Sudut Biotek

Print

Saatnya Peneliti Muda Membangun Jejaring di Blantika Riset

bc1Cibinong - Prof. Dr. Enny Sudarmonowati, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH) LIPI menghimbau agar para peneliti muda aktif dalam mencari jejaring riset, dalam acara sosialisasi Newton Fund di Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Cibinong (18/9/17).

“Kita jangan takut untuk mencoba, agar kita mendapatkan pengalaman. Mengetahui apa yang menjadi kekurangan kita, dan mengetahui apa yang diinginkan oleh parapanelis. Meskipun basic research, disarankan bagi yang telah memiliki link untuk segera mengkontaknya. Diawali dengan pertemuan workshop, dilanjutkan membuat proposal bersama, kemudian menjadi PI. LIPI akan menggandeng pihak diluar LIPI untuk membuat proposal kerjasama dengan pihak UK. Sebaliknya, pihak Newton fund harus menginformasikan, hal-hal yang dapat menyebabkan proposal yang diajukan tidak diterima. Jadi hasilnya target oriented, agar dapat diterapkan dan disesuaikan dengan program yang telah kita miliki. Terbentuknya sharing tentang Newton fund diharapkan adanya kerjasama antara peneliti dari UK dan Indonesia, “ tegas Enny dalam sambutannya.

 bc2Femi Sumantri, perwakilan Newton Fund Indonesia, menguatkan bahwa Newton fund memiliki dana khusus untuk sains dan teknologi dari Britania Raya (UK). Di Asia Tenggara ada 5 (lima) negara yang terpilih, salah satunya Indonesia. Research link adalah ajang untuk berjejaring bagi para peneliti UK, juga para peneliti yang berasal dari Asean Region. Hal ini dikarenakan UK ingin melakukan sesuatu untuk program global yang dihadapi oleh seluruh negara.

Peneliti senior dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Dr. Dwi Susilaningsih turut memberikan motivasi bagi para peneliti muda yang ingin mengembangkan sayapnya agar giat bekerjasama dengan pihak asing. Mengangkat topik ”Mencari Partner dan Dana di Dunia Riset”, Dwi menuturkan bahwa “dunia riset saat ini belum menjadi hal yang utama, namun kesempatan yang ditawarkan sangat banyak”. Beberapa program kerjasama yang pernah diikutinya antara lain: Toray, KNAW, kompetitif LIPI, Sinas, Kementerian Riset dan Perguruan Tinggi, Asean Foundation, dll.

bc3“Disini kita sangat membutuhkan kerja tim yang solid. kita harus percaya diri untuk memperkenalkan kemampuan yang kita miliki, baik antar institusi, maupun antar negara. Juga membangun kepercayaan (trust), komunikasi yang aktif dan cepat, “ ujar Dwi menggugah para peneliti muda yang hadir.

“Disini kita sangat membutuhkan kerja tim yang solid. kita harus percaya diri untuk memperkenalkan kemampuan yang kita miliki, baik antar institusi, maupun antar negara. Juga membangun kepercayaan (trust), komunikasi yang aktif dan cepat, “ ujar Dwi menggugah para peneliti muda yang hadir.

Memasuki sesi diskusi ,diawali dengan pertanyaan mengenai kontribusi social reserah, yang dilontarkan oleh salah seorang peneliti. Tanggapan Femi Sumantri bahwa Newton fund multifungsi. Saat ini terdapat bebrapa tema yakni sains, teknologi, seni dan teknik (engineering). UK juga sangat tertarik dengan biodiversitas

Berikutnya salah satu peserta acara, Briliant bertanya tentang keberadaan Nota Kesepahaman (MOU) yang bisanya digunakan sebagai instrumen dalam melandasi kerja sama riset. Femi mewakili pihak Newton fund menjawab bahwa MOU tidak menjadi wajib untuk kepentingan aplikasi proposal.

bc5Narasumber terakhir dalam sosialisasi Newton fund, Dr. Ir. Hendra Gunawan, M.Si- Peneliti Utama bidang Konservasi Sumberdaya Hutan (KLHK). Hendra memotivasi generasi muda dengan mengatakan “kita tidak perlu berkecil hati, meskipun kita lulusan dari dalam negeri, yang terpenting memiliki kemampuan dalam menjalin kerja sama dengan pihak luar negeri. Tak lupa Ia berbagi tips usaha mengenai pembuatan proposal dengan mengutamakan 6 hal: 1) hal yang menjadi kepentingan untuk negara kita; 2) penting untuk pembangunan dan pengetahuan; 3) impactnya jelas untuk pengetahuan dan pembangunan; 4) sasarannya untuk peneliti, dosen, mahasiswa dan mahasiswa pasca; kemudian 5) pendanaannya; 6) serta dibutuhkan dukungan dari lembaga. "Setelah proposal kita lolos, agar kita dikenal orang, bekerja dengan baik. Dengan demikian, kita dapat rekomendasi oleh orang lain,” pungkasnya.

bc4Dua pertanyaan yang dilontarkan pada sesi diskusi yang terakhir, diantaranya oleh Dr. Wahyuni, Peneliti Puslit Bioteknologi LIPI yang bertanya tentang kondisi para peneliti dewasa ini yang sering terkerangkeng dengan kompetensi inti. Hendra pun menguraikan pengalamannya. Salah satu yang pernah ia lakukan adalah bagaimana konsep ekologi yang sesuai dengan bidang keahliannya, bisa untuk penelitian Sosial-Ekonomi (Sosek). Singkatnya, ia melanjutkan, bagaimana mensiasati dan mengkaitkan tema penelitian yang berbeda dengan kompetensi inti si peneliti agar tetap berkelindan sehingga diakui hasil penelitiannya.

Pertanyaan lainnya yang memungkas sesi diskusi berasal Deden, peneliti dari Puslit Biologi LIPI, kali ini dengan mengutarakan pendapat, “kenyataannya jika belum ada MOU, atau MOU belakangan , maka belum bisa berjalan”. Solusinya, “jika tidak ada MOU, perlu agreement untuk memperkuat, agar kita jangan sampai dirugikan”, tutup Hendra.(Avi Humas)

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI