Deteksi Molekuler Berbasis PCR HER-2 untuk Mendukung Terapi Kanker Payudara

Pinterest LinkedIn Tumblr +
image_pdfimage_print

Cibinong, Humas BRIN. Berdasarkan data tahun 2018 jumlah penderita kanker Indonesia mencapai 350 ribu orang, dengan angka kematian yang cukup tinggi yaitu sekitar 207 orang. Penderita kanker payudara wanita di Indonesia menempatan urutan pertama penyebab kematian. Kondisi ini menjadi salah satu latar belakang peneliti BRIN, Dr. Eng. Desriani, M.Si., peneliti pada Pusat Riset Rekayasa Genetika, Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menemukan metode deteksi molekuler berbasis PCR HER-2 untuk mendukung terapi kanker payudara.

“Berdasarkan teknik deteksi kanker payudara personalize cancer therapy ini harapannya pengobatan terapi kanker dapat lebih bisa tepat sasaran. Meskipun sama-sama  kasus kanker tenyata perlakuannya tidak sama, karena secara genetik antar individu berbeda-beda. Dengan adanya penemuan deteksi bio marker ini akan sangat membantu pengobatan  menjadi lebih tepat sasaran,” ujar Desriani mengawali paparannya saat menjadi salah satu narasumber pada  webinar Friday Scientific Sharing Seminar Pusat Riset Rekayasa Genetika pada Jumat (24/6).

Peneliti yang telah memiliki dua paten ini menjelaskan bahwa riset dengan molekuler profiling ini dapat dipakai sebagai terapi yang tepat. Ada beberapa biomarker baru yang dapat digunakan. Pemeriksaan biomalekur reseptor untuk kanker payudara dapat dibedakan menjadi 4 subtipe kanker, yaitu luminal A, luminal B,  tripel negatif  dan HER-2.

“Melalui deteksi i tipe kanker payudara  nantinya  dapat digunakan untuk penentuan prognosis atau perjalanan penyakit dan pemberian jenis terapi yang tepat,” ungkap Desriani.

Desriani menuturkan terdapat beberapa jenis terapi yang direkomendasikan untuk terapi tipe jenis kanker. Tipe luminar  memiliki reseptor esterogen, progeseron dan HER-2, sehingag terapi hormonal sangat sesuai. Sedangkan tipe tripel negatif tidak memilki reseptor estrogen, progesterone dan HER-2 sehingga tidak tepat dengan terapi hormonal.

“Saat ini terapi untuk subtype HER- 2yaitu dengan herseptin. Harganya cukup mahal sekitar 21 juta rupiah per ampul untuk masa pemakaian 1 bulan. Rekomendasi dan rujukan kanker dunia saat ini pemakaian dianjurkan  lebih kurang 1 tahun pemakaian,” kata Desriani.

Selain itu terdapat pula permasalahan lain yang muncul. Untuk pemeriksaan HER-2 terdapat dua metode yang lazim digunakan yaitu tes IHC (Immunohistochemistry) dan Fluorescence In Situ Hybridization (FISH). Pada prinsipnya keduany merupakan hibridisasi.

Permasalahan yang ditemukan saat ini, subtipe HER-2 tidak diderita semua pasien kanker payudara. Berdasarkan hasil penelusuran literatur, salah satu yang menyebabkan terapi yang umumnya  saat ini digunakan kurang efektif, karena adanya pemeriksaan pos – dan +. Pemeriksaan ini sangat diipengaruhi beberapa faktor, baik alat, pengalaman dan kompetensi  petugas laboratorium dan dokter serta kondisi laboratoriumnya. Jika salah membaca hasil tes tentu pasien mengalami kerugian materi.

“Oleh karena itu kami mencari alternatif ataupun metoda lain yang harapannya lebih baik dibanding metoda yang sudah ada. Metoda yang dikembangkan belakangan ini tidak bisa rutin, karena mahal, sehingga metode real time PCR menjadi pilihan kami. Harapannya bisa menjadi alternatif dan metode komplemen,” tutur Desriani.

Bagi Desriani, terdapat beberapa alasan yang melatarbelakangi penemuan metode ini.  Saat ini infrastruktur dan fasilitas BRIN sangat lengkap. Laboratorium BSL-3 LIPI memiliki alat PCR yang diperuntukkan bagi periset untuk melakukan riset dan inovasi. Secara teknis keberadaan alat ini sangat memungkinkan Desriani sebagai periset untuk mengembangan teknologi deteksi amplifikasi HER-2.

Alasan kedua, metode ini lebih obyektif, karena data yang keluar berupa angka sehingga menghindari  subyektifias dapat. Selanjutnya yang ketiga metode ini bersifat universal, bisa open system, mudah waktu pemeriksaannya, lebih cepat dan murah.

“Kesesuaian deteksi teknik real time PCR dan FISH ini sekitar 80-90 %. Prinsipnya apa yang dilakukan dengan metode ini dengan metoda FISH yaitu mengkomparasikan gen HER-2 dengan gen kontrolnya yaitu gen kalibrator dan cut off-nya kami merujuk pada asco,” ucap Desriani mengakhiri paparannya.

Dalam kesempatan yang sama,  Ratih Asmana Ningrum, selaku Kepala Pusat Riset Rekayasa Genetika BRIN sangat berharap webinar rutin yang diselenggarakan selama dua kali dalam sebulan  ini dapat menjadi wadah berbagi ilmu dan belajar bersama. “Kedepan saya berharap kegiatan ini dapat menciptakan peluang kerja sama dengan berbagai stakeholder BRIN. Berkolaborasi dalam berbagai kegiatan riset dan bersama mengajukan pendanaan riset dan kegiatan riset lainnya. Semoga ini enjadi awal kita bersama mengatasi permasalahan kesehatan dan pangan. melalui riset dan inovasi,” ucap Ratih.

Sebagai informasi webinar ini juga menghadirkan Prof.  Bambang Sugiharto,M.Agr.Sc., D.Agr.Sc dari CDAST Universitas Jember sebagai narasumber dan dimoderatori oleh Dr. Nurmalasari, M.Si., Peneliti Pusat Riset Rekayasa Genetika BRIN. (sa).

 

Share.

About Author

Leave A Reply