Mikroalga Laut Tropis: Melihat yang Tak Terlihat

Pinterest LinkedIn Tumblr +
image_pdfimage_print

Cibinong, Humas LIPI. Air laut apabila dilihat secara lebih mendalam mengandung berbagai jenis mikroorganisme yang sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut. Organisme yang berperan penting dalam proses biologis yang terjadi dilaut adalah fitoplankton yang berukuran sangat kecil sehingga tidak bisa dilihat satu per satu dengan mata telanjang.  Fitoplankton merupakan produsen primer yang menjadi dasar rantai makanan di laut. Fitoplankton mempunyai ke mampuan berfotosintesis dan terbagi menjadi dua kelompok besar yaitu mikroalga dan cyanobakteria.

Lebih rinci Diah mendeskropsikan, mikroalga merupakan alga yang berukuran mikroskopik; mempunyai struktur yang sederhana;  tidak mempunyai akar, batang dan daun; serta dapat terdiri dari sel tunggal atau rangkaian sel. ‘Mikroalga merupakan mikroorganisme fotosintetik uniseluler dan dapat mengkonversi CO2 dan cahaya matahari menjadi oksigen dan biomassa,” ungkap Dr. Diah Radini Noerdjito, seorang peneliti LIPI pada acara Knowledge Sharing Seminar  yang diselenggarakan Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI dengan topik “Tropical Marine Microalgae: See the Unseen pada Selasa (22/9).

Diah menjelaskan bahwa di laut, secara alami mikroalga memiliki beberapa peranan penting. Pertama, sebagai produsen primer yaitu tanpa adanya mikroalga rantai makanan di laut tidak akan berjalan dengan baik.  Kedua, sebagai pompa karbon biologis, yaitu mikroalga akan mengubah CO2 menjadi glokosa dan kemudian disimpan di dalam tubuhnya. Ketiga, sebagai sumber deposit hidrokarbon di laut yaitu minyak bumi yang ada di dasar laut sebenarnya adalah tumpukan dari deposit mikroalga dari jutaan tahun yang lalu. Keempat, mikroalga dari kelompok diatom mempunyai cangkang bersilika dan berperan penting dalam siklus silika di laut.

Dirinya juga menyampaikan, mikroalga ini banyak variasinya karena ada yang termasuk prokariot, eukariot dan protista. “Jadi mikroalga ini sangatlah luas, banyak jenisnya tapi belum semuanya dapat diidentifikasi dengan baik, sehingga ini menjadi tantangan untuk para ahli taksonomi dan para ahli biosistematika untuk dapat mengidentifikasi mikroalga kemudian membuat sistematikanya dengan baik,” ungkapnya

Lebih lanjut Diah menerangkan bahwa di daerah tropis diduga mempunyai jumlah spesies phytoplankton yang sangat tinggi bila dibandingkan dengan daerah lain. Hal ini disampaikan dengan melihat hasil penelitian Righetti dan teman-temannya tahun 2019 yang mengatakan bahwa kelimpahan jenis phytoplankton berkonsentrasi di daerah khatulistiwa. Semakin tinggi garis lintang, distribusi jenis phytoplankton dan mikroalga akan semakin berkurang.

“Hal  yang menyebabkan jenis-jenis  phytoplankton ini terkonsentrasi di daerah khatulistiwa atau daerah tropis antara lain pertama, suhu di daerah tropis cenderung stabil sehingga  perbedaan suhunya tidak terlalu jauh antar musim. Kedua, cahaya yang hampir selalu ada sepanjang tahun, ini mempengaruhi keberadaan phytoplankton karena phytoplankton sangat membutuhkan cahaya untuk metabolisme. Ketiga, proses pengangkatan nutrien dari dasar laut. “Nutrien ini penting bagi pertumbuhan mikroalga sehingga pertumbuhannya semakin cepat,” ujar Dian.

Kunci dari keberhasilan mikroalga itu sebenarnya adalah proses fotosintesis, fotosintesis membutuhkan karbondioksida dan air untuk menghasilkan glukosa dan oksigen, yang berperan penting dalam proses fotosintesis. Pertama yaitu cahaya, proses cahaya sangat penting karena untuk pengembangan lebih lanjut dalam mengkultur mikroalga membutuhkan cahaya buatan yang berfungsi sebagai pengganti cahaya matahari sehingga dapat disesuaikan kebutuhan dari tiap mikroalga agar sesuai proses fotosintesis yg dibutuhkan.

Peran penting yang ke dua adalah karbon. Karbon didapatkan dari CO2 yang terlarut di air. Ketiga adalah nutrien, nutrien yang penting adalah fosfat, nitrogen dan silikat. Keempat adalah suhu, didaerah tropis suhu tidak terlalu berpengaruh karena cenderung stabil suhunya tetapi untuk didaerah temperata suhu sangat penting karena peningkatan suhu akan meningkatkan metabolisme dan penurunan suhu akan menurunkan laju metabolisme.

Dirinya menyampaikan bahwa komponen yang penting dari mikroalga adalah adanya metabolit primer, yang terdiri dari karbohidrat, lemak dan protein, sekitar 40 persen kandungan dari mikroalga adalah karbohidrat. Selain itu mikroalga menarik karena mempunyai pigmen yaitu klorofil dan karatenoid; metabolit sekunder yang terdiri antara lain dari gliserol, sterol dan phykotoxin; vitamin B, C dan E; serta mikroalga jenis diatom memliki silika.

Diah memaparkan, pengembangan mikroalga melalui beberapa tahap. Pertama tahap eksplorasi, yaitu pengambilan sampel dari alam kemudian. Tahap kedua dilakukan  isolasi, metode isolasi tergantung pada karakter mikroalga yang diinginkan. Tahap ketiga yaitu kultivasi, tahap ini harus disesuaikan dengan kondisi asal mikroalga tersebut. Tahap keempat yaitu  identifikasi, dapat dilakukan secara morfologi, mikroskop cahaya atau secara molekuler.

Tahap selanjutnya adalah karakteristik, memetakan karakter mikroalga secara biologis. laju pertumbuhannya, siklus hidupnya, kurva puncak tumbuhnya, kandungan produksi biomassanya, kandungan proteinnya, kandungan lemaknya, dan lainnya. “Karakterisasi penting sebagai dasar pengembangan senyawa target, tujuan pengebangannya untuk apa, sistem kulturnya seperti apa, untuk manipulasi yang dapat dilakukan secara fisika, kimia dan biologi,” tutur Diah.

Di akhir paparan Diah mengungkapkan mikroalga mempunyai potensi untuk dimanfaatkan lebih lanjut dalam berbagai sektor. “Mikroalga potensial sebagai sumber pangan (food), pakan (feed), bahan bakar (fuel), obat (pharmaceutical), dan bahan kimia lain (fine chemicals),” tutup Diah.(Wt ed SL)

Share.

About Author

Leave A Reply