BRIN Kembangkan Garam Farmasi dan Garam Pro-analisa

Pinterest LinkedIn Tumblr +
image_pdfimage_print

Cibinong, Humas BRIN. Secara geografis Indonesia merupakan negara yang berpotensi besar untuk memproduksi garam. Namun ironisnya dalam memenuhi kebutuhan garam untuk sektor industri masih dipenuhi produk impor. Upaya untuk mewujudkan kemandirian bangsa dan negara dalam memenuhi kebutuhannya maka salah satunya dengan cara memanfaatkan potensi dalam negeri yang tersedia.

Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional  (PRBBOOT), Organisasi Riset Kesehatan (ORK) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerjasama dengan PT. Karya Daya Syafarmasi (KDS) tengah mengembangkan garam untuk industri sesuai dengan standar garam farmasi dan garam pro-analisa.

“Diharapkan ke depannya segera ditandatangani perjanjian kerja sama lisensi penggunaan paten oleh KDS,” kata Muhammad Irfan Fakhruddin, perekayasa di PRBBOOT BRIN, pada Selasa (12/6).

Selanjutnya akan dilakukan peningkatan kapasitas produksi sesuai pasar real dengan mengembangkan fasilitas produksi oleh PT. KDS. Selanjutnya melakukan peningkatan pemanfaatan produk samping, produk pro-analisa lain, dan diversifikasi produk natrium klorida (NaCl) lainnya.

Pengertian Garam

Pengertian garam bagi masyarakat awam biasanya tertuju pada garam untuk bahan atau bumbu masakan, tapi ternyata kata tersebut memiliki jenis dan makna lain yang sering diperbincangkan pengetahuan dan pemahamannya. Kata tersebut mempunyai banyak makna tergantung maksud pada kalimatnya.

Pengertian garam dapat berkaitan dengan hal kimia misalnya reaksi asam dan basa menghasilkan garam, namun juga ada pengertian yang bersifat umum seperti garam dapur, dalam pertanian seperti pada pupuk, kesehatan dan juga dalam peribahasa.

Garam secara umum yang diartikan sebagai bahan masakan atau bumbu dapur adalah garam meja dengan unsur kimia natrium klorida dalam istilah ilmu kimia dengan sebutan NaCl. Melalui proses secara kimiawi dari garam ini mempunyai jenis lain, misalnya garam farmasi atau garam pro-analisa.

Menurut Irfan, garam adalah senyawa ionik yang terdiri dari ion positif (kation) dan ion negatif (anion), sehingga membentuk senyawa netral. Salah satu komponen garam yang umum dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari ialah NaCl.

Berdasarkan jenisnya, Irfan membagi menjadi dua kelompok besar, yakni garam konsumsi dan garam industri. “Garam konsumsi biasa digunakan untuk bumbu masak, pengawetan ikan, dan pakan ternak. Sedangkan garam industri digunakan untuk keperluan industri seperti produksi asam klorida, natrium hidroksida, natrium karbonat, natrium sulfat, aneka pangan atau obat produksi indusri, dan lain sebagainya,” ungkapnya.

“Sementara pembagian garam berdasarkan kandungan kadar NaCl dan kemurniannya, terbagi menjadi empat, pertama garam farmasi dan garam pro analisa yaitu dengan kadar NaCl-nya 99,0%. Kedua, garam industri dan aneka pangan mempunyai kadar natrium klorida lebih dari 97,0%.  Ketig,a garam konsumsi kandungan natrium kloridanya antara 94-97,0%. Keempat, garam pengawet dengan kadar NaCl kurang dari 94,0%,” rincinya

Irfan menambahkan bahwa pembagian tingkat kualitas garam juga ditentukan oleh kandungan senyawa lainnya seperti magnesium, kalsium, dan logam-logam lainnya, serta sulfat, kadar air sebagaimana tercantum dalam peraturan dan standar yang berlaku (kemenperin, 2014; SNI garam aneka pangan, 2016; SNI garam pangan konsumsi beriodium, 2016; kemenkes, 2016).

Garam Farmasi dan Garam Pro-analisa.

Tentang garam farmasi dan garam pro-analisa ternyata masih ada yang mempertanyakan seperti pada media sosial instagram belum lama ini. Untuk kejelasan tentang hal tersebut, sivitas yang bekerja di laboratorium Cibinong Science Senter (CSC) Bogor ini berpendapat bahwa garam farmasi dan garam pro-analisa merupakan jenis garam dengan tingkat kemurnian NaCl sangat tinggi serta tingkat pengotor yang sangat rendah yang diproduksi melalui beberapa tahap pemurnian seperti pengendapan bertahap dan kristalisasi bertingkat.

“Garam farmasi biasa digunakan untuk produk industri farmasi seperti obat-obatan, kosmetik, cairan dialisat, dan lain sebagainya. Garam pro-analisa biasa digunakan sebagai bahan pendukung kegiatan analisa di laboratorium” jelas Irfan.

Terkait dengan pertanyaan unsur-unsur yang terkandung dalam garam-garam tersebut, pria muda kelahiran jakarta menandaskan bahwa baik garam farmasi maupun garam pro-analisa unsurnya terdiri dari Na+ dan Cldengan kemurnian sangat tinggi.  Terkait unsur kation dan anion ia mengatakan bahwa ion-ion atau senyawa pengotor lain yang berpotensi terdapat dalam garam didegradasi melalui beberapa tahap pemurnian.

Hal ini senada dengan laman dari http://pusyantek.bppt.go.id/ menginformasikan bahwa garam farmasi merupakan garam dengan kualitas tertinggi dengan kadar Natrium Klorida lebih dari 99,5 % serta dengan kandungan pengotor seperti Kalsium (Ca) dan Magnesium (Mg) kurang dari 50 ppm, sulfat kurang dari 150 ppm serta tidak adanya logam berat lainnya.

Manfaat dan khasiat garam farmasi dalam industri farmasi  menurut laman tersebut merupakan bahan baku yang banyak digunakan. Penggunaannya antara lain sebagai bahan baku sediaan infus, produksi tablet, pelarut vaksin, sirup, oralit, cairan pencuci darah, minuman kesehatan dan lain lain. Sedangkan dalam industri kosmetika natrium klorida farmasi dipakai sebagai salah satu bahan pembuatan sabun, oralit, shampoo, infus dan cairan dialisat. (dk/ ed. sl)

Share.

About Author

Leave A Reply