Sudut Biotek

Print

Festival Kampung Berseri Astra (KBA), Buah Kerja Sama LIPI - ASTRA

astralipi6Cibinong - 27-28 april 2018, Guna merayakan hari bumi tahun 2018, PT Astra International, Tbk melalui program Coorporate Social Responsibility (CSR) berkolaborasi dengan LIPI, menyelenggarakan kegiatan yang bertajuk "Festival Kampung Berseri Astra (KBA)", pada tanggal 27-28 April di Cibinong Science Center Botanic Garden (CSC-BG).

Kegiatan yang notabane bertemakan kepedulian terhadap lingkungan hidup ini berfokus pada pembibitan dan pengembangan buah langka dengan menggunakan teknologi yang dihasilkan LIPI. Tujuannya untuk menyelamatkan buah langka, membudidayakan, agar tidak punah, juga untuk pemulihan lahan kritis. Program ini dinamakan PRANARAKSA.

astralipi2Plt. Sestama LIPI, L.T. Handoko dalam sambutannya menyampaikan bahwa konservasi buah langka, keanekaragaman hayati dan teknologi, dapat dimanfaatkan bagi pelajar. Program ini juga membuka peluang besar untuk komersialisasi. Perlu diketahui, kawasan CSC-BG ini setiap tahunnya dikunjungi sekitar 5.000 orang pengunjung. Kedepannya infrastruktur dilingkungan SCS BG ini akan selalu dikembangkan, agar dapat menjadi lokasi eduwisata.

Kegiatan bertemakan lingkungan ini, sebelumnya telah dilakukan di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Kondisi di Pulau Pramuka yang sangat bersih, diistilahkan “pulauku 0 sampah,” sebagaimana disampaikan oleh Bapak Riza Deliansyah dari PT Astra International Tbk dalam sambutannya.

astralipi3Masih dalam rangkaian kegiatan Festival Kampung Berseri Astra pada hari pertama, diisi dengan kegiatan “Bina Peneliti Muda”. Tujuannya untuk mengedukasi para peneliti ilmiah remaja, dan sosialisasi lomba Pranaraksa Innovation Challenge. Kali ini, para pemenang Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) di bidang IPA dan IPSK turut memresentasikan hasil penelitiannya. Pemenang LKIR dari bidang IPA memaparkan penelitiannya tentang pemanfaatan limbah untuk menyaring logam berat.

Inovasi ini berbeda dengan penelitian sebelumnya, karena menggunakan bahan alami, tanpa campuran bahan kimia, dengan memanfaatkan limbah. Walhasil inovasi ini sangat aman untuk ekosistem, dan berguna bagi masyarakat dan lingkungan. Salah satunya ampas kelapa sawit yang digunakan untuk menyaring logam berat. Penelitian berikutnya dibidang IPSK.Wacana yang diketengahkan mengenai perubahan tingkat mata pencaharian sebagai nelayan di teluk Jakarta yang berkurang akibat perubahan kondisi ekologis.

astralipi4Para peserta tampak serius menyimak paparan dari para pemenang LKIR, bahkan ada peserta yang mengusulkan untuk menggabungkan kedua penelitian IPA dan IPSK tersebut. Namun, meskipun berawal dari hal yang hampir mirip, yaitu tentang perubahan ekologi, namun muara dari penelitian ini berbeda. Penelitian bidang IPA ini mengarah pada pemanfaatan limbah untuk logam berat, sementara untuk bidang IPSK cenderung pada tingkat mata pencaharian nelayan di Jakarta menjadi berkurang yang dikarenakan oleh perubahan ekologi. Peserta yang terdiri dari kelompok siswa SMA ini juga dapat mengikuti edukasi kultur jaringan. Sementara siswa yang lainnya dapat mengikuti kegiatan mengecat tong sampah di Kebun Pasma Nutfah dan edukasi Jamur dan Pupuk Organik Hayati (POH).

Bagi siswa SMP kegiatan yang diikuti mencakup games ekosistem, budidaya hidroponik yang berlokasi di kawasan Biovillage dan ekosistem perairan darat, eksperimen penyaring sederhana, budidaya ikan sidat, dan multitropic aquaculture (IMTAH) yang berlokasi di Pusat Penelitian Limnologi LIPI

Sementara itu, bagi siswa SD kegiatan yang diikuti mencakup games ekosistem kebun, membuat es yoghurt di Kebun Plasma Nutfah, dan games kupu-kupu terbang, dan edukasi sugar glider. Demikian juga bagi para guru dapat mengikuti pelatihan perbanyakan vegetatif bibit buah langka di kebun Haratopusako/Arboritum, aksi labeling nama pohon, edukasi kultur jaringan dan aktivitas Himpunan Penggiat Adiwiyata Indonesia (HPAI) yang difokuskan bagi sekolah yang berbasis lingkungan.

ipbs2Kegiatan hari kedua (28 April 2018) diisi dengan diskusi bertemakan lingkungan hidup, dipandu Asep Nurdin, perwakilan PT ASTRA. Dalam diskusi, salah seorang peserta bertanya:” bagaimana plastik dan produk-produk yang terbuat dari plastik dapat terjual?, contohnya seperti sari kelapa yang dikelola oleh PT.” Dilanjutkan dengan pertanyaan dari kampung berseri Semarang tentang tantangan ketika membangun sebuah desa. Menurut Bapak Asep Nurdin, “diwilayah desa ada tokoh-tokoh masyarakat, kepala desa, dll. Tokoh masyarakat belum tentu yang vokal, namun bisa saja yang mampu memberikan solusi. Sebaiknya para pendamping tinggal didesa tersebut, agar mengetahui permasalahan yang terjadi.”

Selanjutnya pertanyaan dari Bu Lala tentang “bagaimana mengelola kota yang tantangannya lebih kompleks.” Jawaban Bapak Asep: “tantangan sama, namun yang terpenting adalah mencari solusi, untuk itu dibutuhkan pemetaan, social mapping, social issues.” Berikutnya Ibu Fortune, seorang pendamping sekolah yang tinggal di Ciangsana-Bogor, yang ingin memulai kampung berseri, namun baru pada tahap kompleks, yaitu dengan membuat kelompok. Ia ingin sekali bergabung dalam sekolah binaan Astra. Menurut Bapak Asep sebaiknya “membuat pemetaaan, issuenya, dan potensinya, namun bila ingin menjadi social entrepreneur, perlu memiliki komunitas lokal. Contoh kegiatannya seperti di Bali yang banyak memproduksi souvenir dari manik-manik, yang akhirnya diproduksi dengan jumlah yang banyak. Jadi, sebaiknya mulai aja dulu,” tutur Bapak Asep kepada para peserta diskusi. (Avi/Humas)

 

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI