Menyiapkan Diri dan Keluarga Jelang Vaksinasi Covid-19

Pinterest LinkedIn Tumblr +
image_pdfimage_print

Cibinong, Humas LIPI. Awal tahun 2021, pemerintah mulai mendistribusikan vaksin Sinovac secara bertahap ke 34 provinsi di Indonesia. Tahap pertama vaksin akan diberikan kepada tenaga kesehatan dan personel penunjang di seluruh fasilitan kesehatan. Tahap kedua ditujukan kepada pelayanan publik seperti TNI/Polri, Satpol PP, petugas bandara, pelabuhan, KA, guru, tokoh agama, dan tokoh masyarakat. Tahap ketiga diberikan untuk masyarakat rentan. Terakhir, tahap keempat untuk masyarakat umum lainnya serta masyarakat termasuk pelaku ekonomi.

Peneliti  Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Dr.rer.nat. Wien Kusharyoto menyatakan bahwa yang paling lazim disiapkan saat ini bagi kita dan keluarga adalah persiapan mental dalam menerima program vaksin tersebut, meskipun disampaikan bahwa vaksin ini aman. “Bagaimanapun saat ini kita masih dalam proses menunggu efikasi vaksin tersebut berdasarkan hasil uji klinis tahap 3,” ujar Wien pada acara  live streaming bersama MNC Trijaya FM dalam acara Trijaya Hot Topic Petang, pada Rabu (6/1).

“Saya pribadi kemungkinan tergolong di kelompok 4 atau 6, artinya mungkin orang-orang yang akan mendapatkan vaksin terakhir. Biasanya dalam konteks seperti itu, saya akan memberikan pemahaman agar bersabar kepada anak saya, yang selalu bertanya kapan akan divaksin. Karena ingin bertemu lagi dengan teman-temannya dan juga ingin segera sekolah,” tuturnya

Wien menambahkan bahwa sebenarnya kita juga sudah punya vaksin, “Yaitu dengan disiplin menjalankan protokol kesehatan,  vaksin yang justru kita peroleh karena disiplin kita sendiri, “tambahnya

Trijaya FM menanyakan bagaimana cara memberikan pemahaman kepada masyarakat, terutama untuk mereka yang masih ada “keraguan” atau “kegalauan” terkait dengan vaksin Covid-19 ini. Wien menjelaskan bahwa bila dilihat dari sejarahnya, vaksin yang berasal dari virus yang di-inaktifkan ini memang lazim digunakan, sehingga dari sisi keamanan sebenarnya tidak perlu diragukan lagi. Yang paling utama perlu dilihat adalah dari aspek efikasinya, yaitu seberapa jauh vaksin ini dapat melindungi kita dari kemungkinan infeksi atau munculnya gejala Covid-19.

“Pada dasarnya kita dapat melakukan sendiri upaya-upaya agar kita jangan sampai terinfeksi. Saya kira vaksinnya aman, baik dari Sinovac atau Pfizer atau Moderna. Saya juga sudah melihat data-data dari uji klinis dari Johnson and Johnson. Mereka pada dasarnya semuanya dikategorikan dalam vaksin yang sudah aman. Dan juga beberapa sudah terbukti memiliki efikasi yang tinggi hingga 94-95%, “ jawabnya.

Terkait dengan masyarakat yang memiliki komorbiditas, Wien menerangkan,” Biasanya vaksin yang diberikan telah disesuaikan dengan kondisi mereka, karena BPOM juga akan mengkonfirmasi dan memberikan kriteria apakah vaksin tersebut juga bisa diberikan pada mereka yang memiliki komorbiditas. Bisa saja akibat komorbiditas itu efikasi dari vaksinnya kemudian akan turun atau malah berbahaya”.

“Bisa dilihat juga nanti dari data uji klinis tahap 3. Karena jumlah yang diuji cukup banyak, mungkin diantara mereka ada yang memiliki kondisi-kondisi tersebut. Dan dari data tersebut dapat kita perkirakan apakah vaksin tersebut bisa diaplikasikan kepada mereka yang memiliki komorbiditas, “jelas Wien.

Wien mengungkapkan terkait dengan efek samping yang bisa bermacam-macam. Misalnya bila terjadi efek samping sekedar demam mungkin dengan paracetamol cukup. Bila kemudian muncul inflamasi yang agak tinggi, biasanya orang diberikan dexamethasone atau obat anti inflamasi yang lain. Atau seandainya ada alergi ringan, bisa diantisipasi dengan antihistamin. “Pada beberapa kasus vaksin Pfizer dan Moderna ada alergi dalam status yang cukup berat. Maka mungkin perlu suntikan adrenalin. Ini yang biasanya digunakan untuk mengatasi yang memberikan respon alergi yang berlebihan, “ tambahnya.

Wien menjelaskan lebih lanjut bahwa vaksin Sinovac sejauh ini baru diuji untuk mereka yang berumur 18 – 59 tahun. Otomatis nantinya emergency use authorization melihat pada kondisi mereka juga. Apakah diantara mereka yang dievaluasi misalnya dari Brasil ada yang berumur di atas itu, sehingga bisa dipertimbangkan apakah vaksinnya juga bisa digunakan untuk mereka yang berusia di atas 60 tahun. “Untuk anak-anak sejauh ini belum ada vaksin yang mendapatkan emergency use authorization, yang diijinkan untuk digunakan anak-anak. Sehingga anak-anak ini termasuk golongan yang akan menunggu lebih lama untuk mendapat vaksinasi, “ jelasnya.

Mengakhiri diskusi Wien menyampaikan, “Nantinya akan ada 2 kali penyuntikan, jadi jangan sampai seseorang sudah disuntik pertama kali langsung merasa kebal. Langsung merasa tidak mungkin lagi terjangkit oleh Covid-19. Yang harus dipertimbangkan adalah respon imun kita setelah penyuntikan pertama belum cukup tinggi. Oleh karena itu biasanya diperlukan penyuntikan yang kedua, sehingga mereka yang sudah disuntik pertama kali tetap harus berhati-hati dengan mematuhi protokol kesehatan sampai mereka disuntik kembali 2 minggu kemudian”.

“Bahkan harus dipertimbangkan juga, biasanya antibodi muncul puncaknya minimal sebulan setelah penyuntikan. Jadi selama tahap itu semuanya tetap harus dijalankan dengan hati-hati, protokol kesehatan tetap dijalankan dengan disiplin. Bahkan selama 1 tahun misalnya kita sudah divaksin 2 kali tetap harus berhati-hati. Karena sejauh ini kita belum mengetahui secara persis berapa lama vaksin tersebut bisa melindungi, “ pungkasnya.

Pembicara lain yang turut menjadi narasumber pada acara ini yaitu Dr. Lucia Rizka Andalusia (Juru Bicara Program Vaksinasi Covid-19 BPOM) dan Dr. Elizabeth Jane Soepardi (Pakar Imunisasi) yang dipandu host, Margi Syarif dari Trijaya FM. (IkS ed SL)

Share.

About Author

Leave A Reply