Keanekaragaman Hayati, Perpustakaan Besar sebagai Penemuan Obat Baru

Pinterest LinkedIn Tumblr +
image_pdfimage_print

Cibinong, Humas LIPI. Keanekaragaman hayati Indonesia yang dilaporkan terdiri dari 1.500 jenis alga, tumbuhan sporofit seperti 80.000 jenis jamur, 595 jenis lumut, 2.197 jenis pakis, dan tumbuhan spermatofit 30.000 – 40.000 jenis. Ini menyumbang 15,5% dari total flora dunia. Selain itu Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.508 pulau dan 81.000 km garis pantai, diakui dunia sebagai yang terkaya di dunia dalam hal keanekaragaman organisme laut.

“Dimata peneliti, keanekaragaman hayati tumbuhan dan organisme laut Indonesia seperti perpustakaan besar untuk penemuan obat baru,” ungkap Masteria Yunovilsa Putra, Kepala kelompok Center for Drug Discovery and Development Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam Webinusa #3 “Mainstreaming Bioprospection: Harnessing Untapped Biodiversity for Novel Bioproduct and Success Story” (16/9).

Masteria menyatakan, produk alami dan turunannya mewakili lebih dari 50% dari semua obat dalam terapi modern. “Selama beberapa dekade terakhir, para peneliti berfokus pada penemuan obat dari obat-obatan herbal atau sumber tumbuhan. Butuh waktu bertahun-tahun dan butuh proses panjang untuk membuat agen terapeutik yang bisa dipasarkan,” jelasnya.

Dirinya mengungkapkan, dibutuhkan lima tahapan untuk dapat mencapai obat yang dapat dipasarkan. Dari 10.000 hingga 20.000 kandidat obat yang melalui lima tahapan tersebut berkemungkinan hanya dapat menghasilkan 1 obat yang bisa dipasarkan. “Tahapan pertama adalah penemuan dan seleksi, tahapan kedua adalah pengoptimalan kandidat, tahapan ketiga adalah ADMET yaitu adsorpsi, distribusi, metabolisme, ekskresi, studi toksisitas, tahapan keempat adalah uji klinis, tahapan kelima adalah persetujuan NDA, sehingga mencapai obat yang dapat dipasarkan,” ungkap peneliti yang mendapatkan gelar master dan doktoral dari Marche Polytechnic University, Ancona, Italia.

Menurutnya, tanaman telah dimanfaatkan sebagai obat herbal tradisional sejak berabad-abad yang lalu. “Keanekaragaman jenis tumbuhan Indonesia yang melimpah memiliki peluang untuk dikembangkan untuk industri farmasi. BPOM mengklasifikasikan obat tradisional menjadi 3 kelompok, diantaranya, jamu, obat herbal yang terstandarisasi, dan fitofarmaka,” ujarnya.

Selain itu, tanaman obat di Indonesia memiliki nilai ekonomi dan kesehatan yang tinggi baik di masyarakat adat maupun masyarakat modern. “Pada tahun 2011 hingga 2015, komoditas tanaman obat Indonesia memiliki daya saing yang kuat di pasar global,” papar Masteria.

“Contoh penemuan obat dari tanaman obat diantaranya, obat antimalaria dari Artemisia annua L. (Asteraceae), obat antivirus yang berasal dari Curcuma sp., obat penyakit Alzheimer dari Galanthus woronowii Losinsk. (Amaryllidaceae), serta agen anti kanker dari Aglaia foveolate,” imbuhnya.

Masteria mengungkapkan, kelompok Center for Drug Discovery and Development Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI saat ini sedang melakukan uji klinis “IMMUNOCOV-19” obat herbal Indonesia sebagai imunomodulator di RSDC Wisma Atlit untuk memerangi pandemic COVID-19. “Kami melakukan uji klinis di RSDC Wisma Atlit. Uji klinis ini berakhir pada pertengahan Agustus lalu. Untuk sekarang kami dalam proses pembuatan laporan untuk diserahkan ke BPOM,” ungkapnya.

Sementara itu, lautan yang mencakup lebih dari 70% wilayah Indonesia, merupakan sumber daya yang hampir belum dimanfaatkan untuk penemuan obat baru yang potensial. “Lebih dari 100 senyawa laut telah diisolasi dari organisme laut Indonesia, seperti spons, soft coral, tunicate, algae, dan dilaporkan di lebih dari 70 publikasi,” jelasnya.

Masteria menegaskan, sebagian besar kajian hasil alam laut dilakukan oleh peneliti asing atau bekerja sama dengan peneliti Indonesia. “Namun, penemuan produk alam laut baru oleh peneliti Indonesia bergantung pada dukungan pemerintah, investasi oleh industri farmakologi, dan keahlian ilmuwan riset,” tegasnya. “Selain itu, tanpa mengetahui jumlah dan jenis organisme laut maupun darat tidak ada cara untuk mengetahui apa yang berubah atau hilang dari perspektif keanekaragaman hayati,” pungkasnya.(sf)

Share.

About Author

Leave A Reply