Radiasi Terapi Astatine-211(211At) sebagai Partner Melawan Kanker

Pinterest LinkedIn Tumblr +
image_pdfimage_print

Cibinong, Humas LIPI. Acara Knowledge Sharing Seminar yang digelar Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI setiap Selasa, terus menghadirkan narasumber peneliti dengan kepakaran khas. Pada Selasa (16/2) lalu, berkesempatan  Peni Ahmadi, Ph.D, CPNS Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI memaparkan dengan topik “Astatine-211 (211At) as an Ally Against Cancer”. “Tujuan utama penelitian saya bersama tim adalah mencari salah satu strategi yang dapat digunakan untuk menghambat kanker atau bahkan membunuh kanker dan “diharapkan strategi yang di desain dapat dijadikan acuan sebagai salah satu upaya penanganan kanker dengan metode terapi radionuclide,” ungkapnya. “Kita ketahui bahwa kanker merupakan salah satu dari 10 besar penyebab kematian tertinggi di dunia,” imbuh Peni.

Dirinya menjelaskan kenapa tertarik dengan radiasi terapi, sedangkan bagi beberapa orang, radiasi terapi ini sangat berbahaya jika tidak ditangani secara hati-hati, “Pertama, karena menggunakan pengion radiasi. Kedua, bisa digunakan untuk mencegah pertumbuhan tumor kembali setelah operasi (sebagai adjuvant). Ketiga, sinergistik dengan kemoterapi sehingga memberikan efek yang lebih komprehensif dalam menghambat atau membunuh tumor, dan keempat dengan metodenya membunuh sel kanker dengan cara merusak DNA dari sel kanker itu sendiri,” terang Peni.

Lebih lanjut, Peni menyampaikan keuntungan dari radiasi terapi yaitu dapat menjangkau daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh metode terapi lainnya, seperti kanker yang sudah menjalar ke bagian tubuh lain, i.e. tulang (malignant cancer)” ungkapnya.

“Astatine-211 (211At) dipilih dalam penelitian ini selain karena biaya produksinya relatif lebih murah dari radionuclide α-emission lain di kelasnya (i.e. Radium-223, Actinium-225, Thorium-227) juga karena 100% 211At terdekomposisi menjadi α-emission, tidak ada turunan (daughter isotope) dari 211At yang berbahaya, memiliki waktu paruh yang sesuai untuk digunakan dalam terapi kanker (7,2 jam) dan dapat juga digunakan untuk SPECT imaging,” rinci Peni.

Sebagai penutup presentasinya, Peni menyampaikan bahwa kekurangan dari penelitian ini yaitu “1) IT injeksi 211At-trastuzumab pada tumor model mencit menunjukkan adanya 9% kehilangan berat badan pada satu minggu pertama setelah injeksi, namun berat badan kembali stabil setelahnya.  “Hal ini dapat disebabkan oleh: 1) shock/stress yang dialami oleh tumor model mencit yang diterapi atau karena kompleks yang diberikan dapat menyebabkan perubahan metabolisme tubuh mencit, 2) gugus fungsi closo-decaborate harus di desain lagi agar lebih hydrophilic sehingga tidak mengubah feature dari trastuzumab (antibody, HER2) yang digunakan,” paparnya.

“Namun metode ini juga memiliki beberapa keunggulan antara lain: 1) 211At berpotensi digunakan sebagai target terapi kanker terutama metastasis kanker, 2) kompleks antara gugus fungsi closo-decaborate dengan 211At sangat stabil, 3) proses permurnian komples 211At-trastuzumab sangat sederhana dan cepat, 4) pada terapi tumor model mencit, 211At-trastuzumab memiliki efektifitas 30 kali lipat dibanding trastuzumab yakni hanya menggunakan 6,3 µg 211At-trastuzumab dengan single injection, sedangkan trastuzumab diperlukan 200 µg untuk initial dose dan 150 µg untuk maintenance dose, 5) beberapa 211At-antibody sudah dilakukan evaluasi untuk uji klinis, 6) diprediksi bahwa kedepannya terapi α-emission ini merupakan salah satu terapi yang sangat menjanjikan untuk terapi kanker dan riset dibidang ini akan terus berkembang,” pungkas Peni.

Peni adalah narasumber kedua setelah sebelumnya rekannya Agus Budiawan Naro Putra, Ph.D juga hadir memaparkan materi berbeda. Dr. Masteria Yunovilsa Putra Koordinator Program Penelitian Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI membuka langsung acara tersebut seraya berharap acara yang dihelat akan menambah ilmu untuk semua peserta dan terjalinnya kolaborasi dengan mitra eksternal LIPI. (WT ed SL)

 

 

 

Share.

About Author

Leave A Reply