Potensi Tempoyak, Oncom dan Ikan Peda sebagai Imunostimulan

Pinterest LinkedIn Tumblr +
image_pdfimage_print

Cibinong, Humas LIPI.  Indonesia memiliki jenis-jenis makanan yang beragam dan kaya akan nutrisi. “Makanan fermentasi mempunyai potensi immunefunction yang belum banyak tereksplorasi, diantaranya yaitu tempoyak, oncom dan ikan peda yang cukup familiar di masyarakat Indonesia,” ungkap Agus Budiawan Naro Putra, Ph.D salah seorang CPNS Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI yang memaparkan materi bertopik “Exploring the Immune-function Potentials of Some Selected Indonesian Fermented Foods” dalam “Knowledge Sharing Seminar”, pada Selasa (16/2).

Dirinya menjelaskan bahwa proses fermentasi tempoyak melibatkan bakteri asam laktat secara natural. “Dengan penambahan garam ke dalam daging durian, maka dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme pathogen,” terang Naro. Kesimpulan dari hasil penelitiannya pada tempoyak bahwa proses fermentasi tempoyak dapat menghasilkan senyawa bioaktif dan tempoyak memiliki sifat imunostimulan yang potensial sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pangan olahan yang potensial.

Naro menjelaskan pula penelitiannya terhadap oncom. “Ada dua jenis oncom yang beredar di tengah masyarakat yaitu oncom merah dan oncom hitam. Perbedaan jenis ini didasarkan pada bahan dan cara yang digunakan dalam proses fermentasi. Oncom merah dibuat dengan cara memfermentasi hasil samping produksi tahu yang disebut bungkil tahu, menggunakan Neurospora sitophila atau N. intermedia var. oncomensis, sedangkan oncom hitam dibuat dengan cara memfermentasi bungkil kacang tanah, kadang dikombinasikan dengan onggok atau tepung tapioka, menggunakan Rhizopus oligosporus,” rincinya. Dari hasil penelitiannya terhadap oncom, disimpulkan bahwa “oncom menunjukkan potensi imunostimulan.

Potensi makanan fermentasi lainnya yang diteliti adalah ikan peda. “Ikan peda adalah salah satu makanan fermentasi tradisional indonesia yang menggunakan ikan kembung sebagai bahan utamanya, dibuat dengan menambahkan garam dalam jumlah banyak atau konsentrasi tinggi untuk memperpanjang umur simpan dan menghasilkan rasa dan aroma ikan yang diinginkan,” jelas Naro. “Proses fermentasi ikan peda dikategorikan sebagai fermentasi spontan, dimana tidak digunakan kultur starter. Kesimpulan yang dihasilkan dalam penelitian tersebut yaitu “ikan peda memiliki potensi untuk meningkatkan sistem imun kita dan hasil riset in vitro menunjukkan bahwa ikan peda mampu menstimulasi produksi antibodi IgM oleh sel HB4C5.,“ tambahnya.

Sebagai penutup presentasinya, Naro menyampaikan, fungsi makanan fermentasi Indonesia masih kurang dieksplorasi, temuan dalam penelitiannya  menunjukkan bahwa makanan fermentasi Indonesia memiliki potensi yang besar untuk dieksplorasi karena dapat berperan sebagai stimulator bagi sistem pertahanan tubuh dan dapat membantu melindungi terhadap infeksi yang disebabkan oleh patogen asing. “Diharapkan kedepannya riset yang berhubungan dengan makanan fermentasi berbasis biodiversitas Indonesia semakin integratif dan semakin banyak pihak yang terlibat untuk mengekplorasi dan berkolaborasi sehingga kita tidak tertinggal dari negara lain,” tutupnya.

Sebagai informasi, acara Knowledge Sharing Seminar rutin digelar Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI setiap Selasa tersebut, kali ini dibuka langsung Koordinator Program Penelitian Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Dr. Masteria Yunovilsa Putra. Masteria mengemukakan harapannya agar acara ini bisa menambah ilmu bagi semua peserta dan dapat terjalin kolaborasi dengan peserta eksternal LIPI. (WT ed SL)

 

Share.

About Author

Leave A Reply