Masteria, Peneliti Pusat Riset Bioteknologi BRIN Teliti Senyawa Anti Kanker

Pinterest LinkedIn Tumblr +
image_pdfimage_print

Cibinong, Humas BRIN. Indonesia merupakan salah satu negara maritim dengan wilayah perairan yang membentang luas dan dikelilingi oleh kepulauan terbesar di dunia. Namun demikian, kekayaan alam bawah laut negara kita belum banyak yang terungkap semua.

Sebagai negara yang memiliki potensi kelautan terbesar di dunia dan memiliki lebih dari 16.056 pulau dengan garis pantai terpanjang yakni lebih dari 99.000 km (data Badan Informasi Geospasial) dan perbatasan maritim dengan 10 negara yaitu dengan India (Landas Kontinen), Thailand (Landas Kontinen), Singapura (sebagian Laut Wilayah), Malaysia (sebagian Laut Wilayah, Landas Kontinen) membuktikan daya tarik yang besar dan strategis dari letak Nagara Indonesia dengan segala potensinya.

Potensi ini dilirik oleh peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang saat ini bertugas di Pusat Riset Bioteknologi dengan kepakaran riset dalam pengembangan herbal medicine dan drug discovery. Peneliti yang bernama lengkap Dr. Masteria Yunovilsa Putra ini melakukan penelitian terhadap salah satu organisme laut.

Sekilas Tentang Masteria

Peneliti Madya pada Pusat Riset Bioteknologi, Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Hayati BRIN ini menjadi Koordinator Perencanaan dan Program Penelitian di Pusat Riset Bioteknologi dan Koordinator Konsorsium Prioritas Riset Nasional Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka. Selain itu ia menduduki Koordinator Kelompok Penelitian Drug Discovery and Development di Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Masteria, begitu panggilan sehari-harinya berkontribusi dalam penanganan Covid-19 dengan melakukan uji klinik herbal imunomodulator yang berbasis biodiversitas asli Indonesia yaitu jahe merah, meniran, sambiloto dan sembung. Penelitian dan uji klinik ini merupakan yang pertama kali dilakukan di Indonesia karena belum ada satupun tanaman herbal asli Indonesia digunakan untuk penanganan Covid-19, khususnya sebagai imunomodulator untuk peningkatan sistem imun.

Berkat peran aktifnya sebagai Koordinator Uji Klinik dalam penanganan Covid-19 dalam bentuk pengembangan herbal imunomodulator pemerintah Indonesia memberikan penghargaan Satyalancana Wira Karya pada tahun 2021. Tidak berhenti di situ sosok peneliti yang inspiratif ini masuk ke dalam kategori 10 besar Kandidat “The Future Leader ASN” dalam ajang Anugerah ASN 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

Penelitian senyawa anti kanker/sitotoksik

“Indonesia mempunyai biodiversitas laut yang besar tetapi riset tentang marine natural products khususnya untuk pencarian bahan baku obat/senyawa dari organisme laut Indonesia belum banyak diteliti dan dieksplorasi oleh para peneliti/dosen di Indonesia. Selain itu, umumnya organisme bersifat sitotoksik sehingga mempunya potensi yang sangat besar dikembangkan menjadi obat anti kanker”, tutur Masteria ketika ditanya apa yang menjadi latar belakang dilakukan penelitian senyawa anti kanker/sitotoksik ini.

Selain potensi anti kanker, senyawa yang pernah diisolasi dari organisme laut Indonesia seperti spons, teripang, karang lunak/soft corals juga mempunyai potensi sebagai antiinflammasi, antibiotik dan antiviral. Salah satu penghasil utama senyawa sitotoksik adalah spons. Dari tahun 2001 hingga 2010, spons laut Indonesia menempati posisi kedua di antara 61 negara penghasil metabolit khusus terbanyak setelah Jepang.

Tertuang dalam penelitian tersebut bahwa spons laut Indonesia adalah sumber senyawa bioaktif yang sangat baik, terutama dengan aktivitas sitotoksik. Sitotoksik telah muncul dari senyawa baru dan senyawa bioaktif yang telah dikenal sebelumnya sebagai agen antibakteri, antijamur, dan anti-HIV yang kuat.

Dalam proses penelitiannya Masteria berkolaborasi dengan berbagai pihak baik dalam dan luar negeri, salah satu kolaborasi utamanya Pharma Mar, S.A Spaina yaitu salah satu pioneer di dunia untuk riset obat anti kanker dari organisme laut. Disamping itu ada hambatan dalam melakukan penelitian ini antara lain keterlambatan bahan kimia yang terkadang terkendala oleh regulasi.

Setiap peneliti menginginkan hasil penelitiannya dapat bermanfaat bagi masyarakat. Begitu pun dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti muda berusia 37 tahun ini. “Diharapkan nantinya akan dihasilkan senyawa antikanker yang berasal dari organisme laut Indonesia dan kedepannya bisa menjadi obat untuk penyakit kanker dan tujuan dari penelitian ini yaitu mencari senyawa-senyawa yang berasal dari organisme laut Indonesia yang mempunyai aktivitas sebagai antikanker,” jelasnya.

Seperti tidak habis-habisnya berprestasi dan berkarya, penelitian yang dilakukan sejak tahun 2018 ini masuk ke dalam jurnal internasional dengan judul “Structure-Activity Relationships of Cytotoxic Natural Products from Indonesian Marine Sponges”. Dalam tulisan ini membahas tentang potensi senyawa-senyawa yang pernah diisolasi dari spons Indonesia dan Structure-Activity Relationship senyawa tersebut terhadap anti kanker yang berguna nantinya dalam drug design. Jurnal ini menjadi publikasi pertama tahun 2022 yang terbit di “Revista Brasileira de Farmacognosia (Q2, IF: 2.56) dan menjadi persembahan awal tahun yang indah.

“Mempunyai obat anti kanker yang berasal dari biodiversitas Indonesia menjadi harapan dari penelitian ini dan semoga selalu mendapat dukungan dari pemerintah dan menjadi perhatian BRIN,” pungkas peneliti yang menyelesaikan studi Ph.D degree in Marine Biology and Ecology di Università Politecnica delle Marche, Ancona, Italy. (yl ed sl)

Tautan publikasi penelitian terkait yang sudah terbit dapat dilihat di link springer  berikut: https://link.springer.com/article/10.1007/s43450-021-00195-w

Share.

About Author

Leave A Reply