BRIN Bahas Penelitian Terkini Tentang Enzim Pendegradasi Karbohidrat di Indonesia

Pinterest LinkedIn Tumblr +
image_pdfimage_print

Cibinong – Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset (PR) Mikrobiologi Terapan, Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan menyelenggarakan Webinar Series Episode 3 bertema “Recent Updates on Research of Carbohydrate Degrading Enzymes in Indonesia”,  pada Rabu (15/06).

Kepala PR Mikrobiologi Terapan BRIN, Dr. Ahmad Fathoni, M. Eng. dalam sambutannya menyatakan webinar series ini akan dijadikan wadah untuk knowledge sharing, diskusi dan kolaborasi. BRIN saat ini sangat membuka lebar kolaborasi dengan stakeholder baik riset maupun yang lainnya.

“BRIN sekarang banyak melakukan kerjasama dengan berbagai skema yang ada di BRIN yang nantinya bisa kita manfaatkan mulai dari bimbingan mahasiswa, riset asisten, post doctoral, dan visiting researcher dengan tujuan untuk memperkuat link baik itu researcher maupun institusional antara BRIN dan Universitas terutama terkait dengan enzim. Kemandirian produksi enzim adalah salah satu permasalahan di Indonesia yang harus bisa kita selesaikan bersama terkait dengan kebutuhan dan tantangan enzim saat ini dan masa depan,” jelas Fathoni.

Dirinya mengharapkan nantinya dapat berkolaborasi dan menghasilkan produk enzim yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan riset dan industri sehingga periset tidak hanya melakukan invensi tetapi juga berinovasi dan dapat dimanfaatkan oleh stake holder baik itu masyarakat maupun industri.

Dr. Eng Nanik Rahmani, Peneliti PR Mikrobiologi Terapan – BRIN mengungkapkan dalam paparannya bahwa enzim merupakan biokatalis yang mempunyai kemampuan untuk mempercepat reaksi dan manfaatnya luar biasa, dalam proses industri akan menghemat cost dan energi produksi. Aplikasinya sangat luas dalam industri pangan terdapat sekitar 158 enzim, industri pakan terdapat sekitar 64 enzim dan aplikasi teknik seperti detergen, pulp dan paper, dan sebagainya terdapat sekitar 57 enzim yang sudah dikembangkan. “Dengan aplikasi yang sangat luar biasa dan jumlah enzim yang sangat banyak membuat market demand dari pangsa enzim di dunia selalu meningkat,” ungkapnya.

Lebih lanjut Nanik menyampaikan terdapat 5500 enzim yang ada di dunia dimana 5% berasal dari mikroba yang di aplikasikan di 500 produk industri dimana nilai pangsa pasarnya di tahun 2019 sebesar $ 8,636.8 million dan diprediksi meningkat di tahun 2027 mencapai $ 14,507.6 million. Dari pangsa pasar ini 75% merupakan hydrolase dimana salah satunya adalah carbohydrase dan aplikasi tertingginya di food and beverage. “Pada  Kelompok Riset Enzim terkait Karbohidrat, Pusris Mikrobiologi Terapan sedang dikembangkan dari carbohydrase adalah xylanase, amylase, pectinase, mananase. Tahun ini terdapat 3 peneliti muda BRIN yang mengembangkan enzim pendegradasi karbohirat dari laut yaitu chitinase, agarase, alginate lyase, karagenase,” lanjutnya.

Nanik mengungkapkan enzim yang sudah dikembangkan oleh BRIN dengan menggunakan biomasa lokal dapat memproduksi enzim dengan biaya lebih murah dan dapat diaplikasikan pada kebutuhan industri di Indonesia.

Nanik juga menjelaskan apa saja hambatan yang dihadapi yaitu riset belum sepenuhnya link dengan bisnis, biaya yang besar, nilai ekonomi yang masih rendah, kemauan industri untuk mengembangkan, ketergantungan adopsi dan adaptasi teknologi dari luar masih cukup tinggi, ketergantungan bahan baku impor masih tinggi, perbedaan hasil riset dengan kebutuhan industri dan tingkat kepercayaan dunia industri terhadap pemanfaatan hasil riset masih rendah.

“Dari beberapa hambatan ini strategi yang bisa dikerjakan selama ini adalah dengan cara memanfaatkan kekayaan biodiversitas Indonesia yaitu mikroba dan biomasa, mencari novel enzim yang unik sehingga bisa berkompetisi dengan enzim impor. Harapannya kita bisa mendapatkan kerjasama dengan mitra dan apply grant riset kearah aplikasi industri,” jelas Nanik.

Sementara narasumber berikutnya Khomaini Hasan, S.Si., Ph.D. yang merupakan dosen di fakultas kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani Cimahi menjelaskan tentang “Protein Engineering and Design of Hydrolase Acting Enzymes: The Story of alpha Amylase and Haloalkane Dehalogenase”. (aa/ ed.sl)

Share.

About Author

Leave A Reply