Sudut Biotek

Print

Potensi Tanaman Transgenik Untuk Ketahanan Pangan

Tulisan ini hanya dibatasi pada potensi tanaman trans-genic bagi pemenuhan pangan, hal-hal lain terutama pro dan kontra eksistensi tanaman transgenic ini, sengaja dihin-dari, dikarenakan perdebatan sudah tidak mengarah pada pure scientist lagi, tapi ber-nuansa street scientist. Hemat saya keputusan bersama Men-teri Pertanian, Menteri Kehu-tanan dan Perkebunan, Menteri Kesehatan dan Menteri Negara Pangan dan Hortikultura No

998.1/Kpts/OT.210/9/99;790.a/KptsIX/1999;

1145A/MENKES/SKB/IX /1999; 015A/MENEG PHOR/09/1999

tentang Keamanan hayati dan keama-nan pangan produk pertanian hasilrekayasa genetika tanaman sudah mencukupi.

Munculnya tanaman trans-genic dipicu oleh kekhawatiran ilmuwan akan persediaan pangan dunia. Pertambahan jumlah penduduk dan keter-batasan daya dukung pangan sangat mengkhawatirkan. Proyeksi tahun 2030 oleh Brown dan Kane memperlihatkan peningkatan jumlah penduduk yang cukup fantastis, kurang lebih 160% dari jumlah pen-duduk tahun 1990. Prediksi di Asia, untuk India menempati urutan pertama dengan per-tambahan penduduk 590 juta, Cina (490 juta), Pakistan (197 juta), Bangladesh (129 juta), dan Indonesia (118 juta). Ketersedisaan lahan pertanian juga semakin berkurang akibat banyaknya lahan-lahan yang dijadikan bangunan dan pe-rumahan.

Ironisnya lahan-lahan pertanian yang suburlah yang banyak dijadikan bangunan dan perumahan. Sedangkan lahan-lahan pertanian semakin terpinggirkan pada lahan-lahan tidak yang subur. Potensi laut di Indonesia juga mengalami hal serupa, hampir semua perairan telah terjadi kelebihan tangkap (over fishing), kecuali selatan pulau Jawa dan perairan sebe-lah barat Sumatra. Efek over fishing akan menyebabkan jum-lah ikan akan semakin berku-rang, hal ini dikarenakan ikan-ikan kecil dan daerah-daerah pemijihan ikan ikut di eks-ploitasi.

Perbaikan dan peningkatan kualitas produksi pertanian (intensifikasi) untuk beberapa tahun yang lalu masih signifi-kan, karena ketersediaan sum-ber daya alam dan teknologi pertanian cukup memadai dan berimbang dengan ketersedia-an lahan dan peningkatan jumlah penduduk. Keadaan ini sulit untuk dipertahankan dimasa akan datang, kecuali ada pendekatan baru yang mena-warkan ide dan teknik untuk meningkatkan produktifitas secara dramatis. Rekayasa genetic (tanaman transgenic) memiliki potensi untuk itu. Dengan segala kekurangannya rekayasa genetikdiharapkan dapat membantu mengatasi permasalahan pembangunan pertanian yang tidak lagi dapat dipecahkan secara konven-sional.

Apakah rekayasa genetic? Rekayasa adalah rancang bangun (otak atik) sedangkan genetic dari kata gen yang berarti materi pembawa sifat dari makhluk hidup. Sebagai contoh ada mangga yang rasa-nya manis ada juga yang rasa-nya kurang manis, meskipun sama-sama buah mangganya dan tumbuhmpada tanah yang sama tapi mempunyai rasa yang berbeda. Sifat-sifat itu diken-dalikan oleh suatu zat yang disebut gen. Gen inilah yang memegang kendali mengapa agrek berbunga dan tomat berbuah. Sederhananya apabila kita dapat mengisolasi potong-an gen yang menyebabkan tomat berbuah lalu potongan gen itu disisipkan pada gen angrek, maka angrek yang tidak berbunga tetapi berbuah tomat, seperti yang terjadi di Jepang.
Apakah transgenic itu? Transgenik terdiri dari kata trans yang berarti pindah dan gen yang berarti pembawa sifat. Jadi transgenic adalah me-mindahkan gen dari satu makhluk hidup kemakhluk hidup lainnya, baik dari satu tanaman ketanaman lainnya, atau dari gen hewan ke tanam-an. Transgenik secara definisi adalah the use of gene manipu-lation to permanently modify the cell or germ cells of orga-nism (penggunaan manipula-sigen untuk mengadakan peru-bahan yang tetap pada sel makhluk hidup). Teknologi Transgenik atau kloninh juga sering dilakukan pada dunia peternakan, separti domba dolly yang diambil dari gen sel ambing susu domba yang ditransplantasikan ke sel telurnya sendiri. Pada ikan-ikan teleostei, menghasilkan ikan yang resisten terhadap pembu-sukan dan penyakit.

Tanaman trnsgenik pertama kalinya dibuat tahun 1973 oleh Herbert Boyer dan Stanley Cohen. Pada tahun 1988 telah ada sekitar 23 tanaman trans-genic, pada tahun 1989 terdapat 30 tanaman, pada tahun 1990 lebih dari 40 tanaman. Secara sederhana tanaman trnsgenik dibuat dengan cara mengambil gen-gen tertentu yang baik pada makhluk hidup lain untuk disisipkan pada tanaman, penyisipaan gen ini melalui suatu vector (perantara) yang biasanya menggukan bakteri Agrobacterium tumefeciens untuk tanaman dikotil atau particle gen untuk tanaman monokotil, lalu diinokulasikan pada tanaman target untuk menghasilkan tanaman yang dikehendaki. Tujuan dari pe-ngembangan tanaman trans-genic ini diantaranya adalah 1. menghambat pelunakan buah (pada tomat). 2. tahan terhadap serangan insektisida, herbisida, virus. 3. meningkatkan nilai gizi tanaman. Dan 4. meningkatkan kemampuan tanaman untuk hidup pada lahan yang ektrem seperti lahan kering, lahan keasaman tinggi dan lahan dengan kadar garam yang tinggi.

Usahakan pengembangan tanaman yang tahan busuk, seperti tomat telah dilakukan di AS, di Hawai berhasil dicip-takan varietas pepaya trans-genic UH Rainbow yang tahan terhadap virus ringspot. Di Swiss dan Jerman berhasil men-ciptakan beras yang disebut golden rice yang kaya akan betakarotin (provitamin A) dengan cara menyisipkan dua gen dari jenis bunga bakung, dan satu gen dari spesies bakteri ketanaman padi.

Untuk padi yang mempunyai kadar besi tinggi disisipkan dari gen tanaman buncis. Demikian juga buah pisang direkayasa untuk menghasilkan vaksin yang dapat dimakan untuk melawan penyakit infeksi. Baru-baru ini dilakukan evaluasi terhadap produk pisang transgenic berisi virus non aktif (dilemahkan) penyebab kolera, hepatitis B, dan diare (colostate edu). Jadi suatu saat untuk melakukan vaksinasi tidak perlu dengan injeksi tapi cukup makan buah pisang.

Penembangan tanaman yang tahan terhadap insektisida adalah jagung Bt, kapas Bt dan kedelai Bt. Pada tanaman ini disisipkan gen cry dari bakteri Bacillus thuringensis (bakteri tanah) yang dapat mengha-silkan crystalline protein yang bersifat racun bagi serangga tertentu terutama ulat bulu dan hama penggerek. Jadi tanaman tersebut setelah disisipkan gen Bt akan menghasilkan racun bagi serangga, jika ada hama menggerogoti tanaman tadi maka akan mati.

Di Indonesia sedang gencar dilakukan penelitian yang mengarah pada perakitan tana-man padi tahan hama peng-gerek batang dan padi lahan kering. Penelitian dilakukan Dr. Inez, H. Slamet Loedin dari LIPI memaparkan bahwa dari hasil penelitian tanaman padi tahan penggerek batang yang me-ngandung gen Bt, dapat me-nyebabkan kematian pada hama setelah dua hari. Sedang-kan tanaman padi lahan kering mampu hidup tanpa disiram selama 21 hari.

Harapan kita, semoga akan ada tanaman yang unggul se-cara genetik, produktifitas tinggi, tahan penyakit, dapat hidup pada lahan-lahan kritis dan aman untuk dikonsumsi manusia sehingga mampu mendukung penyediaan pa-ngan nasional dan pangan dunia yang semakin mengha-watirkan. Semoga....

Sumber : Warta Bojonegoro Edisi 86/Januari 2006

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI