Dukungan Pusat Riset Bioteknologi BRIN terhadap Program Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka

Pinterest LinkedIn Tumblr +
image_pdfimage_print

Cibinong. Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merupakan badan riset yang menggabungkan beberapa badan riset lain yang ada di Indonesia yaitu BPPT, BATAN, LAPAN, LIPI dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.  “Salah satu struktur organisasi riset BRIN adalah Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Hayati (OR IPH) yang memiliki tugas menyelenggarakan teknis penelitian, pengembangan dan penerapan (litbangjirap) serta invensi dan inovasi di bidang ilmu pengetahuan hayati. OR IPH sendiri memiliki lima pusat riset yakni Pusat Riset Biologi Eijkman, Pusat Riset Biologi, Pusat Riset Bioteknologi, Pusat Riset Biomaterial dan Pusat Riset Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya,” jelas Dr. Ratih Asmana Ningrung pada acara The 7th Indonesian Biotechnology Conference 2021: “Strengthening Indonesian Biotechnology Industry: Advancing Biotech Start-up” Rabu (17/11) secara online.

Acara ini berlangsung selama tiga hari Senin-Rabu, 15-17 November 2021 membahas topik  Keanekaragaman Hayati, Ekologi dan Ilmu Lingkungan, Bioteknologi Pertanian, Bioteknologi Pangan, Biorefinery (bahan kimia berbasis bio, bioenergi, bioproses, air limbah perawatan), Bioprospecting (produk alami, biomaterial), Produk Biologi Kesehatan (obat, vaksin, biosimilar), Bioinformatika dan Bioindustri dan Bioekonomi.

Pada hari ketiga, IBC-7 2021 mengadakan  talkshow menarik tentang info terkini dan masa depan perusahaan start-up Bioteknologi di Indonesia dan informasi tentang “Program Merdeka Belajar, Kampus Merdeka.”

“Indonesia merupakan negara megabiodiversitas. Salah satu ilmu yang memanfaatkan biodiversitas adalah bioteknologi. Bioteknologi diharapkan menjadi solusi permasalahan yang ada. Dengan tantangan yang ada penguasaan bioteknologi  menjadi suatu keharusan. Visi Pusat Riset (Pusris) Bioteknologi adalah menjadi lembaga berkelas dunia dalam penelitian, pengembangan dan pemanfaatan bioteknologi modern. Pusris Bioteknologi memiliki fokus kegiatan bioteknologi kesehatan, bioteknologi pangan, bioteknologi industri,” ujar Ratih.

“Di Pusris Bioteknologi banyak kegiatan yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa. Bioteknologi kesehatan di Pusris Bioteknologi fokus pada dua hal yaitu obat modern asli Indonesia dan produk biologi atau biofarmasetik. Obat modern asli Indonesia yang pernah dilakukan adalah kandidat imunomodulator produk herbal dalam penanganan Covid-19, saat ini uji klinisnya sudah selesai,” ucap Ratih.

“Untuk obat modern asli Indonesia lainnya kita punya Rumah Program untuk obat berbasis  herbal berstandar dan fitofarmaka. Kita ingin menaikkan level  jamu menjadi obat herbal terstandar dan fitofarmaka. Selain itu mengerjakan imunomodulator untuk penanganan Covid-19 dan pencarian bahan baku obat aktif  dari sumber daya alam Indonesia,” tambahnya.

Pemanfaatan biodiversitas Indonesia tidak terbatas pemanfaatan ekstrak tumbuhan tetapi juga dari hewan dan mikroorganisme. “Untuk obat berbasis biologi, Pusris Bioteknologi mengembangkan vaksin rekombinan human papiloma virus, pengembangan biosimilar insulin, dan kegiatan SARS-CoV-2 seperti pengembangan vaksin, deteksi molekuler, kultur virus, whole genome sequencing. Dimasa pandemi ini kegiatan bioteknologi kesehatan merupakan ujung tombak riset. Sehingga kita dapat mengetahui tipe-tipe virus SARS-Cov-2  yang ada di Indonesia dengan whole genome sequencing,”paparnya.

“Untuk Bioteknologi Pangan sesuai dengan kompetensi inti,  fokus pada rekayasa tanaman transgenik. Padi  dan kedelai dengan kandungan nutrisi yang lebih tinggi, padi yang tahan cekaman yang sangat penting karena kita sedang menghadapi perubahan iklim.  Termasuk juga ubi kayu yang kaya beta karoten dan memiliki umur simpan lebih lama,” terang Ratih

“Kami juga memiliki kegiatan yang berfokus pada ternak, seperti genetika ternak, reproduksi ternak , nutrisi ternak, kesehatan ternak, teknologi paska panen. Kami sudah menghasilkan sapi sumba unggul yang telah teregistrasi, menghasilkan pakan berbasis probiotik untuk menunjang kesehatan ternak,” tambah Ratih.

Lebih lanjut dalam penjelasannya disebutkan untuk melakukan MBKM perlu diperhatikan fasilitas riset. Di Cibinong Science Center ada fasilitas riset yang bisa dipergunakan antara lain BSL-3 yang menjadi ujung tombak riset Covid-19 dan merupakan laboratorium tersertifikasi. Selain itu ada BSL-2 untuk pemeriksaan Covid-19 secara rutin. Saat ini sedang dibangun gedung genomic  untuk riset berbasis molekuler. Pada saat pandemi baru disadari bahwa fasilitas riset tidak cukup banyak di Indonesia, karena itu BRIN berkomitmen menambah fasiltas riset strategis yang diperlukan untuk kemajuan riset.  Salah satunya  Current Good Manufacturing Practice (CGMP) dan Animal BSL-3 Macaca.

“Salah satu target BRIN adalah menjadi  pengungkit ekosistem  riset dan inovasi. Memiliki platform pengembangan manajemen talenta. BRIN sendiri mendukung semenjak masih menjadi siswa dengan mengadakan kompetisi sains yang dibimbing oleh peneliti BRIN untuk menumbuhkan minat riset. Di MBK, BRIN membuka riset internship, semua program dan fasilitas riset bisa diakses oleh mahasiswa yang terdaftar di program MBKM BRIN. Selain itu BRIN menyediakan sistem riset asisten dengan menyediakan infrastruktur, pembimbing kedua, supervisor, dan pendanaan riset kalau sejalan dengan riset yang dikembangkan di BRIN,” ungkap Ratih.

“Mahasiswa S1 yang berprestasi bisa dipromosikan untuk mendapatkan beasiswa S2  dan by Research demikian pula dengan mahasiswa S2. Untuk kolaborasi global, BRIN bisa melakukan pertukaran peneliti  baik itu sebagai visiting researcher, atau visiting professor yang akan mendapatkan pendanaan riset, insentif non degree untuk pelatihan dan kolaborasi global untuk mendapatkan pendanaan riset. MBKM di BRIN melibatkan pusat riset di BRIN. Durasinya 1 semester 25 minggu sudah dimulai tahun 2021 dan selesai Februari 2022 berupa magang, praktek kerja dan penelitian atau riset,” rincinya.

“Program riset asisten saat ini BRIN lebih fokus mencari mahasiswa sebagai riset asisten untuk mahasiswa S1, S2 dan S3 yang tugasnya membantu penelitian untuk mendukung output penelitian dan penguatan inovasi nasional. Ada beberapa skema menjadi riset asisten, bisa menjadi pembantu penelitian, pembantu teknis penelitian, dan operator alat,” pungkas Ratih. (ew ed sl).

Share.

About Author

Leave A Reply