Sudut Biotek

Identifikasi Hewan Terinfeksi Persisten oleh Virus Bovine Viral Diarrhea pada Peternakan Sapi Perah

Cibinong, Humas LIPI. Protein memiliki peran penting bagi manusia yaitu untuk perkembangan kecerdasan otak, pemeliharaan stamina tubuh, percepatan regenerasi sel dan menjaga sel darah merah (eritrosit) agar tidak mudah pecah. Protein hewani lebih berkualitas daripada protein nabati karena lebih kaya akan asam amino dan banyak terkandung pada daging, susu dan telur. 
 
Di Indonesia permintaan daging dan susu dari tahun ke tahun selalu meningkat, tetapi sayangnya permintaan daging dan susu sapi ini tidak diimbangi dengan populasi sapi. “Populasi sapi menurun akibat pemotongan sapi betina produktif dan adanya masalah baru dengan munculnya penyakit pada sapi yang disebabkan oleh virus BVD (Bovine Viral Diarrhea),” ungkap Anika Prastyowati, M. Biotech salah seorang peneliti yg tergabung dalam kelompok penelitian Pengembangan Produk Biologi Kesehatan, Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, dalam acara Knowledge Sharing Seminar dengan topik “Identification of Animal Persistently Infected with Bovine Viral Diarrhea Virus in Dairy Cattle Herds”. (7/6)
 
Dirinya menyampaikan bahwa Virus BVD (Bovine Viral Diarrhea) adalah penyakit diare ganas yang telah mendunia dan hampir 70% sapi di seluruh dunia telah terinfeksi virus ini dan menimbulkan kerugian ekonomi yang besar karena secara tidak langsung berakibat pada terjadinya gangguan reproduksi, hambatan pertumbuhan, penurunan berat badan, kematian, dan penurunan produksi air susu.  “Sumber utama penyakit ini adalah hewan terinfeksi persisten (IP) yang bersifat imunotoleran karena terinfeksi nonsitopatik-BVDV saat induknya sedang dalam masa trimester pertama kebuntingan saat sistem imun sedang berkembang sehingga tidak mampu membentuk antibodi terhadap virus tersebut. Akibatnya, lahir anak sapi yang bertindak sebagai sumber penyebar virus sepanjang hidupnya dan tidak dapat disembuhkan bahkan dengan vaksinasi,” jelas Anika. “Menyikapi hal ini maka perlu dilakukan identifikasi hewan IP agar penyebaran penyakit dapat dicegah,” imbuhnya.
Di Indonesia, letupan wdiare ganas pada sapi dimulai pada bulan Agustus 1988 di Bali. Anika menyontohkan letupan wabah pernah terjadi di NTB, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Bengkulu, Lampung, Kalimantan Timur, Riau, dan Kalimantan Selatan. “Penyakit ini dapat berbentuk ringan, akut yang berat atau kronis. Mortalitas bervariasi, kadang kadang morbiditas rendah dengan mortalitas tinggi atau sebaliknya. Morbiditas dapat terjadi 2-50% dan mortalitas sampai 90%,” rinci Anika. 
 
Lebih lanjut Anika menjelaskan bahwa penyebaran penyakit BVD terjadi melalui kontak langsung maupun tidak langsung dengan hewan penderita infeksi akut atau infeksi persisten. “Secara langsung, hewan penderita akan menyebarkan sejumlah besar virus melalui sekresi dan ekskresinya seperti susu, semen, saliva, sekresi nasal, urin, dan darah. Hewan yang terinfeksi secara persisten oleh NCP BVDV menjadi sumber infeksi terbesar dalam suatu kelompok ternak yang terinfeksi secara endemis,” ungkapnya. 
 
Dirinya menyebutkan sapi yang terinfeksi persisten dapat didiagnosis laboratorium dengan beberapa metode untuk melihat mana yang terinfeksi akut dan mana yang terinfeksi persisten, karena hewan persisten ini yang dicari untuk dieliminasi dari kelompoknya. “Metode identifikasi laboratorium yang paling akurat untuk mendeteksi virus yang persisten dan untuk mengecek keberadaan virus yaitu RT-PCR dan ELISA,” tutup Anika. (wt ed sl)

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI