Capaian Penting Pusat Riset Rekayasa Genetika BRIN dalam Penelitian Kit Diagnostik Kanker Kolorektal dan Biogranola

Pinterest LinkedIn Tumblr +
image_pdfimage_print

Cibinong – Humas BRIN. Friday Scientific Sharing Seminar (FS3) merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan dua kali dalam seminggu oleh Pusat Riset Rekayasa Genetika (PR Rekgen) dan pertemuan kali ini menjadi berbeda karena dalam rangka merayakan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harteknas) ke-27. Selain FS3, PR Rekgen juga mengadakan kegiatan lain diantaranya pelatihan dan mengadakan lecture series dengan tema genome editing.

“Dalam pertemuan ini juga menghadirkan nara sumber khusus yang berasal dari PR Rekgen karena ingin menyampaikan capaian yang sudah diperoleh PR Rekgen dan diwakili oleh Dr.rer.nat. Wien Kusharyoto dan Dr. Edy Listanto untuk berbagi pengalamannya terkait riset hasil kolaborasi dengan periset dan institusi lainnya,” ungkap Dr. Ratih Asmana Ningrum saat membuka acara FS3 yang berlangsung secara virtual pada (12/8). Acara ini dipandu oleh moderator Dwi Wulandari, M. Biomed., peneliti PR Rekgen.

Dirinya menambahkan semoga dapat belajar banyak dari acara FS3, meskipun peneliti dari PR Rekgen kerap kali tidak mengetahui secara detail substansi riset dari kolega kita sendiri. “Dr. Edy melakukan penelitian kentang sedang diuji coba dan mendapat mitra PT. Hikmah Farm, dan Pak Wien dengan kit diagnostik untuk kanker kolorektal yang bekerjasama dengan PT. Pathgen Diagnostik Teknologi dan kit ini sudah dilaunching dan dilisensi oleh PT. Biofarma. Mari belajar bersama dengan metode pengembangan dan tips belajar sehingga ke depannya hasil riset kita mengikuit jejak produk tersebut,” tambahnya.

Dr.rer.nat Wien Kusharyoto menyampaikan tentang Pengembangan dan Produksi Biocolomelt DX untuk Deteksi Kanker Kolorektal. “Dalam penelitian ini kami bekerja sama dengan PT. PathGen Diagnostik Teknologi dan berawal dari hasil penelitian S3 CEO sebuah start up PT. PathGen Diasnostik Teknologi yang dilakukan di University of Nottingham Inggris dan teknologinya dibawa ke Indonesia lalu diverifikasi kembali di Indonesia dengan reagen dan peralatan di sini, kemudian dikembangkan menjadi produk Biocolomelt DX. Namun, untuk memperoleh izin edar sebagai alat kesehatan/diagnostik diperlukan partner yang dapat memproduksi kit cGMP, dalam hal ini industri terkait yaitu PT. Biofarma,” jelasnya.

  1. Pathgen Diagnostik Teknologi adalah perusahaan inovasi dengan misi untuk menyediakan diagnostik molekuler berbiaya rendah untuk kanker dan penyakit lainnya di Indonesia dan sekitarnya dan terlibat dalam pengembangan kapasitas melalui pertukaran pengetahuan dengan mitra global.

Lebih lanjut Wien menyampaikan fokus utama PT. Pathgen meliputi antara lain pengembangan perangkat deteksi molekuler kanker yang terjangkau serta capacity building dalam aplikasi teknologinya. Aktivitas usaha meliputi pengembangan kit deteksi molekuler kanker kolorektal dan paru-paru, dan diinisiasi pula digital pathology berbasis teknologi AI (ViuMe) serta proses produksi kit secara cGMP dilakukan berbasis kerja sama dengan PT. Bio Farma.

“Produk cGMP ada 3 tahap yaitu pertama validasi di laboratorium, saat itu di LIPI dan Rumah Sakit Dharmais. Tahap kedua validasi klinis diperlukan sampel yang lebih banyak dan dibandingkan dengan produk sebelumnya yang digunakan untuk deteksi kanker kolorektal. Kemudian tahap ketiga dapat diperoleh sejauh mana produk ini dapat menjadi alternatif produk yang sebelumnya ada di pasaran,” tuturnya.

“Mengapa deteksi ini diperlukan? Karena pengobatan kanker mahal, terutama di negara berkembang dan membutuhkan obat yang dilindungi paten, dan penyediaan dr dinas kesehatan tentang deteksi molekuler dan deteksi keturunan masih belum ada,” sambung Wien.

Pada kesempatan yang sama, Dr. Edy Listanto membahas tentang Perakitan Kentang Produk Rekayasa Genetika Biogranola Tahan Penyakit Hawar Daun (Phytophthora infestans). Edy mengatakan bahwa kendala introgresi gen R dari spesies liar ke kultivar budidaya yaitu Kentang budidaya (S. tuberosum) adalah tetraploid (4x) dengan jumlah keseimbangan endosperm (EBN) adalah 4 akan muncul barrier dalam persilangan karena beda ploidi atau EBN (Hanneman, 1999) dan transformasi tanaman sebagai metode yang efisien untuk mentrasnfer gen dari divergen organisme langsung ke dalam genom tanaman (Sharma et al.,2005).

“Perakitan varietas tahan terdiri dari pemuliaan lewat mutasi, pemuliaan tanaman, dan bioteknologi tanaman. Bioteknologi tanaman yaitu seleksi in vitro, marka molekuler, fusi protolas, bioteknologi modern dan akhirnya menjadi tanaman biotek,”ujarnya.

Preferensi petani terhadap varietas kentang, granola menduduki posisi paling tinggi yaitu 80% lebih besar dibandingkan dengan varietas lainnya. “Dalam penelitian kentang ini kami bekerja sama dengan berbagai pihak dalam dan luar negeri diantaranya Balai Benih Biogen, Universitas Wisconsin, Balitsa, ABSP, Cornell University, dan lainnya,” terang Edy.

Penelitian kentang ini melakukan uji efikasi di LUT Pangalengan dengan 44 HST tidak disemprot (2010-2011) dan LUT Lembang 51 HST tanpa penyemprotan (2011-2012), lalu dilakukan studi kemanan hayati berdasarkan PP. 21 tahun 2005 tentang Keamanan hayati PRG, lalu pengkajian keamanan pangan, kemanan lingkungan, studi sosio-ekonomi, dan pada akhirnya tanaman kentang biotek (D8) setelah mendapatkan aman lingkungan, dan aman pangan dapat diajukan untuk komersialisasi. “Varietas bio granola dan granola tahan penyakit hawar daun/PHD (P. infestans), mengurangi aplikasi fungisida 50% dan hasil 30 ton/ha,” pungkas Edy. (yl)

Share.

About Author

Leave A Reply