Energi Berbasis Mikrob Fotosintetik dan Mikroalga sebagai Solusi Energi Ramah Lingkungan

Pinterest LinkedIn Tumblr +
image_pdfimage_print

Cibinong, Humas LIPI. Pemenuhan kebutuhan energi hingga saat ini sebagian besar masih berasal dari energi fosil. Energi fosil yang semakin terkikis  akan  memicu terjadinya  krisis  energi. Penggalian sumber energi alternatif yang bersih, ramah lingkungan, dan berkelanjutan perlu dilakukan. Salah satunya yang berasal dari energi baru dan terbarukan (EBT).

Dwi Susilaningsih peneliti dari Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam orasi pengukuhan profesor riset berjudul “Energi Generasi Tiga Berbasis Mikrob Fotosintetik dan Mikroalga Mendukung Solusi Krisis Energi Ramah Lingkungan” memaparkan bioenergi adalah salah satu bentuk EBT yang  berasal  dari  material  hayati,  baik  hewan,  tumbuhan maupun mikroorganisme yang mempunyai bentuk padat, gas, dan cair.

Dirinya menyampaikan biofuel generasi pertama yang paling populer adalah biodiesel,  minyak  nabati,  biogas,  bioalkohol, dan syngas. Biofuel generasi  kedua  meliputi  biomassa  lignoselulosa  atau  tanaman. Sedangkan untuk biofuel generasi tiga banyak menggunakan  material  mikroorganisme  (mikrob  fotosintetik dan  mikroalga). Penelitian biofuel generasi ketiga oleh Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI dilakukan mulai dari koleksi mikrob fotosintetik dan mikroalga, bioprospeksi untuk bioenergi, dan rekayasa prosesnya. “Selanjutnya, berkembang opini biofuel generasi keempat yang menekankan pada terobosan teknologi baru, penggunaan lahan tidur dan lahan marginal,” ungkap Profesor Riset bidang bioproses tersebut.

 

Biofuel, Energi Generasi Tiga sebagai Energi Masa Depan

Biofuel berbasis  mikrob  fotosintetik dan mikroalga digolongkan menjadi biofuel generasi tiga sebagai solusi krisis energi di masa depan. Selain itu penyediaan biofuel juga tidak bersaing dengan pangan dan pakan. “Sistemnya diharapkan dapat diaplikasikan di segala area dengan memanfaatkan sumber daya lokal dan ramah lingkungan. Hasil penelitian biofuel generasi ketiga produksi gas hidrogen dari mikrob fotosintetik dan mikroalga dengan fotofermentasi fakultatif anaerob  menghasilkan  rendeman  gas  hidrogen, antara  6–12%  per  berat  kering  biomassa  atau  substrat  (total karbohidrat)  yang digunakan,” jelas Dwi.

Saat ini penelitian masih terus dilakukan. Perlu kerja  sama  dengan  para  pemangku kepentingan  untuk  aplikasi  riset  di  lapangan , sehingga  hasil  di laboratorium  dapat  divalidasi. Hasil penelitian bioil/minyak dan bioavtur dari mikroalga didapatkan dari empat jenis mikroalga terseleksi yaitu Chlorella, Coelastrella, Ankistrodesmus,  dan  Nannochlorpsis.  “Jenis mikroalga ini mempunyai  kandungan  minyak  lebih  dari  30%  per  berat  kering  biomassanya. Produksi minyak terbukti belum ekonomis, masih mahal, dengan harga di atas Rp22.000 per  liter  minyak  mentah, sehingga  perlu  dioptimasi  lebih  baik  lagi,”ungkap Dwi.

Tak hanya itu Dwi juga menekankan selain  teknologi  yang  harus  dikembangkan,  pemangku  kepentingan  juga  perlu  membantu aplikasi riset dengan pendanaan yang cukup, sehingga hasil riset di laboratorium  dapat  divalidasi dan layak secara komersial. Selain itu, diharapkan sistemnya dapat diaplikasikan di segala area dengan memanfaatkan sumber daya lokal dan ramah lingkungan.

Di akhir orasinya Dwi berharap para penggiat  penelitian  biofuel generasi  tiga  dan  empat  dapat terus ditingkatkan. Penelitian ke arah aplikasi industri dan komersial perlu  dilakukan  dengan  memperhatikan  permintaan  industri  dan  pasar,  seperti  standar  kualitas,  kuantitas,  dan  ekonominya.  Perbanyakan strain unggul  (mikroalga)  lokal  yang  dapat ditumbuhkan  di  berbagai  area  perlu  disebarkan  agar  memacu peningkatan animo publik untuk menerapkan aplikasi teknologi biofuel berbasis  generasi  tiga.  “Di  masa  depan,  juga  diperlukan frontier research ke arah energi ekonomi, mudah diangkut, dan diversifikasinya,” tutupnya. (sa).

Share.

About Author

Leave A Reply