Bakteri Laut sebagai Sumber Antibiotik Baru

Pinterest LinkedIn Tumblr +
image_pdfimage_print

Cibinong. Humas. LIPI. Program bincang-bincang ‘Me vs Science’, pada Rabu (14/4) kedatangan tamu secara virtual seorang Peneliti dari Pusat Penelitian (Puslit) Bioteknologi -Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Anggia Prasetyoputri, M.Sc. PhD. “Setelah saya selesai S3 saya kembali bergabung dengan LIPI dan fokus pada pencarian sumber antibiotik baru berasal dari sumberdaya  Indonesia dan juga menyelami tentang resistensi antibiotik serta pengembangan antibiotik,” jelas Anggi kepada host, Ana Chusdarmawan. Kegiatan ini merupakan kolaborasi podme.id dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Biro Kerjasama Hukum dan Humas LIPI.

Saat menempuh pendidikan doktornya dari Institute of Molecular Bioscience – University of Queensland, Australia, Anggi lebih banyak mempelajari bakteri gram positif Staphylococcus aureus yang sekarang sudah resisten terhadap obat antibiotik. Pasien yang terinfeksi bakteri tersebut akan susah sembuh. “Kenapa sih ada bakteri bisa resisten terhadap antibiotik atau obat, tidak bisa dibunuh oleh obat. Jadi saya seperti mempelajari musuh, sehingga nantinya bisa tahu cara mengatasinya,” ungkap Anggi.

“Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk mencegah dan mengobati infeksi bakteri. Asal muasalnya dulu secara tidak sengaja Alexander Fleming menemukan Penisilin dalam cawan petri percobaannya. Sekarang antibiotik cukup bervariasi dan dibedakan berdasarkan cara kerjanya atau targetnya. Namun beberapa dekade belakangan tidak ada antibiotik baru yang ditemukan. Antibiotik yang ada sekarang dibuat berdasarkan struktur antibiotik yang sudah ada sehingga kemungkinan resistensi berkembang masih ada,” jawab Anggi saat ditanya tentang perkembangan antibiotik.

Ketika dokter memberikan antibiotik, selalu didasarkan pada penelitian yang telah dilakukan para ahli. Mengonsumsinya sesuai resep yang diberikan akan membunuh bakteri yang menjadi sumber penyakit mati sepenuhnya. Inilah jawabannya kenapa antibiotik harus dihabiskan. “Jadi kalau kita dikasih antibiotik untuk tiga hari harus dihabiskan tiga hari. Hal ini untuk memastikan konsentrasi obat di dalam tubuh cukup untuk membunuh bakteri yang menginfeksi,” tutur Anggi.

“Kalau baru satu hari sudah berhenti, konsentrasi antibiotik dalam darah akan menurun padahal belum semua bakteri yang menginfeksi mati. Masih ada bakteri yang masih hidup dan bisa menyebabkan infeksi yang sama, selain itu bakteri yang masih hidup ini akan menggandakan dirinya. Pada saat itu ada kemungkinan terjadi mutasi yang menyebabkan bakteri bertahan karena dapat menyesuaikan diri dengan kondisi antibiotik yang rendah dalam darah. Keadaan ini menyebabkan bakteri resisten terhadap antibiotik yang sama,” kata Anggi.

Pada umumnya kita mengenal antibiotik sebagai obat kimia untuk mengatasi penyakit infeksi bakteri. Namun pada saat kita flu acap kali dokter memberikan antibiotik. “Antibiotik berasal dari berbagai sumber seperti mikroba, bakteri, jamur atau dari tanaman. Misalnya antibiotik dari bakteri, untuk bisa bertahan hidup dan memenangkan kompetisi biasanya bakteri akan menghasilkan senyawa kimia yang bisa membuat dirinya lebih kuat. Senyawa kimia inilah yang dimanfaatkan untuk antibiotik. Secara konvensional senyawa kimia diekstraksi langsung, dengan cara memperbanyak bakteri penghasil antibiotik dan diisolasi senyawa kimianya, atau senyawa kimia yang diperoleh dimodifikasi lagi, “ terang Anggi.

Anggi bersama tim tengah mencari sumber antibiotik dari bakteri laut. “Hewan tak bertulang belakang seperti spons, bersimbiosis dengan bakteri atau spons sendiri. Supaya bisa bertahan dengan kehidupan di laut mereka mengeluarkan senyawa-senyawa kimia. Senyawa kimia tersebut tidak hanya digunakan untuk antibiotik saja, tetapi bisa digunakan untuk anti kanker, anti jamur atau dikembangkan untuk obat anti hipertensi. Senyawa kimia di alam atau di laut, akan membuat hewan tersebut bertahan hidup. Tetapi jika hewan-hewan tersebut dipindahkan di laboratorium harus divariasikan media tumbuhnya,” rincinya.

“Nutrisi yang diberikan berbeda dari yang di alam, sehingga senyawa kimia yang dihasilkan bisa berbeda dengan yang di alam. Ini bisa menjadi salah satu proses untuk mencari antibiotik baru. Karena dengan memvariasikan kondisi hidupnya mungkin bisa ditemukan senyawa kimia yang lebih ampuh. Misalnya yang tadinya hanya bisa membunuh satu bakteri sekarang bisa lebih dari satu bakteri,” urai Anggi.

Anggi suka bekerja di laboratorium sejak kuliah S1 dan mulai tertarik dengan mikrobiologi setelah masuk LIPI tahun 2005.  Saat itu langsung bergabung dalam laboratorium Bioprospeksi untuk mencari senyawa baru mikroba endofit. Mikroba yang hidup dalam jaringan tanaman yang menghasilkan senyawa kimia yang membantu bakteri dan tanaman bertahan hidup. Pada waktu kuliah S3 Anggi mulai tertarik mendalami antibiotik dan pengembangan obat baru.

“Pernahkah mengonsumsi antibiotik tanpa menggunakan resep dokter? Jika iya, sebaiknya hal tersebut tidak dilakukan lagi karena penggunaan antibiotik yang sembarangan dapat berdampak buruk bagi kesehatan kita di masa depan,” jelas Anggi.

Lebih jauh Anggi menerangkan, antibiotik adalah golongan obat resep untuk mengatasi infeksi bakteri yang tidak semestinya dapat dibeli secara bebas.  “Secara teori antibiotik itu racun. Pada dosis rendah aman untuk tubuh, tetapi jika terlalu sering minum antibiotik tidak baik untuk kesehatan tubuh. Antibiotik bisa membunuh mikroba penting yang dibutuhkan tubuh. Antibiotik yang ditargetkan untuk membunuh bakteri patogen tidak berarti tidak membunuh bakteri lain. Dalam jangka panjang akan membahayakan kesehatan tubuh karena bisa menyebabkan munculnya penyakit lain, “ ucap Anggi.

Anggi melihat pengembangan antibiotik banyak tantangannya tetapi sangat diperlukan. Antibiotik berperan banyak di dunia tapi perusahaan yang berkecimpung di sini sedikit karena dari sisi bisnis belum tentu menguntungkan bagi industri farmasi. Proses membuat obat antibiotik jenis baru tidak mudah dan membutuhkan waktu yang lama. Perusahaan obat lebih tertarik mengembangkan obat lain. Dari sejak ekstraknya ditemukan diperkirakan membutuhkan waktu 10 sampai 15 tahun bahkan 20 tahun. Namun pada akhirnya harus terjangkau dan dijaga penggunaannya. Anggi juga merasa tertantang bagaimana memastikan dunia ini masih memiliki stok antibiotik yang efektif dan antibiotik yang ada terjaga jangan sampai usang atau habis. Hal  ini membuat Anggi tertarik untuk mendalami mikrobiologi dan perkembangan antibiotik. (ew ed sl)

Share.

About Author

Leave A Reply