Kolaborasi Riset Untuk Pengembangan Peternakan Indonesia Berkelanjutan

Pinterest LinkedIn Tumblr +
image_pdfimage_print

Cibinong, Humas LIPI. Peternakan merupakan salah satu sub sektor yang memberikan kontribusi pada perekonomian nasional. Dalam upaya peningkatan subsektor peternakan, LIPI menjalankan program Prioritas Riset Nasional (PRN) tahun 2020-2024 dengan fokus riset sapi potong dan sapi perah di bawah koordinator Kementerian Pertanian serta secara masif mengembangkan peternakan di Indonesia supaya berkelanjutan.

“LIPI telah ditetapkan menjadi Pusat Unggulan Iptek (PUI) dan hal ini menjadi suatu kehormatan dan kebanggan dan harapannya dapat terus berlanjut dengan bekerja sama dengan berbagai pihak,” tutur Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Puspita Lisdiyanti saat membuka Sambutan Webinar bertajuk “Riset Bioteknologi Untuk Peternakan Berkelanjutan,” pada Selasa (15/12).

Puspita mengungkapkan, LIPI secara agresif telah merubah proses bisnis dari fasilitas dan layanan riset, saat ini sudah dapat digunakan oleh semua pihak tidak hanya peneliti LIPI. “Mari kita gunakan fasilitas riset LIPI, berkolaborasi dalam memanfaatkannya secara maksimal. Kami sangat terbuka untuk bekerja sama dan mengembangkan peternakan di Indonesia,” ajaknya.

Pada kesempatan yang sama Dirjen Peternakan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian Nasrullah menyampaikan bahwa mulai tahun 2015 sampai dengan saat ini ada intervensi khusus terhadap upaya peningkatan populasi sapi/kerbau potong di Indonesia sehingga mulai ada peningkatan dengan menghasilkan satu juta sapi/kerbau per tahun yang sebelumnya belum pernah tercapai.

“Saat ini populasi sapi/kerbau mencapai 9,27 juta, untuk itu Intervensi inovasi teknologi dilakukan untuk peningkatan populasi sapi/kerbau, yakni penyediaan benih unggul, penguatan pakan, dan penanganan gangguan produksi,” ujar Nasrullah.

Menurutnya, terdapat 42 jenis bahan pakan unggas masih impor dan harga pakan naik. “Hal ini menjadi perhatian dan tugas kita bersama untuk mencari penggantinya dan hasil riset kita terkait ini dipertanyakan,” tegas Nasrullah. “Kami sangat terbuka untuk bahu-membahu menjalankan kegiatan riset untuk aplikatif di lapangan dan siap bersinergi serta berkolaborasi dengan para akademisi, pemerintah untuk memberikan solusi masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, Syahruddin selaku Ketua Umum HIPLI, sekaligus peneliti utama dan pakar reproduksi hewan Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI menjelaskan perkembangan reproduksi dan strategi pengembangan perternakan. “Visi Indonesia tahun 2025 dalam pemenuhan protein hewani, kita perlu membangun desa mandiri sapi dengan pilar-pilar yang harus kita kembangkan dan swasemba dengan penciptaan bibit yang unggul, pasca panen, regulasi dan lainnya. Kolaborasi tidak lepas dari regulasi yang kondusif di level kebijakan dan SDM,”  jelasnya.

Selanjutnya, Ali Agus seorang guru besar perternakan Universitas Gajah Mada memaparkan perkembangan sapi GaMa (Gajah Mada). “Sapi ini merupakan hasil perkawinan silangan dari tiga jenis sapi secara bersamaan, yakni sapi Belgian Blue, Wagyu dan Brahman. Ketiga jenis sapi memiliki keunggulan masing-masing. Sapi Belgian Blue dikenal dengan sapi yang memiliki bobot yang besar dan berotot, sedangkan Sapi Wagyu memiliki daging yang empuk, sedangkan Sapi Brahman memiliki lambung yang besar dan adaptif dengan lingkungan tropis,” rincinya.

“Menghasilkan jenis sapi dengan keunggulan bobot dan daging yang lebih berkualitas dapat mendorong peningkatan produksi daging di Indonesia. Saat ini sedang dilakukan riset pengembangan cross breed berkesimbungan untuk peternakan Indonesia supaya bisa berkembang dengen kolaborasi antara pemerintah, industri, perguruan tinggi,” terang Ali.

Kemudian Muladno, Ketua Dewan Penasehat HIPLI sekaligus guru besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) menerangkan perkembangan penelitian perternakan berbasis bioteknologi di IPB dan strateginya dalam mendukung peternakan nasional Indonesia. “Peran pemerintah kabupaten yaitu infrastruktur (jaringan internet, irigasi), mobilitas (logistik, akomodasi), kebijakan, regulasi pro rakyat dan kemitraan serta dana bantuan pemerintah kabupaten dan yang paling penting konsolidasi antar pakar antar teknologi dan industri untuk saling memanfaatkan dan saling membesarkan,” paparnya.

Di sisi lain, Endang Tri Margawati peneliti utama Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI menyampaikan tentang vaksin yang dikembangkan berfokus pada penyakit jembrana yang sudah menyerang pertama kali di Bali. “Sapi Bali cukup banyak populasinya di Indonesia, dan adanya vaksin jembrana ini salah satu upaya ketahanan terhadap Sapi Bali. Penanggulangan penyakit infeksi menjadi tantangan untuk vaksinasi di lapangan. Vaksin ini aman karena tidak menimbulkan demam dan tidak ada efek samping,” jelasnya.

Di penghujung acara, Roni Ridwan selaku Ketua Kelompok Penelitian Bioteknologi Hewan Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI menjelaskan kegiatan PUI adalah peternakan sapi potong dan sapi perah.  “Konsep riset bioteknologi peternakan 2020-2024 yaitu sapi unggul. Tahapan yang dilakukan yaitu genetika pemuliaan, reproduksi, nutrisi, kesehatan hewan dengan output kit diagnostik, suplemen pakan, probiotik, embrio dan sperma unggul, marker genetik, olahan pasca panen dan paten,” pungkasnya. (yl ed sl)

Share.

About Author

Leave A Reply