Pengembangan Vaksin Covid-19 LIPI

Pinterest LinkedIn Tumblr +
image_pdfimage_print

Cibinong, Humas LIPI. Saat ini, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tengah mengembangkan kandidat vaksin COVID-19 yang berbasis pada protein rekombinan fusi. “Kami memilih platform vaksin karena ketersediaan SDM dalam mengembangkan protein rekombinan dan pengalaman SDM serta fasilitas riset yang menunjang untuk produksi rekombinan melalui ekspresi pada sel mamalia dan vaksin berbasis protein rekombinan termasuk jenis vaksin yang paling aman, termasuk jika digunakan oleh anak-anak,” ungkap Dr. rer.nat Wien Kusharyoto salah seorang Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang memaparkan materi bertopik ‘Pengembangan Vaksin Covid-19 LIPI’ dalam ‘Knowledge Sharing Seminar’, pada Selasa (23/3).

Wien menyampaikan bahwa pengembangan vaksin LIPI merupakan bagian dari kegiatan riset dan pengembangan vaksin dalam konsorsium vaksin merah putih dibawah koordinasi kemenristek/BRIN. Dalam konsorsium vaksin merah putih, institusi yang terlibat saling berkoordinasi dalam penetapan platform, peta jalan pengembangan vaksin, dan kemungkinan kerjasama dalam suatu tahap pengembangan. “Diharapkan dengan adanya konsorsium merah putih  ini ada  vaksin Covid-19 diproduksi oleh peneliti-peneliti Indonesia,” tuturnya.

Dirinya juga menyampaikan sejak awal Badan POM dan LPOM MUI juga sudah dilibatkan dalam upaya pemenuhan regulasi, baik terkait produksi skala cGMP, uji klinis dan aspek halal vaksin.

Lebih lanjut Wien menerangkan, tiap institusi yang terlibat, masing-masing berupaya untuk memperoleh partner industry. “Tidak terlalu  banyak industri yang ada di Indonesia dan mampu memproduksi  vaksin dalam skala cGMR, tapi  industri ini pada dasarnya masih menunggu hasil uji  preklinis, apakah vaksin yang dikembangkan ini akan dilanjutkan pada tahap produksi cGMR dan tahap uji klinis ini tergantung uji preklinis. Yang menentukan adalah hasil uji preklinis itu sendiri dan platform yang dipilih,” terangnya. “LIPI berencana untuk bekerjasama dengan PT. Tempo Scan dalam upaya produksi skala cGMR,” tambah Wien.

Wien menjelaskan, persyaratan utama pembuatan vaksin Covid-19. Yang pertama, yaitu mutu (quality), harus memastikan immunogenisitasnya tinggi, stabilitas, cara produksinya dan aspek halal. Kedua, keamanan (safety) juga harus diperhatikan terkait toksisitas, alergenisitas dan reaktogenisitas yaitu efek samping  yg muncul setelah divaksin. Ketiga adalah khasiat (efficacy), berupa upaya untuk pencegahan dampak penyakit akibat infeksi virus, pencegahan penularan virus setelah terinfeksi dan pencegahan infeksi virus. “Vaksin ini tidak mencegah seseorang terinfeksi tetapi saat terinfeksi dampaknya tidak parah dan saat terinfeksi ada kemungkinan terjadi penularan sehingga hal ini dapat dicegah oleh vaksin tersebut,” ungkapnya.

Tantangan  dalam pengembangan vaksin yang dihadapi, yaitu: (1) kita ingin memperoleh  vaksin dalam waktu yang cepat; (2) faktor biaya dimana membutuhkan biaya yang tinggi; (3) scalability dan akses, produksi dalam jumlah besar dalam waktu yang singkat oleh karena itu dilakukan kolaborasi global, capacity building dan  prioritas target. “Sejauh ini belum ada jaminan vaksin akan digunakan secara rutin,” sebut Wien.

Wien menyampaikan tahapan pengembangan vaksin biasanya membutuhkan waktu yang lama, namun berbeda ketika kondisi pandemi seperti ini ternyata vaksin itu bisa dikembangkan dalam waktu 1 tahun dan untuk uji klinisnya sendiri pada dasarnya hanya membutuhkan waktu 8 bulan  karena ada beberapa tahap yang ditumpuk.

Salah satu aspek yang juga sangat penting yaitu terkait dengan adjuvant karena fungsi sebuah vaksin didukung oleh adjuvant yang digunakan. “Kita mengharapkan respon imun tidak hanya pembentukan respon imun antibody tapi juga  akan muncul respon imun yg menyebabkan munculnya respon sel  T. Terutama respon sel T memori yang sangat penting  jika antibody semakin berkurang, sistem kekebalan kita  pada dasarnya  masih mengingat antigen yang disuntikkan ke dalam tubuh sehingga ketika seseorang terinfeksi kembali maka tubuh kita sudah siap dengan sel-sel  yang kemudian dapat memproduksi antibody untuk menetralisir virusnya atau kemudian ada sel-sel yang mampu membunuh atau mengeliminasi sel yang sudah terlanjur terinfeksi oleh virusnya,” tutur Wien.

Lebih lanjut Wien mengatakan, ada dua kandidat  adjuvant utama yang menjadi favorit dalam pengembangan vaksin. Yang pertama, yaitu adjuvant AS03, sebuah adjuvant berbentuk emulsi minyak dalam air (0il-in-water emulsion) yang dikembangkan oleh GlaxoSmithKline (GSK), AS03 digunakan dalam vaksin Pandemrix dari GSK untuk pandemi influenza A/H1N1, serta dalam vaksin Q-Pan untuk influenza H5N1.

“Jika akan digunakan dalam preklinis, adjuvant ini sudah tersedia dan tinggal dipesan, namun belum bisa digunakan untuk uji klinis, sehingga tantangan kedepannya bagaiman kita memperoleh adjuvant ini seandainya hasil uji preklinis menunjukkan bahwa adjuvant ini yang lebih sesuai dan juga paling optimal menimbulkan respon imun,” jelas Wien.

Yang kedua Matrix-MTM adjuvant system yang merupakan nanopartikel yang terbentuk dari Quilaja saponins, kolesterol dan fosfolipida, matrix-MTM dapat mengaktifkan respon selular (respon sel T) maupun respon humoral (respon pembentukan antibody). “Matrix-MTM digunakan dalam vaksin Novavax untuk Covid-19, adjuvant ini yg saat ini paling optimal dan paling berpotensi dalam menimbulkan respon kekebalan yg tinggi   ketika digunakan protein rekombinan sebagai bahan aktif vaksinnya. Adjuvant ini paling berpotensi untuk kemudian menimbulkan respon kekebalan dan memungkinkan juga terbentuknya respon sel T karena proteinnya sendiri dapat lebih mudah masuk ke dalam sel,” ungkap Wien.

Wien menyampaikan rencana pengembangan vaksin LIPI: (1) produksi protein, purifikasi dan karakterisasi protein untuk uji preklinis, (2) persiapan uji preklinis: protocol, hewan dan bahan pengujian, formulasi vaksin, (3) perolehan klon cGMP bank: stable expression, karakterisasi genetik dan protein, pengujian performa dan stabilitas klon, penyiapan fasilitas produksi skala cGMP (oleh industri).

Uji preklinis protokolnya sudah disiapkan, yaitu uji immunogenesitas dengan mencit BALB/c, uji tantang dengan (golden) Syrian hamster. “Beberapa studi menunjukkan bahwa hamster ini dapat terinfeksi oleh virus SARS-CoV 2 dan efek yang ditimbulkan mirip dengan efek yang ditimbulkan ketika menginveksi manusia,” papar Wien.  parameter uji immunogenisitas yaitu penentuan titer anti-spike SARS-CoV-2 lgG dengan ELISA, penentuan titer antibody penghambat pengikatan dengan ACE-2, uji netralisasi dengan pseudovirus, uji netralisasi dengan virus SARS-CoV-2, dan uji ELISPOT,” rinci Wien.

Wien juga mengungkapkan, mutasi pada virus SARS-Cov-2 yaitu virus dengan mutasi D614G lebih mudah menginfeksi sel yang mengakibatkan varian tersebut lebih mudah menular, varian B.1.1.7 dari Inggris, B.1.351 dari Afrika Selatan, dan P1 dari Brasil yang menyebabkan tingkat penularan lebih tinggi. Berdampak pula terhadap efikasi vaksin yang sudah dikembangkan, mutasi E484K diperkirakan dapat menyebabkan terbentuknya escape mutant yang tidak mampu dikenali oleh antibody penetralisasi virus. “Perlu diantisipasi dengan pembentukan varian vaksin yang disesuaikan dengan varian baru, terutama virus varian afrika selatan,” tutup Wien (WT ed SL).

 

 

 

Share.

About Author

Leave A Reply