Peran BRIN dalam Penelitian Hewan

Pinterest LinkedIn Tumblr +
image_pdfimage_print

Cibinong, Humas BRIN. Sejak terbentuk pada tanggal 1 Oktober 2021, Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) sebagai lembaga riset memiliki tujuan strategis untuk melakukan peningkatan produktivitas invensi dan inovasi untuk memperkuat transformasi ekonomi yang kompetitif dan berkelanjutan. “Salah satu fokus BRIN adalah menjadi penyedia rekomendasi kebijakan (nasional, sektoral) berdasarkan penelitian dan kajian ilmiah di bidang terkait,” ungkap Ratih Asmana Ningrum selaku Kepala Kantor Pusat Riset Bioteknologi pada webinar International Conference for Suistainable Animal Resource and Environment 2021 pada Rabu (10/11).

Ratih menjelaskan untuk penelitian hewan, telah banyak dilakukan di organisasi riset Ilmu Pengetahuan Hayati yang memiliki tugas melakukan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan, serta penemuan dan inovasi di bidang ilmu hayati. Kegiatan riset secara teknis terdapat pada pusat riset BRIN diantaranya Pusat Riset (PR) Biologi, PR Eijkman-Biologi Molekuler, PR  Bioteknologi, PR Biomaterial dan PR  Konservasi Tumbuhan Kebun Raya.

BRIN memiliki peran aktif dalam mendukung kemajuan ilmu dan riset hewan, salah satunya melalui rumah program hasil pengungkapan dan pemanfaatan biodiversitas nusantara. “Terdapat lima struktur rincian kerja (Work Breakdown Structure/WBS). WBS pertama adalah pengungkapan keanekaragaman hayati Indonesia (hewan, tumbuhan dan mikroorganisme) dengan output 50 spesies baru, 10.000 koleksi, publikasi nasional dan internasional, serta database. Hal ini sebagai upaya untuk menyediakan data dan informasi keanekaragaman hayati yang akurat dan up to date,” jelas Ratih

“Untuk WBS kedua BRIN akan fokus pada aktivitas Sekuensing Genom Utuh dan sebagian DNA/Sekuens Protein Spesimen/Budaya Keanekaragaman Hayati Indonesia dengan output 10,000 DNA/Protein data sequencing dan 10 Whole Genom Sequencing (WGS) type specimens/ endemic species/ new species/ functional species,” imbuhnya.

Selanjutnya WBS ketiga difokuskan pada pemanfaatan keanekaragaman hayati. Hal ini menjadi upaya solusi untuk pengembangan bioprospeksi dan peningkatan produk inovasi Indonesia. Harapannya akan meningkatkan nilai tambah keanekaragaman hayati bagi industri kesehatan, lingkungan dan pertanian: 100 sumber hayati unggul (bioprospection).

“Untuk WBS keempat fokus pada identifikasi dampak lingkungan terhadap ekofisiologi, populasi dan status keanekaragaman hayati Indonesia. Sedangkan WBS kelima difokuskan pada upaya  rehabilitasi/peningkatan populasi spesies terancam punah dan biologi eksperimental,” ungkap Ratih melengkapi.

“Khusus WBS kelima output yang diharapkan adalah teknologi dalam negeri dan pemanfaatan satwa liar untuk meningkatkan nilai tambah keanekaragaman hayati Indonesia melalu ketersediaan teknologi pelestarian spesies langka terpilih, ketersediaan model penangkaran untuk spesies langka terpilih, dan koleksi biobank plasma nutfah satwa liar Indonesia sebagai untuk upaya penyelamatan dari kepunahan,” imbuh Ratih.

Selain program, BRIN juga berperan aktif dalam membangun fasilitas riset yang diperlukan dalam penelitian hewan, diantaranya laboratorium BSL-2, BSL-3 dan ABSL-3 tersertifikasi, laboratorium genomik, gedung koleksi biodiversitas, dan penambahan laboratorium ABSL-3 untuk hewan kera.

BRIN juga mendorong mobilitas peneliti dan kolaborasi seluas-luasnya dan pemanfaatan fasilitas bersama melalui kolaborasi. BRIN juga membuat program manajemen talenta. “Mahasiswa dapat berperan menjadi asisten riset dan memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi. Dosen atau peneliti juga dapat menjadi visiting researcher atau visiting professor untuk mendorong kemajuan riset dan inovasi, termasuk riset dan inovasi di bidang ilmu hewan,” ungkap Ratih.

Ratih juga menambahkan, saat ini PR Bioteknologi telah melakukan riset dan inovasi bioteknologi ternak secara modern. “Khusus untuk fokus riset bioteknologi hewan meliputi riset genetik, reproduksi, nutrisi,kesehatan hewan , dan pasca panen dalam upaya untuk menghasilkan jenis sapi unggul,” tutur Ratih. Sebagai informasi sejak tahun 2005-2019 riset Bioteknologi telah berhasil memperoleh satu ras sapi lokal Indonesia yang awalnya spesies Bos indicus.  Sapi tersebut diberi nama Sumba Ongole yang beradaptasi dengan baik di Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Selain itu juga telah dihasilkan pakan dengan probiotik untuk meningkatkan produktivitas ternak (sa).

Share.

About Author

Leave A Reply