Peneliti BRIN Jelaskan Struktur dan Komposisi Komunitas Bakteri pada Rizosfer dan Akar Tanaman Hypericum

Pinterest LinkedIn Tumblr +
image_pdfimage_print

Cibinong – Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), melalui Pusat Riset Mikrobiologi Terapan (PRMT), Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan, menyelenggarakan Webinar Series Episode 8 dengan topik “Mikroba rizosfer dan akar dan interkoneksinya dengan kesehatan dan poduksi metabolit sekunder tanaman inang,” dan dimoderatori oleh Dra. Dwi Agustiyani, M. M. Eng., pada Rabu (24/08).

Koordinator Perencanaan dan Program PRMT BRIN, Dr. Ario Betha Juanssilfero, M. Sc., dalam sambutannya saat membuka webinar menyampaikan tiga poin penting yang merupakan amanah dari Kepala PRMT yang bisa diperoleh pada webinar ini yaitu poin pertama, terkait dengan isu kedaulatan pangan, “Tugas kita sebagai periset untuk mensuport hal ini, dan webinar kali ini tidak terlepas dari isu kedaulatan pangan dan kami dari PRMT tentu saja akan berkontribusi sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas yang kami miliki,”ungkapnya.

Selanjutnya Ario menyampaikan poin ke dua yaitu pengembangan riset dan inovasi terkait mikrobiologi pertanian, dan dua narasumber memiliki backgroundnya tentang mikrobiologi pertanian dan tanaman sehingga akan sangat menarik untuk disimak bersama dan diambil hal-hal positif untuk kemajuan riset dan inovasi.

Poin ketiga yaitu kolaborasi riset, “Kami selalu menggaungkan kolaborasi antar periset dan antar institusi. BRIN memiliki beberapa skema kolaborasi dengan instansi, baik itu pemerintah dalam hal ini universitas atau litbangjirap lainnya,” tambah Ario.

Narasumber pertama, Dr. rer. nat. Zahra Noviana, peneliti yang juga merupakan Ketua Kelompok Riset Mikrobioma Nutrisi Tanaman PRMT BRIN, dalam paparannya menjelaskan tentang struktur dan komposisi dari komunitas bakteri di rizosfer dan akar tanaman Hypericum.

“Saya ingin melihat interkoneksi dari 3 faktor yang sangat berkaitan antara tanaman, lingkungan, dan bakteri.  Terutama yang ingin saya lihat interaksi antara tanaman dan bakteri karena di ketahui bahwa tanaman itu memiliki efek terhadap komunitas bakteri di rizosfer dan akar dan bakteri juga punya pengaruh yang baik terhadap tanaman,” jelas Zahra.

Saya pilih tanaman Hypericum. Kenapa tanaman ini menarik? “Karena beberapa spesiesnya diketahui dapat menghasilkan metabolit sekunder yang relevan secara medis, memiliki aktivitas biologis yang cukup baik. Saya mengkomparasi antara tanaman yang memproduksi metabolit sekunder dan yang tidak memproduksinya, untuk melihat apakah ada perbedaan antara komunitas bakteri di rizosfer dan akar kedua tanaman tersebut,” paparnya.

“Tanah merupakan habitat dengan diversitas bakteri yang tinggi, dimana per gram saja bisa mengandung sekitar 1010 sel bakteri, yang tergolong ke dalam kurang lebih 50.000 spesies. Hal ini menjadikan tanah sebagai reservoirs terbesar bakteri di dunia, dan tingginya diversitas tanah ini sangat penting terutama dalam menjaga functional redundancy dari fungsi ekosistem tanah. Tingginya diversitas ini akan menjadi buffer apabila ada faktor lingkungan yang tidak diinginkan yang menyebabkan hilangnya beberapa taksa yang penting untuk fungsi ekosistem. Dengan diversitas yang tinggi, akan ada bakteri yang bisa menggantikan fungsi ekosistem dari bakteri-bakteri yang hilang,” tutur Zahra.

“Terkait tanamannya, kita tahu bahwa bakteri-bakteri di rizosfer, rizoplane, dan bakteri-bakteri yang berasosiasi langsung dan mengkolonisasi akar, beberapa diantaranya merupakan bakteri yang penting bagi tanaman dan dapat meningkatkan kesehatan dan kualitas tanaman,” tambahnya.

Zahra juga menjelaskan desain penelitiannya yaitu melihat efek tanaman yang berbeda, mengkaji faktor lingkungan yang berbeda, mengidentifikasi bakteri yang aktif dan secara paralel melakukan kultivasi, dimana diharapkan bakteri yang aktif menurut studi molekulernya bisa diperoleh juga.

Di akhir paparannya, Zahra menyampaikan bahwa efek dari spesies tanaman dan faktor lingkungan dengan pH yang berbeda, memang terlihat dalam mempengaruhi struktur dan komposisi komunitas bakteri di rizosfer dan akar tanaman Hypericum, salah satunya dilihat dari keragaman dan kelimpahan bakteri yang aktif dari tanaman tersebut.

Sementara itu, Yuniar Devi Utami D.Sc., Post-Doc yang bekerja di Hiruma Lab, University of Tokyo, sebagai narasumber kedua menjelaskan mengenai Colletotrichum tofieldiae yang menghambat efek negatif VOCs Pseudomonas pada tanaman Arabidopsis.

Dirinya menyampaikan bahwa kita bisa melihat struktur dan keragaman bakteri dengan melakukan analisis keberagaman, tetapi pada akhirnya yang menentukan apakah bakteri tersebut benar-benar berperan mempengaruhi tanaman adalah isolat yang bisa ditumbuhkan di laboratorium.

“Kita tidak hanya melakukan dengan survey genom, tetapi kita membawa bakteri tersebut ke laboratorium dan coba mempertemukan mikroba tersebut dengan tanaman dan kita lihat bagaimana interaksinya dengan inang tanaman tersebut.  Sejauh ini yang kita lihat mikroba tersebut, baik kapang atau bakteri sangat aportunis tergantung keadaan lingkungannya,dan mikroba tersebut bisa menjadi jahat, bisa menjadi baik atau bisa saja tidak berpengaruh apa-apa terhadap tanaman,” tandasnya (wt).

 

Share.

About Author

Leave A Reply