Vaksin Sebagai Salah Satu Alat Pandemic Preparedness

Pinterest LinkedIn Tumblr +
image_pdfimage_print

Cibinong, Humas LIPI. Tidak dapat dipungkiri bahwa pemerintah dan masyarakat menaruh harapan yang sangat besar pada vaksin sebagai salah satu jalur keluar dari pandemi yang sudah 12 bulan lebih mencekik kehidupan nasional dan internasional. “Dalam waktu yang sangat cepat ratusan kandidat vaksin COVID-19 telah dikembangkan secara global berkat kerjasama dan investasi yang tak tertandingi di bidang pengembangan dan pengujian vaksin. Saya berharap pada kegiatan kali ini dapat dimanfaatkan tidak hanya karena materi dan pembahasannya lebih detil namun juga diskusinya dapat seoptimal mungkin bagi semua peserta,” ujar  Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Dr. Puspita Lisdiyanti, M. Agr. Chem saat memberikan sambutan pada acara Knowledge Sharing Seminar dengan topik ”Vaksin Sebagai Salah Satu Alat Pandemic Preparedness”, pada Selasa (2/3).

“Pandemi menunjukkan bahwa ketahanan kesehatan adalah aspek yg sangat penting karena negara-negara yang berhasil mengembangkan beragam diagnostik, menguji obat atau mengembangkan produk vaksin sendiri yang sebenarnya memiliki kunci dalam melawan pandemi,” ungkap Dr. Ines Atmosukarto, CSO and MD Lipotek Pty. Ltd selaku narasumber.

 Ines yang pernah menjadi peneliti di Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI  menyampaikan bahwa kita harus bisa mengambil pelajaran dari pandemi ini untuk mengidentifikasi apa saja yang perlu dilakukan supaya Indonesia tidak lagi menghadapi pandemi ini. “Jika ada virus baru atau patogen baru yang muncul, Indonesia memiliki kapasitas untuk menjawab kebutuhan dengan cepat,” ungkapnya. Salah satu permasalahan adalah bagaimana menjawabnya dengan cepat, dan kemampuan bergerak dengan cepat itu adalah tantangan terbesar baik di Indonesia maupun di tempat lain,” paparnya.

Dirinya juga menjelaskan kegiatan di Lipotek yang berfokus pada pengembangan teknologi baru dan pengembangan intelektual properti, yang kemudian dikerjasamakan dengan pihak-pihak lain. Salah satu contohnya adalah kerjasama dengan Biofarma  di Indonesia yg sudah berjalan sekitar 10 tahun terakhir ini, dan beberapa perusahaan lain di dunia.

Lebih lanjut Ines memaparkan bahwa sering terjadi ketidaksenambungan antara apa yang terjadi pada laboratorium penelitian dasar dengan kebutuhan dari industri, dikarenakan cara kerja di laboratorium dasar sebenarnya tidak sama dengan laboratorium yang sifatnya komersil. Baik dari penyimpanan data, penyimpanan sampel, tracking dari informasi, itu semuanya sebenarnya berbeda.

Selain itu Ines juga menyampaikan fokus pada tim Lipotek adalah mengembangkan produk yang dikarakterisasi dengan lengkap. “Fokus dari perusahaan Lipotek adalah menjembatani penelitian dasar dengan usaha komersialisasi dan mengimplementasi protokol-protokol standar, sehingga  semua proses produksi tercatat dan bisa dipublikasi dengan mudah. Hal tersebut akan mempercepat hilirisasi dari suatu produk,” terangnya.

“Saat ini vaksin sedang menjadi topik pembicaraan. Di Indonesia sendiri program vaksinasi sudah dimulai menggunakan produk Sinovac dari Cina, tetapi di Indonesia juga ada beberapa kelompok yang sedang mencoba mengembangkan vaksin dalam negeri seperti vaksin Merah Putih dari Lembaga Eijkman dan vaksin Nusantara. Saya  sempat mengkritik dan mengomentari vaksin Nusantara karena menurut saya sifat pengembangannya terlalu kompleks untuk menjawab kebutuhan pandemi,” ungkap  Ines.

Ines menuturkan pula bahwa inovasi itu harus tepat guna, jangan kita berinovasi dengan proses yang kompleks padahal yang dibutuhkan adalah sesuatu yang lebih simpel yang bisa digunakan dan diedarkan dengan mudah. “Ketepatgunaan inovasi itu adalah sesuatu yang penting pada saat kita mencoba mengembangkan suatu produk,” tegas Ines.

“Sebelum berbicara bagaimana mengembangkan vaksin kita harus mengetahui mengenai imunologi. Pengertian akan imunologi sangat penting untuk bisa menciptakan vaksin-vaksin yang bagus. Untuk menciptakan suatu produk kita harus mengerti cara kerja dari sistem yang ditargetkan. Oleh karena dalam hal ini yang kita kembangkan adalah vaksin yang menargetkan sistem imun, maka kita harus mengerti tentang fungsi dan kerja sistem imun,” ungkap Ines.

Ines menjelaskan bahwa sistem imun ada dua macam, ada yg namanya innate immunity dan adaptive immunity. Innate immunity sifatnya mengenal mikroba/patogen dan secara umum terdiri dari beberapa jenis sel, di mana yang paling penting adalah dendritic cells (DCs). “DCs berpatroli di dalam tubuh kita dan senantiasa mencari apakah ada suatu patogen yang mencoba menginfeksi tubuh. Selanjutnya DCs akan memproses patogen dan memperkenalkan patogen tersebut kepada T cells. T cells ini adalah bagian dari adaptive immunity yang akan membentuk reaksi yang spesifik terhadap patogen tertentu, baik respons antibodi yang dibuat oleh B cells atau respons T cell yang dapat membunuh sel-sel yang sudah terinfeksi pathogen,” rinci Ines.

Ines menambahkan bahwa suatu vaksin idealnya bisa menciptakan kedua respons tersebut. “Selama ini kebanyakan vaksin diuji hanya dalam kemampuannya merangsang pembentukan antibodi, namun dengan adanya berbagai jenis vaksin yang di ciptakan untuk COVID-19, kemampuan vaksin untuk menginduksi respon T cells juga mulai diuji,” jelas Ines

“Untuk terciptanya respon imun apalagi terhadap suatu vaksin,  sistem imun kita tidak hanya mengenal antigen tetapi juga danger signals, danger signals biasanya adalah bagian integral dari suatu patogen. Jika vaksin kita hanya terdiri dari antigen respon imunnya akan sangat kecil maka perlu ada danger signal,” terang Ines.

Ines merinci,” Baik saat vaksinasi pertama dan kedua, butuh waktu optimal sekitar 2 – 4 minggu untuk terbentuknya antibodi dan perlu diingatkan kepada orang-orang di sekitar kita bahwa vaksinasi ini butuh waktu dan harus tetap memperhatikan 5M,” katanya. “Tugas kita sebagai ilmuwan menjebatani dan memberikan informasi yang baik terhadap orang-orang disekitar kita,” imbuhnya.

Lebih jauh Ines memaparkan bahwa konsep yang paling penting dari vaksinasi adalah adanya memori, dimana sistem imun kita bisa mengingat kalau kita pernah terpapar terhadap suatu patogen, baik dari suntikan vaksin maupun paparan virus. Selain itu, memori tergantung dari jenis vaksin dan virusnya.

“Bahwa untuk mendisain suatu vaksin, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu (1) antigennya,  dimana dalam tahap ini dibutuhkan ahli protein, imunologi dan virologi; (2) adjuvant, adjuvant apa yang sesuai digunakan, dan bisa diskrining atau dievaluasi;  dan (3) delivery system, bagaimana mengantar atau memastikan vaksin bisa sampai ke target dan menghasilkan respons optimal. Saya banyak berkecimpung pada tahap delivery system ini,” ungkap Ines.

Dirinya juga menyampaikan banyak tantangan dalam pengembangan vaksin. “Sebenarnya sebelum adanya pandemi ini vaksin ini tidak termasuk produk yang seksi untuk dipelajari karena dari segi komersial jika berbicara dengan investor-investor mengenai pengembangan vaksin mereka tidak tertarik. Alasannya karena vaksin ini dianggap produk yang tidak menguntungkan, karena vaksin adalah produk yang mencegah penyakit, jadi dari segi komersial kurang ok untuk investasi,” jelasnya,” papara Ines.

“Akan tetapi pandemi membuktikan bahwa pada saat ini vaksin merupakan jalan keluar dari pandemi, jadi banyak sekali perhatian yang diberikan kepada pengembangan kapasistas produksi vaksin. Salah satu yang harus dilakukan di Indonesia adalah pengembangan kapasitas dengan inovasi yang baru dan dalam waktu cepat. Salah satunya adanya persiapan beragam platform untuk produksi protein rekombinan berbasis bakteri, yeast, dan sel mamalia,” tambah Ines.

“Proses pengembangan vaksin itu butuh waktu lama dan tentunya kualitas dari proses ini akan menentukan mudah tidaknya suatu produk untuk diregistrasi. Oleh karena itu perlu hubungan yang baik antara peneliti, industri dan otoritas sehingga apa yang dilakukan peneliti itu relevan untuk dijadikan produk. Sayangnya tidak semua yang dilakukan peneliti berakhir menjadi produk, sehingga semua ini harus diperkirakan dari awal, “ungkap Ines.

Sebelum menutup paparannya, Ines menyampaikan kesempatan RnD di Indonesia dibidang pengembangan vaksin, antara lain: (1) saat ini masih sangat terbatas komponen yang bisa dijadikan adjuvant, ada kesempatan untuk mencari atau mengidentifikasi senyawa-senyawa yang sifatnya bisa memodulasi sistem imun dari biodiversitas Indonesia, (2) kapasitas produksi khususnya untuk mendukung studi praklinis yang berkualitas, (3) kapasitas untuk menguji vaksin atau obat pada hewan,” tutup Ines.  (WT ed SL).

 

 

 

 

Share.

About Author

Leave A Reply