Peranan Patofisiologis Reseptor yang Berkaitan Dengan Sistem Imun

Pinterest LinkedIn Tumblr +
image_pdfimage_print

Cibinong, Humas LIPI. Inflammatory Bowel Disease (IBD) merupakan penyakit kompleks yang disebabkan oleh berbagai faktor yang seringkali merupakan kombinasi antara terganggunya intestinal mucosal barrier, disregulasi sistem imun, dan terganggunya respon terhadap faktor lingkungan seperti respon terhadap gut microbiota pada inang yang rentan secara genetik.

Intestinal mucosal barrier berperan sebagai barrier selektif yang memiliki peranan ganda, yaitu mengizinkan lewatnya absorpsi nutrisi sekaligus mencegah masuknya antigen. “Fungsi dari intestinal mucosal barrier diatur oleh rangkaian organisasi yang terdapat pada saluran pencernaan dan jaringan selular yang terdiri dari sel epitelial, sel mesenkimal, sel imun, dan juga sel neuron,” ungkap Ai Hertati, Ph.D., Apt., salah seorang peneliti pada Kelompok Penelitian Pengembangan Produk Biologi di Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI pada acara Knowledge Sharing Seminar dengan topik ”A Study of Pathophysiological Roles of Immune System-Related Receptors that Regulates Intestinal Mucosal Barrier Function in Inflammatory Bowel Disease Model” pada Selasa (23/2).

Dirinya menjelaskan bahwa sitokin dan short chain fatty acid (SCFA) merupakan pemegang peran utama dalam proses pengaturan tersebut. Oleh karena itu, terganggunya intestinal mucosal barrier menunjukkan peran penting dalam proses patogenesis berkaitan dengan penyakit kelainan sistem imun pada saluran pencernaan termasuk IBD. Namun, peranan dan organisasi antara sitokin, SCFAs, dan reseptor yang berkaitan dengan sistem imun dalam model in vivo intestinal mucosal barrier masih belum jelas. Itulah sebabnya dilakukan penelitian untuk mengetahui peranan dari reseptor sitokin interleukin 4 sub unit alfa (IL-4R alfa) dan reseptor SCFA (GPR41) dalam penyakit inflammatory bowel disease menggunakan murine in vivo model.

“Di Indonesia penyakit Inflammatory Bowel Disease (IBD) ini belum menjadi fokus utama dibanding negara-negara maju seperti di negara –negara barat, akan tetapi saat ini lambat laun telah mengalami pergeseran juga dimana negara-negara Asia, penyakit IBD sudah mulai meningkat termasuk juga di Arika dan Amerika latin, “papar Ai.

Ai menuturkan, Inflammatory Bowel Disease (IBD)  merupakan suatu penyakit kronis yang menyerang saluran pencernaan. “Biasanya IBD ditandai dengan siklus berulang antara fase kambuh dan fase remisi, dimana pasien tidak menderita suatu gejala apapun,” terang Ai. “Bentuk utama IBD ada 2 macam  yaitu, pertama Crohn’s Disease (CD), biasanya menyerang pada bagian mana saja dari saluran pencernaan kita dan yang kedua Ulcerative Colitis (UC) yang biasanya menyerang hanya pada usus besar dan anus, “tambahnya.

Ai juga menunjukkan angka prevalensi IBD didunia pada tahun1990-2017 dimana angkanya terus meningkat dari tahun ke tahun. “Tentu saja peningkatan ini makin membebani populasi di dunia karena apabila pasien menderita IBD, dan  hal tersebut  akan menurunkan kualitas hidup si penderita, sehingga kemampuan si penderita untuk bekerja atau beraktivitas sehari – hari  juga menjadi menurun, “ungkap Ai.

Lebih lanjut Ai juga menunjukkan  kondisi IBD di Jepang yang  juga mengalami peningkatan baik CD maupun UC, sedangkan untuk Indonesia angkanya tidak terlalu besar, dimana menurut data kementerian kesehatan sekitar tahun 2017 – 2018 angkanya masih sangat rendah dibandingkan negara-negara lain. “ Di Indonesia masih susah untuk menegakkan  diagnosisnya karena di Indonesia masih banyak bergelut dengan penyakit saluran pencernaan lainnya yang masih menjadi fokus utama,” terang Ai.

Selanjutnya Ai menjelaskan mengenai treatment IBD, meskipun pengetahun mengenai penyakit IBD telah berkembang dengan pesat, akan tetapi karena IBD ini merupakan penyakit yang kronis dan disebabkan oleh berbagai faktor maka penyakit IBD ini tetap belum bisa disembuhkan, oleh karena itu tujuan utama dari treatment IBD ini adalah “untuk mengurangi proses inflamasi dan juga menciptakan remisi yang panjang/lama dan juga mengurangi resiko komplikasi,” ungkapnya. “Dan biasanya komplikasi dari penyakit IBD ini adalah kanker usus,” imbuh Ai.

Dirinya menerangkan bahwa untuk mencapai kondisi remisi yang lama ini, yang diperlukan adalah penyembuhan dari luka pada bagian saluran pencernaan juga perbaikan kembali integritas dari intestinal mucosal barrier. “Inilah alasan mengapa  regulasi dari intestinal mucosal barrier sangat penting dalam treatment IBD,” tandas Ai.

IBD merupakan suatu penyakit yang kompleks dan disebabkan oleh berbagai faktor yaitu (1) karena terganggunya intestinal mucosal barrier, (2) mungkin karena terjadinya disfungsi sistem imun dan (3) adanya respon yg tidak tepat terhadap faktor-faktor lingkungan dan hal tersebut (4) terjadi pada individu yang secara genetik memang sudah rentan, oleh karena itu kombinasi dari semua faktor itu pada akhirnya menyebabkan IBD.

Ai juga menjelaskan struktur pada mucosal barrier pada saluran pencernaan, dimana intestinal mucosal barrier ini terdiri dari 2 barrier yaitu barrier fisik dan barrier kimia, kedua barrier ini bekerja secara selektif untuk mengizinkan absorbsi dari nutrisi yang bermanfaat untuk tubuh kita dan pada saat yang bersamaan juga menghalangi masuknya antigen atau bahan-bahan lain yang berbahaya  bagi tubuh.

Fungsi dari intestinal mucosal barrier ini diatur oleh selular networking antara sel-sel yang ada pada saluran penernaan ini. Oleh karena itu, kerusakan dari fungsi intestinal mucosal barrier function sangat penting untuk proses patogenesis dari penyakit yang berkaitan dengan sistem imun termasuk diantaranya IBD.

“Hasil Penelitian ini menunjukkan peranan patofisiologis dari reseptor IL-4 sub unit alfa dan perubahan pada struktur morfologi GPR41 yang diperoleh dari model IBD ini dapat meningkatkan pemahaman kita tentang penyakit IBD khususnya tentang patogenesisnya  untuk menciptakan suatu treatment IBD yang baru,” tutup Ai. (WT ed SL)

 

 

Share.

About Author

Leave A Reply