Kembangkan Varietas Unggul Ubi Kayu melalui Teknologi Genome Editing, Periset Pusat Riset Bioteknologi BRIN Gandeng Periset Liverpool John Moores University

Pinterest LinkedIn Tumblr +
image_pdfimage_print

Cibinong, Humas BRIN. Ubi kayu atau singkong merupakan komoditas multi fungsi yang sangat strategis untuk terus dikembangkan dengan serius sebagai bahan pangan, pakan maupun bahan baku berbagai industri tanah air. Namun dalam pemanfaatannya terdapat salah satu kendala utama, yakni sifat umbi yang cepat busuk setelah panen sehingga umbi harus segera diproses atau akan busuk terbuang.

Untuk mengatasi masalah pembusukan umbi ubi kayu setelah panen ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Bioteknologi telah melakukan kerja sama dengan University of Bath, Inggris pada tahun 2013-2017. Melalui program beasiswa RISET-Pro Kemenristek/BRIN tersebut, Periset Ubi Kayu Pusat Riset Bioteknologi BRIN, Dr. Ahmad Fathoni telah berhasil memodifikasi secara genetik tanaman ubi kayu sehingga dapat menunda pembusukan umbi ubi kayu setelah panen. Tanaman hasil rekayasa genetik tersebut saat ini ada di Pusat Riset Bioteknologi BRIN dan selanjutnya perlu dilakukan uji lapang di Indonesia.

“Hasil yang kami peroleh sebelumnya merupakan hasil studi di rumah kaca saat saya studi S3 di University of Bath, Inggris. PR kami saat ini setelah dapat beberapa kandidat ubi kayu hasil rekayasa genetik adalah melakukan uji lapang terbatas. Hal ini penting untuk melihat performance tanaman hasil rekayasa di lahan  dan memvalidasi apakah hasilnya sama dengan yang kami peroleh di rumah kaca. Target saya semoga studi di lahan uji terbatas dapat dilakukan pada periode waktu 2022-2023 sambil mencari pendanaan risetnya,” terang Fathoni, pada Selasa (04/01).

Selain riset yang telah dihasilkan tersebut, Ahmad Fathoni yang kembali aktif setelah menyelesaikan studi S3 nya pada awal tahun 2018 silam, melanjutkan kerja samanya dengan periset Liverpool John Moores University, Inggris.

Fathoni menjelaskan bahwa sejak 2021 kemarin dirinya berhasil mendapatkan dana eksternal dengan menggandeng koleganya Dr. Baoixu Qi dari Faculty of Science, Liverpool John Moores University. Keduanya bekerja sama merakit varietas unggul baru ubi kayu menggunakan teknologi rekayasa terkini yaitu genome editing.

“Grant yang saya peroleh sebenarnya pendanaan fellowship dari Liverpool John Moores University melalui skema Global Challenges Research Fund (GCRF) untuk training tentang genome editing ke Liverpool pada bulan Juni 2020 silam. Namun karena pandemic maka ada perubahan kebijakan. Jadinya di Liverpool, mereka merakit konstruk gen untuk genome editing dan di BRIN kami menyiapkan material genetik berupa kalus embryogenik dari beberapa genotip/varietas lokal Indonesia dengan dana dari mereka. Konstruk genome editing sudah kami dapatkan dan target tahun 2022 melakukan transformasi genetik jika kalus embryogeniknya sudah diperoleh,” papar Fathoni.

Dirinya berharap kedua rencana riset tentang uji lapang dan genome editing ubi kayu tersebut dapat berlanjut di tahun 2022 sambil mencari pendanaan risetnya. “Saat ini saya memiliki bimbingan mahasiswa S3 dari IPB sebanyak 3 orang dan 2 diantaranya mulai saya arahkan untuk riset studi tanaman hasil rekayasa di lahan uji terbatas dan satunya lagi riset genome editing ubi kayu ini,” ungkapnya.

“Jika ini berhasil, kami ingin mengembangkan lagi riset dan kerja sama ke arah perakitan ubi kayu yang memiliki umur panen pendek (6-7 bulan) dan adaptif terhadap climate change, terutama kekeringan sehingga dapat dimanfaatkan di lahan-lahan marjinal,” pungkas Fathoni. (SL)

Share.

About Author

Leave A Reply