Disinfeksi Limbah Masker

Pinterest LinkedIn Tumblr +
image_pdfimage_print

Cibinong, Humas LIPI. Memperingati Hari Peduli Sampah Nasional Tahun 2021, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan Sub Bidang Limbah Medis Satuan Penanganan Covid 19 menggelar Webinar Pengelolaan Limbah Masker di Masa Pandemi COVIID-19 bertajuk “Jangan Buang Maskermu “. Salah satu materi yang dipaparkan adalah membincangkan aspek disinfeksi limbah masker.  “Pengelolaan limbah masker yang paling urgent adalah bagaimana kita memberikan pemahaman yang sama terhadap semua pihak yang nantinya terlibat  dalam proses pengolahan limbah ini, yakni mulai dari rumah tangga yang mengeluarkan limbah masker, yang membawa, yang mengumpulkan, yang memilah hingga yang mengolahnya menjadi suatu bahan lain,” ungkap narasumber dari Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Dr. Ratih Asmara Ningrum, pada Selasa (16/2).

Ratih menjelaskan Virus Sars-Cov-2 merupakan virus materi genetik RNA, yakni virus yang memiliki kecenderungan lebih mudah berubah dibandingkan dengan virus materi genetik DNA. “Virus ini memiliki selubung, yang apabila dibandingkan dengan virus yang tidak berselubung, ternyata selubung ini menyebabkannya kurang stabil, contohnya jika virus terkena disinfektan atau sabun maka selubungnya akan rusak dan virusnya menjadi pecah sehingga tidak aktif,” jelasnya.

Menurut Ratih, penyebaran infeksi  tidak hanya terjadi secara langsung, seperti dari individu yang terinfeksi berkontak secara langsung,  dan berkontak dengan droplet di udara baik dari batuk atau bersin, atau tangan dari penderita. Tetapi ada bahaya lain ketika droplet mengenai permukaan benda dan kita sentuh dinamakan  penyebaran melalui indirect contact.

“Melalui indirect contact, jika kita pegang bahan yang sudah ada virus kemudian memegang hidung, mata , wajah, saluran wajah, dan saluran pernapasan maka virus akan menempel pada permukaan saluran pernapasan melalui  interaksi protein spike pada protein yang berinteraksi dengan Reseptor Angiotensin converting enzyme 2 (ACE2) yang ada disaluran pernapasan. Setelah virus masuk maka akan segera membajak sel dan memperbanyak diri sebanyak-banyaknya disitulah dapat terinfeksi,” papar Ratih.

Dirinya  mengutarakan, Kementerian Kesehatan  sudah merekomendasikan masker sebagai senjata utama  atau alat pelindung diri  untuk tenaga kesehatan maupun masyarakat umum dengan masker kain tetapi karena ada varian-varian  baru dari virus dan kasus yang meningkat maka masyarkat merasa lebih aman menggunakan masker bedah tipe APD, face shield dan masker bedah. “Tentunya masker mengandung berbagai bahan yang mempengaruhi stabilitas virus yang menempel dipermukaan masker dan menjadi suatu permasalahan sendiri bertambahnya limbah medis,” tegas Ratih.

Ratih mengungkapkan pula, stabilitas virus pada permukaan benda-benda, misalnya saat ini sudah ada berbagai riset salah satunya riset mengenai menentukan stabilitas virus yang ada di permukaan. “Masker bedah di bagian dalam 7 hari sedangkan bagian luar lebih dari 7 hari masih aktif virusnya. Bagi OTG yang menggunakan masker bedah bagian dalam pasti mengandung virus. Sementara masyarakat yang negative, jika bepergian ketempat umum maka bagian luar masker tersebut ada virusnya. Sementara stabilitas pelindung diri lainnya seperti masker N 95 bisa sampai 21 hari, sarung tangan, stainless bagian masker N 95, dan plastik lebih lama stabililitas virusnya,” rincinya.

Lebih jauh Ratih menerangkan tentang inaktivasi Sars-CoV-2. “Ada suatu riset yang memaparkan kultur virusnya terhadap disinfektan. Semua tipe disinfektan ternyata telah bekerja baik yang sederhana maupun yang sudah lebih banyak digunakan fasilitas Kesehatan, seperti pemutih di rumah tangga bisa kita gunakan, walaupun dengan pemaparan 5 menit, jika virus dikontakkan langsung dengan disinfektan sudah bisa mematikan dengan suhu selama 70°C selama 5 menit bisa mengaktivasi virus,” ungkapnya. “Hanya untuk berbagai variasi PH tidak menunjukkan hasil inaktivasi, lebih ke suhu dan disinfektan, tentunya pada virus yang  dikontakkan langsung,” imbuhnya.

Di akhir pemaparan, Ratih menyatakan banyak hasil-hasil riset tentang cara disinfeksi limbahmasker, antara lain bisa menggunakan cara sederhana seperti pada masker bedah menggunakan pemanasan dengan oven selama 45 menit pada suhu 70°C.  Untuk masker N95, disinfeksinya dengan menggunakan alcohol/ethanol 70%, pemanasan 70 derajad celcius selama 60 menit,  atau menggunakan sinar ultraviolet dalam jarak 50 cm selama 50 menit.

“LIPI  juga membuat alat-alat sterilizer berbasis ultraviolet dengan menggunakan hidrogen peroxide. Jadi ada berbagai macam metode disinfeksi untuk masker dan metode cukup simpel dapat dilakukan untuk pengolahan limbah masker,” terang Ratih. “Hal utama disinfeksi harus dilakukan sedini mungkin. Diharapkan  rumah tangga khususnya disinfeksi masker disemprotkan  alkohol masukkan terpisah dari  sampah-sampah lainya baru dibuang untuk diambil petugas sampah,” tutup Ratih. (shf ed sl)

Share.

About Author

Leave A Reply