Sudut Biotek

Print

LIPI Perkuat Konsorsium Kemandiran Bahan Baku Obat Malaria Dihidroartemisinin (DHA)

dhaCibinong - Besarnya angka persentasi import bahan baku farmasi di Indonesia terhitung sangat tinggi yaitu mencapai 95%, padahal industri farmasi Indonesia tercatat sebagai yang terbesar di ASEAN. Sangat ironis ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku obat masih sangat tinggi dan untuk mengurangi ketergantungan akan impor, pemerintah harus menarik investasi pengembangan industri bahan baku farmasi. Pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mengurangi ketergantungan bahan baku impor bagi industri farmasi dalam negeri dengan menetapkan road map percepatan industri farmasi dan kesehatan. Industri farmasi Indonesia diharapkan dapat bertransformasi menjadi industri farmasi yang berbasis riset dan pengembangan agar struktur industri farmasi di Indonesia dapat semakin kuat dan mampu bersaing di pasar obat. Upaya kemandirian bahan baku obat itu sejalan dengan roadmap pengembangan industri farmasi dimana di dalamnya mencantumkan bahwa pengembangan industri farmasi meliputi pengembangan bahan baku kimia, herbal, biologi, vaksin dan suplemen kesehatan

Dalam rangka memacu percepatan kemandirian bahan baku obat, pada tanggal 6 September 2017 LIPI melaksanakan focus group discussion (FGD) dengan tujuan mengidentifikasi informasi mengenai faktor-faktor penghambat keberhasilan di sektor hulu sampai hilir penelitian “Kemandirian Bahan Baku Obat Malaria Dihidroartemisinin”, merumuskan usulan perbaikan kebijakan dalam rangka mendorong keberhasilan kegiatan penelitian “Kemandirian Bahan Baku Obat Malarian Dihidroartemisinin” dan mengidentifikasi regulasi-regulasi dan proses standarisasi hasil litbang yang terkait. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Ulang Tahun Emas LIPI yang ke 50 dan Pameran Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH) LIPI dengan tema “Bioresource Science Week”. Kegiatan ini dibuka oleh Dr. Bambang Sunarko, Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, dan dihadiri oleh hampir semua anggota konsorsium yang terdiri dari Kementrian Kesehatan, LIPI, Kementrian Pertanian, PT. Indo Farma, ITB serta BPOM sebagai pemegang regulasi dan pelaku usaha.

dha2Seperti diketahui, malaria merupakan penyakit yang masih banyak terjadi di berbagai negara tropis termasuk Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh beberapa jenis patogen Plasmodium yang dapat menyebabkan kematian. Terdapat sekitar 200 juta kasus malaria di dunia dengan kasus kematian pertahunnya mencapai sekitar 500.000 orang (World Malaria Report dari WHO, 2016). Sampai saat ini pengobatan pada pasien penyakit malaria biasanya menggunakan kina dan bahan-bahan turunannya, namun dalam perkembangannya kina diketahui sudah tidak mampu mengobati penyakit malaria karena Plasmodium falciparum telah resisten terhadap obat-obat berbahan dasar kina. Dalam hal ini WHO telah merekomendasikan penggunaan artemisinin serta turunannya yang dikombinasikan dengan obat anti malaria lainnya sebagai strategi pengobatan malaria yang efektif dan sekaligus untuk mencegah terjadinya resistensi Plasmodium falciparum terhadap artemisinin.

Diketahui, artemisinin merupakan salah satu senyawa yang terdapat pada tanaman Artemisia annua yang merupakan tanaman subtropis dan ternyata juga dapat dibudidayakan di wilayah tropis. Kandungan artemisinin yang rendah pada tanaman Artemisia annua (< 0.1%) mendorong para peneliti untuk mencari dan mengembangkan varietas unggul Artemisia annua yang memiliki kandungan artemisinin yang tinggi (minimal > 0.4%). Pada kegiatan ini, Dr. Tri Muji Ermayanti, Kepala Laboratorium Biak Sel dan Jaringan dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, melaporkan bahwa telah diperoleh bibit unggul Artemisia annua tetraploid dan hasil kultur jaringan, yang telah diuji coba di Kebun Raya Cibodas oleh Pak Agus Suhatman dan tim menghasilkan 0.4% kandungan dihidroartemisinin (DHA).

dha3Tidak hanya itu, untuk menghasilkan obat yang berkualitas juga harus didukung oleh proses ekstraksi dan isolasi yang efektif, efisien dan ramah lingkungan. Metode ekstraksi dengan pelarut kimia tidak ekonomis dan tinggi biaya produksi. Diketuai oleh Dr. Arthur A. Lelono dari Pusat Penelitian Kimia LIPI telah berhasil mengembangkan alat ekstraktor dengan menggunakan Freon. Alat ekstraktor ini terbukti dapat mengekstraksi senyawa aktif dari herbal dengan efektif, efisien, ramah lingkungan, dan murah.

Prof. Dr. Ir. Enny Sudarmonowati selaku Deputi Bidang IPH LIPI juga menegaskan bahwa kegiatan riset yang menangani persoalan bangsa tentu saja tidak dapat dilakukan oleh satu instansi saja karena proses yang sangat kompleks dari hulu hingga hilir sehingga dihasilkan obat yang siap dilepas ke pasaran dan dapat dikonsumsi oleh masyarakat. Oleh Karena itu konsorsium yang solid seperti konsorsium malarian yang telah dibentuk sejak tahun 2014, merupakan gabungan dari berbagai instansi yaitu Balitbangkes, B2PTO2T, LIPI, ITB, BB Biogen – Balitbangtan, dan PT Indofarma sangat perlu dikuatkan. Konsorsium ini merupakan konsorsium untuk kemadirian bahan baku obat khususnya untuk pengembangan bahan baku obat Dihidroartemisinin. Konsorsium ini dapat mendukung program kemandirian nasional terkait dengan ketahanan bahan baku obat.

Pada saat kegiatan dipaparkan juga oleh Ibu Ani Iswantini dari Balitbangkes tentang Konsorsium Pengembangan Obat Malaria Dihidroartemisinin (DHA), Dr. Yuli Widiyastuti dari Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional Tawangmangu tentang Pengembangan Budidaya Artemisia annua untuk Mendukung Kemandirian Bahan Baku Artemisinin, Ibu Lanny Marliany dari PT. Indofarma tentang Prospek Pengembangan Bahan Baku Obat Antimalaria, dan diakhiri oleh Dr. Muhti Okayani dari BPOM tentang Regulasi Uji Bioekuivalen.(Esti/humas)

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI