahluk hidup (seperti bakteri dan yeast) melalui teknik rekayasa genetika. Efek produk biologis ini diyakini lebih mudah dicerna tubuh karena terbuat dari bahan-bahan makhluk hidup.

Kemajuan penelitian bidang bioteknologi, memungkinkan diproduksinya biosimilar dari beberapa sel hidup atau sistem ekspresi (host) dengan memanfaatkan teknologi DNA rekombinan. Sistem-sistem ekspresi tersebut diantaranya: bakteri, yeast, tanaman, serangga dan mammalia. Albumin, Interferon (Roferon A dan Intron A), Insulin (Insulin glargin) dan Eritropoietin (Epoitin alfa) adalah beberapa contoh produk biosimilar yang telah beredar di dunia industri farmasi.

Baca selengkapnya.

Print

RNA SILENCING:MEMBUNGKAM GEN DARI TEMBAKAU SAMPAI CACING

supatmiSel adalah bagian terkecil dari organisme. Baik manusia,hewan dan tumbuhan terdiri dari bermacam-macam sel.Sebagai contoh, hewan dan manusia memiliki berbagai macam tipe sel seperti sel kulit,sel otot dan sel tulang atau pada tanaman seperti sel daun, sel batang dan sel akar.Sel-sel ini memiliki struktur dan fungsi yang berbeda-beda namun memiliki komponen nukleus yang hampir sama. Sel nukleus mengandung DNA yang berfungsi mengkode pengaturan dari perkembangan dan fungsi dari sel.

Informasi ini disusun dalam bentuk informasi terpadu yang disebut sebagai gen. Hampir setiap sel memiliki DNA yang identik dan memiliki instruksi yang sama.Namun timbul pertanyaan,dengan kondisi demikian mengapa banyak terdapat variasi (tipe-tipe) sel pada tubuh kita?. Jawaban dari pertanyaan ini salah satunya adalah adanya mekanisme gen silencing atau pembungkaman gen. Dengan adanya gen silencing,informasi genetik dapat di on atau di off kan mirip seperti kerja saklar listrik yang disesuaikan dengan karakteristik dan fungsi/kebutuhan dari gen tersebut. Lalu apa dan bagaimana proses gene silencing itu terjadi? Dan apa manfaatnya dalam skala global?.

Baca selengkapnya

Print

PLANT GROWTH PROMOTING RHIZOBACTERIA (PGPR) PENGHASIL EKSOPOLISAKARIDA SEBAGAI INOKULAN AREA PERTANIAN LAHAN KERING

rahayuPlant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR)adalah bakteri menguntungkan yang mengolonisasi akar tanaman dan dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman dengan mekanisme yang bervariasi. Mekanisme tersebut diantaranya adalah pelarutan fosfat, menghasilkan hormon pertumbuhan IAA (indole acetic acid), ammonia, siderofor,aktivitas enzim yang dapat mendegradasi dinding sel seperti sellulase, kitinase dan protease, menghasilkan HCN dan sebagai biokontrol terhadap fitopatogen.

Penghambatan terhadap fitopatogen dapat dilakukan dengan menghasilkan komponen antibiotik, baik komponen volatil maupun non volatil (Gambar 1). Inokulasi benih cowpea dengan PGPR P. aeruginosa FP6 terbukti mampu meningkatkan germinasi benih (Gambar 2), indeks vigor,tinggi tanaman, berat basah dan berat kering tanaman dibandingkan dengan kontrol. Aktivitas PGPR yang potensial ini dapat dikembangkan sebagai pupuk hayati multifungsi yang efektif dan ramah lingkungan (Bhakthavatchalu, Shivakumar dan Sullia, 2013). Pupuk hayati (biofertilizer) adalah media yang menggunakan bahan dasar mikroba yang digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman.

Baca selengkapnya

Print

PEMANFAATAAN OBAT TRADISIONAL (HERBAL) SEBAGAI OBAT ALTERNATIF

bustanulsalamObat herbal telah diterima secara luas di hampir seluruh negara di dunia. Menurut WHO, negara-negara di Afrika, Asia dan Amerika Latin menggunakan obat herbal sebagai pelengkap pengobatan primer. Bahkan di Afrika, sebanyak 80% dari populasi menggunakan obat herbal untuk pengobatan primer (WHO, 2016). Faktor pendorong terjadinya peningkatan penggunaan obat herbal di negara maju adalah usia harapan hidup yang lebih panjang pada saat prevalensi penyakit kronik meningkat, adanya kegagalan penggunaan obat modern untuk penyakit tertentu di antaranya kanker serta semakin luas akses informasi mengenai obat herbal di seluruh dunia (Sukandar EY,2006). WHO merekomendasi penggunaan obat tradisional dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit, terutama untuk penyakit kronis, penyakit degeneratif dan kanker. WHO juga mendukung upaya-upaya dalam peningkatan keamanan dan khasiat dari obat tradisional (WHO, 2016). Penggunaan obat tradisional secara umum dinilai lebih aman dari pada penggunaan obat modern. Hal ini disebabkan karena obat tradisional memiliki efek samping yang relatif lebih sedikit dari pada obat modern.

Bangsa Indonesia telah lama mengenal dan menggunakan tanaman berkhasiat obat sebagai salah satu upaya dalam menanggulangi masalah kesehatan. Pengetahuan tentang tanaman berkhasiat obat berdasar pada pengalaman dan ketrampilan yang secara turun temurun telah diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Penggunaan bahan alam sebagai obat tradisional di Indonesia telah dilakukan oleh nenek moyang kita sejak berabadabad yang lalu yang dikenal sebagai jamu (Sukandar E Y,2006).  Baca selengkapnya

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI