Sudut Biotek

REAL TIME PCR, METODE DETEKSI VIRUS SARS-CoV-2

Cibinong, Humas LIPI. Saat ini, Virus SARS-CoV-2, telah menjadi penyebab pandemi COVID-19 di dunia termasuk di Bogor. Dalam Coronavirus dengan RNA rantai tunggal berukuran 29-30 kb, memiliki kekerabatan dekat dengan virus Corona asal Kelelawar (96.2%) yang terdiri dari protein Membran (M), Spike (S), Nucleocapsid (N) dan HE. “Virus ini mudah bermutasi dan belum diketahui penyebab terjadinya mutasi apakah terkait virulensi atau gejala yang timbul setelah terinfeksi virus SARS-CoV-2,” tutur Indriawati, M.Si., Peneliti Muda Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI pada webinar “Evolusi COVID-19 dan Implikasinya terhadap Penyediaan Vaksin di Masa Depan” (7/6).

 

Berdasarkan laporan dari lembaga Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GSAID), dari 160 genom  terdapat ribuan mutasi. “Di Indonesia sendiri, terdapat mutasi pada dua belas sekuen SARS-CoV-2 dari GSAID, baik mutasi nukleotida maupun mutasi Asam Amino,” ungkap Indriawati yang juga salah seorang peneliti dari kelompok penelitian Bioteknologi Hewan: Genetika Pemuliaan, Reproduksi, Nutrigenomik, Kesehatan Hewan, dan Pasca Panen Pusat Penelitian Bioteknologi-LIPI. 
 
Dirinya menyampaikan, saat ini deteksi penyakit COVID-19 menggunakan metode molekuler Real Time PCR. “Metode ini secara akurat dapat menentukan apakah sampel swab tersebut positif atau negative COVID-19” jelas Indriawati. “LIPI, dengan tersedianya fasilitas Biosafety Level-3 (BSL-3) dan keahlian sumber daya manusianya, ikut andil dalam mendeteksi adanya virus SARS-CoV-2 menggunakan metode Real Time PCR. 
 
Sampai saat ini, LIPI telah mendeteksi lebih dari 1000 sampel swab asal Rumah Sakit yang ada  di Jakarta dan Bogor. “Diharapkan ke depannya, informasi molekuler tentang virus SARS-CoV-2 dapat digunakan untuk merancang diagnostik kit maupun kandidat vaksin COVID-19,” papar Indriawati. “Dari 1000 sampel yg telah dideteksi oleh Tim LIPI, sekitar 11% yang hasilnya positif per harinya, namun jumlah hasil deteksi yang positif perharinya tidak sama,” imbuh Indriawati.
 
Terhadap kemampuan COVID-19 yang mampu bermutasi dengan cepat, Indriawati mengingatkan pandemi kemungkinan besar akan berlangsung lama karena kesulitan untuk menemukan kandidat vaksin yang tepat untuk penyembuhan COVID-19. Ia menegaskan, karena sifatnya yang sangat cepat menular, risiko terinfeksi akan selalu ada. (Wr ed SL)

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI